Jember Itu Pandhalungan Asyik!


Jember Sehat Jember Semangat

Jember Sehat Jember Semangat

Beberapa waktu yang lalu, muncul berita koran yang cukup menggelitik perasaan (untuk) untuk tidak menyebutkan menyakitkan. Salah satu calon bupati Jember mengatakan bahwa Jember sedang sakit. Wah… ini. Kalau sakit berarti tidak sehat dong. Kalau tidak sehat berarti tidak bisa berbuat apa-apa dong. Berbaring saja. Mungkin juga tinggal menunggu matinya. Ini pikiran yang muncul dalam logika saya.

Jember itu nama kabupaten. Kata benda. Jadi, ketika dikatakan sakit, maka seluruh elemen di dalamnyalah yang sakit. Termasuk saya, anda, tetangga, dan seluruh warga Jember. Jika yang ngomong itu juga orang Jember, maka dia juga termasuk dalam yang sakit tersebut. Nah kalau yang ngomong bukan orang Jember, saya yang lahir, tumbuh, dan berkembang (badannya) di Jember merasa sakit hati.

Benarkah Jember sakit? Tentu masing-masing orang memiliki pendapat yang berbeda, mungkin ada yang setuju tetapi tak sedikit pula yang menolak. Siapa yang mau dituduh sakit? Padahal keadaan sedang baik-baik saja. Mungkin memang ada beberapa ketidakberesan yang sedang terjadi, tetapi itu kan tidak bisa disebut sakit. Mungkin hanya tidak enak badan. Dan, jika hanya tidak enak badan berarti itu masalah, memang sih masalah tetapi tidak harus sefrontal itu harus menuduh dan menganggap Jember.

Saya Jember, dan saya baik-baik saja. Sakitnya saya tuh udah dulu, sekitar empat tahun yang lalu, tetapi tak lama setelah itu saya sudah move on (#curcol hehehe). Jikapun ada yang sakit di Jember ya mari diobati. Yang sakit kesehatannya kan sudah ada BPJS dari pemerintah yang memberikan layanan gratis. Jika ada yang sakit hati karena ditinggal pacar, ya segera cari ganti. Kalau ada yang sakit hati karena ditinggal nikah oleh gebetan atau pacar ya cari pacar lagi. Gitu saja.

Merasa ndak asyik juga kalau ada calon pemimpin yang mengatakan bahwa Jember ini sedang sakit. Waduh… Pemimpin kok menumbuhkan pesimisme begitu. Harusnya tunjukkan optimisme dong! Biar bisa menginspirasi. Sudah jamak diketahui bahwa pemimpin itu seharusnya mengajak, bukan sekedar membusungkan dada sendiri yang mengatakan bahwa hanya dirinya yang bisa membangun.

Sebagai orang kecil (besar se, besar badannya) yang bisanya teriak-teriak bersuara lewat tulisan yang tidak jelas ini saya punya harapan. Saya berharap Jember punya pemimpin yang juga menghargai kemampuan setiap warganya, bukan sekedar membusungkan dadanya sendiri. Pemimpin yang menumbuhkan optimisme dan semangat, bukan sekedar menjastis (bener ta tulisane iki?) bahwa Jember sakit.

Ah, embuhlah. Yang jelas orang-orang Jember itu penuh semangat. Coba tengok di pasar Tanjung, di sana roda perdagangan selalu bergerak 24 Jam, apakah ini sakit? Selalu ada anak-anak muda yang kreatif dengan segala bentuk kegiatannya, di setiap sudut kabupaten Jember. Ayo semangat! Jember itu kita!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s