Jika Banser Bergerak Pasti Begitu Jadinya


Minggu, 1 Mei 2016 pagi hari (tidak terlalu pagi sih) sekitar pukul 08.00 saya lewat di jalan Hayam Wuruk, Mangli. Ketika itu bersama istri, hendak menghadiri sebuah acara. Saya bertanya kepada Istri, ada apa ya? Kok banyak polisi. Saat itu, beberapa polisi ngepos di persimpangan Mangli, lebih banyak lagi di sekitar New Sariutama, juga beberapa di persimpangan Kaliwates.

Pasti ada acara yang sangat penting, itu kesimpulan yang kami ambil berdua (saya bersama istri) sambil diskusi di atas motor. Pikiran saya sebelumnya adalah, itu pasti acara partai atau organisasi yang menghadirkan tokoh nasional, sehingga ada pengamanan ekstra. Kalau hanya wisuda (biasanya tempat itu juga ditempati wisuda beberapa universitas di Jember) atau acara nikahan pasti tidak sebanyak itu pengamanannya.

Beberapa Jam kemudian, ada informasi di grup WA bahwa Banser ‘Menyerbu’ Acara Hizbut Tahrir Indonesia di tempat yang dijaga tadi. Banser memang gitu, image yang terbangun di alam bawah sadar saya selalau seperti itu. Banser itu identik dengan gepuk disik urusan mburi. Nah, akhirnya memang berhasil membubarkan acara, dan tidak sampai terjadi kontak fisik dengan Massa HTI yang sudah ada di dalam gedung.

Baru hari ini (Senin, 2 Mei 2016) saya membaca koran Jawa Pos Radar Jember dan Baca postingan sosial media. Seperti dugaan saya, pasti begitu akhirnya kalau Banser nyerbu acara HTI. Hasilnya adalah:

  1. HTI pasti berkelit.
  2. Pernyataan Kepolisian pasti Normatif.
  3. Muncul (lebih tepatnya dimunculkan) image HTI terzalimi.

Pernyataan satu dan dua bisa muncul di media (cetak dan elektronik), dan upaya menempatkan HTI sebagai pihak yang terzalimi (poin ketiga) dimunculkan oleh saudara-saudara saya yang memang pro bahkan menjadi anggota, simpatisan, dan aktivis HTI.

HTI pasti berkelit, seperti yang saya baca di Koran, bahwa acara di New Sariutama adalah acara peringatan Isra Mikraj. Memang tidak ada masalah dengan hal itu, semua umat Islam memperingati itu, dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang ngaji, ada yang salawatan, ada pula yang seminar. Salah satunya HTI ini, mereka mengemas acara dalam bentuk MTU  (Muktamar Tokoh Umat). Temanya adalah tentang khilafah dan syariah. Nah tema ini bertentangan dengan NKRI.

Tetapi pernyataan pimpinan HTI di Koran mengaburkan bentuk pertentangannya. Dalam pernyataan itu, HTI mencintai NKRI bahkan akan memakmurkannya dengan cara jalan Islam. Sementara ketika disinggung tentang pancasila, di mengatakan bahwa Pancasila adalah kumpulan kalimat filosofis dan menyatakan, perlu kalimat praktis, islamlah tataran praktis pancasila. Ini logika yang cukup berbeda dengan hasil diskusi dan perbincangan dengan beberapa teman yang ter-HTI. Mungkin pernayataan di koran juga sama dengan pernyataan kepolisian: normatif.

HTI selalu mengagungkan bahwa Khilafah solusi atas keburukan negeri ini. Khilafah itu sistem negara utopis yang diangankan oleh HTI. Khilafah berarti mendudukkan islam (sesuai tafsiran mereka) untuk melaksanakan sistem negara. Sementara NKRI menjadikan Pancasil dan UUD 1945 sebagai dasar negara. Otomatis sistem khilafiyah yang diusung HTI bertentangan dengan NKRI. Ditambah lagi, aktivis HTI (memang sih sebatas teman-teman saya di kampus) lebih tegas Menolak Pancasila sebagai sistem yang togut. HTI mah emang gitu.

Sementara pernyataan kepolisian selalu normatif, untuk melindungi seluruh warga dan menjaga keamanan. Memang, harus begitu itu tugas polisi. Terlebih lagi, polisi juga harus melindungi negera ini. Harus mencegah terjadinya konflik. Nah, pemicu konflik adalah adanya perlawanan terhadap konsensus bangsa Indonesia. Wujud konsensus bangsa Indonesia adalah NKRI dan Pancasila. Lalu, dalam konteks Banser Menyerbu HTI di Jember in, siapa yang memicu konflik.

Hal yang paling saya khawatirkan (meskipun sebenarnya penting tidak penting mengkhawatirkan hal ini) adalah “perang media” dari HTI. Kekuatan media HTI itu dahsyat. Pasti Banser tidak diserang secara langsung melalui pernyataan media. Pasti memosisikan diri sebagai pihak yang teraniaya. Ini juga kelemahan Banser NU, tidak punya back up media yang kuat sehingga isu yang berkembang adalah dakwah yang diahalang-halangi.

Ah… jadi bingung sendiri. Meskipun tidak sepenuhnya setuju dengan serbuan Banser terhadap acara HTI tempo hari, saya juga tidak sepenuhnya menyalahkannya.

Mungkin akan lebih keren jika ada acara HTI, Banser NU tidak menyerbunya dengan berseragam lengkap seperti hendak tempur. Mungkin lebih baik mereka (mungkin juga saya termasuk) hadir dan ikut acara tersebut. Dengan massa yang lebih banyak. Duduk ikuti acara dan membaca salawat dengan sepenuh hati dengan bersila. Seperti yang pernah digambarkan dalam film Sang Kiai, ketika santri Jombang demo aksi damai di depan penajara tempat Mbah Hasyim Asyari diatahan Jepang.

Oh iyu, NU juga salah satu elemen yang iku membidani lahirnya Negara Keasatuan Republik Indonesia dengan UUD 1945. Bisa dimengerti juga jika anak-anaknya (Banser sebagai perwujudan anak-anak muda NU) marah ketika yang diperjuangkan oleh leluhurnya dulu diusik oleh orang-orang yang ‘baru datang’ ini.

Yuk, jadi Islam yang Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s