Salim Kancil, Entah Mengapa Aku Merasa Dekat


Salim Pak Kancil, itu nama yang booming beberapa hari terakhir. Nama yang pertama kali kubaca di twitter melalui  www.twitter.com/muntijo  akun twitterku. Itupun melalui postingan dari seorang anggota DPR RI yang kuikuti akun twitternya. Kemudian, di grup wasap (whatsapp) ada karya desai yang masuk, yang kemudian dicetak dan dijadikan poster aksi solidaritas yang dijepret Jawa Pos dan menjadi halaman utama hari ini (29/9 2015). Di hari yang sama, pada sore hari (kemudian saya tulis tulisan ini), di grup wasap yang sama, beredar kronologis penganiayaan yang katanya dari tim advokasi. Meskipun tidak dapat diverifikasi kebenarannya, tetapi itu menjadi salah gambaran tentang kejadiannya. Entahlah mana yang benar.

Bagaimana kronologisnya? saya tidak akan menulisnya di sini. Karena sumber yang tidak percaya, dan terlalu sadis untuk dibagikan di sini. Yang jelas, berdasarkan berita koran yang saya baca, kasus ini telah menjadi kasus nasional. Bahkan Kapolri menanggapi langsung kasus ini. Saking sadisnya kronologis peristiwa.

Entah mengapa saya merasa dekat dengan korban pembunuhan ini. Salim Pak Kancil, alias Salim Kancil. Petani sekaligus aktivis penolak tambang pasir di Lumajang Selatan. Mungkin karena landasan historis dan cekokan ideologi yang ditanamkan oleh Bapak saya sejak saya kecil. Saya menjadi pembenci, pembenci kepada mereka yang menindas. Meskipun tidak secara spesifik Bapak saya menyuruh saya membenci perusahaan perkebunana yang menguasai tanah kami, dusun Mangaran dan sekitarnya. Tetapi, berdasarkan cerita kekejian, cerita perjuangan yang dilakukan oleh Bapak saya dan teman-temannya, saya menempatkan diri pada posisi sebagai pendukung pejuang hak tanah.

Salah satu teman aktivis pejuang hak milik tanah di desa saya bahkan pernah diundang oleh Najwa Shihab di Mata Najwa, Joko Tarub. Dia warga dusun Curah Kendal, tetangga dusun Mangaran (tanah air saya), di Desa Sukamakmur, Ajung Jember. Begitu mendengar dan membaca kisah Salim Kancil, saya ingat nama Joko Tarub, Masduki, Sholihin Umar, Ali, Cak Mas’ud dan aktivis pejuang hak tanah lain di dusun Mangaran. Bedanya, di tanah kami, dusun Mangaran tak ada yang sampai tewas atas perseteruan.

Siapa sebenarnya Salim Kancil, disebutkan bahwa dia aktivis tapi yang petani. Aktivis memang tidak hanya mahasiswa, toh bapak saya yang tidak pernah sekolah jika menggunakan istilah sekarang dapat disebut dengan aktivis. Mungkin ini yang merasa saya dekat dengan kisah Salim Kancil dan Pak Tosan (teman Salim Kancil yang juga dianiaya). Sebagai warga negara, saya turut berbela sungkawa. Saya merasakan apa yang dirasakan dan apa yang diperjuangkan oleh Salim Kancil dan kawan-kawannya.

Tetap Harus Berpikir Jernih

Ini adalah peristiwa besar. Meskipun tidak harus dibesar-besarkan. Pembunuhan terencana dengan penganiayaan keji, di muka umum. Mungkin atas dasar keprihatinan, ada salah satu rekan di grup wasap yang mengucapkan “akan memerahkan kembali Indonesia.” bahkan juga dengan tegas menulis akan menghidupkan kembali BTI (Barisan Tani Indonesia), underbow PKI di masa lalu. Entah ini asal ngomong atau hanya emosi sesaat ataukah memang desain besar.

Dulu (di masa Pak Harto), setiap upaya pergerakan yang dilakukan oleh rakyat kecil dalam menuntut haknya memang diidentikkan dengan PKI. Tetapi kini justru ada pihak yang ngomong begitu (seolah-olah ingin menghidupkan PKI), tentu ini bukan pilihan yang baik. Perjuangan rakyat kecil tak harus melalui PKI. Toh komunisme justru tak mengakui hak milik pribadi kan?

Memang terlalu dini jika mengaitkan ini dengan PKI, bahkan tidak berdasar. Tetapi, berdasarkan buku yang saya baca ini bisa menjadi pola gerakan ideologi besar. Tanpa mengurangi rasa hormat dan rasa duka cita atas meninggalnya Salim Kancil, saya justru berpikir ini ada desain besar di balik peristiwa ini.

Saya bertanya pada diri sendiri. Pertanyaan tentang kemungkinan desain besar. Dengan ngawur saya berpikir: jangan-jangan peristiwa ini merupakan pengalihan isu? (1); jangan-jangan ini merupakan upaya membangkitkan kembali paham komunisme? (2); jangan-jangan ini bukan pembunuhan biasa?(3). Pengalihan isu apa? banyak isu besar di Indonesia, mulai dari pilkada yang agak kacau. Kemerosotan ekonomi, dan lain sebagainya.

Bisa saja ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang menginginkan bangkitnya kembali komunisme (PKI) di Indonesia. Mendapat simpati, memunculkan semangat komunisme. Saya jadi ingat grafiti palu arit di pagar Universitas Jember bulan lalu, juga adanya grafiti komunisme di sebuah karnaval. Salahkah saya jika menghubungkannya dengan peristiwa ini.

Lalu bagaimana harus bersikap.

Sekali lagi saya turut berbela sungkawa atas kematian Salim Kancil. Jika dia tulus ikhlas memperjuangkan kebaikan alam, menjaga kelestarian alam maka tuhan menyayanginya. Jika proses penyiksaan yang dikabarkan melalui media chatting itu benar, tentu Salim Kancil hanya bisa berpasrah kepada Tuhan. Jika begitu maka dia syahid (jika muslim), maka surgalah tempatnya.

Menyikapi adanya opini tentang bangkitnya kembali PKI, mungkin ada baiknya kita membaca tulisan Gus Sholah (KH. Sholahuddin Wahid) di opini Kompas hari ini (Selasa, 29 September 2015). Bagaimana kita bersikap. Bagaimana menyikapi sikap Gus Dur yang cenderung pro-PKI dikupas oleh Gus Sholah. Terutama dari sudut pandang warga NU, yang pernah bentrok secara psikis dan fisik dengan PKI.

Entahlah…

Saya hanya bisa berdoa semoga ada Salim Kancil yang lain, petani yang mau dan berani memperjuangkan haknya. Tetapi tidak perlu bernasib sama dengannya, semoga tak terbunuh bagaimanapun itu caranya. Saya juga berharap, tak ada lagi peristiwa pembunuhan hanya karena masalah uang. Terlebih di Jember. Bumi kelahiran tercinta.

Semoga bupati Jember yang terpilih 9 Desember nanti mampu melindungi seluruh warganya. Baik yang petani maupun yang penambang. Juga tak lupa meminta kepada Tuhan, pemilik segala. Maha dari segala maha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s