Mengapa Takut pada Kata “Satu”


Bagi Anda warga Jember, atau yang kebetulan lewat di Kabupaten Jember, pasti tidak asing dengan banner sosialisasi pemilihan bupati milik KPU yang bolong. Entah apa alasannya, yang jelas baner KPU yang berbentuk spanduk banyak yang berlubang, merata di seluruh kecamatan. Lubangnya pun, rapi dan sepertinya sengaja dipotong. Meskipun saya sendiri tidak tahu pasti siapa yang melubagi spanduk tersebut. Mungkin KPU sendiri, atau pihak lain.

Sebenarnya desain gambar spanduk KPU yang berlubang itu sudah jauh-jauh hari. Meskipun kalau boleh dikatakan desainnya kurang jelas jika dibanding dengan desain spanduk dari panwaslih yang beredar belakangan. Desain KPU tersebut berisi ajakan untuk menggunakan hak pilih. Di bagian kiri spanduk (kanan pembaca) ada tulisan “Satu Suara Untuk Jember”, nah tepat di tulisan “Satu”-lah lubang itu menganga. Mungkin karena takut dianggap memihak, atau apa sajalah motifnya.

Tidak aneh memang jika ada yang berpikir demikian, suhu politik di Jember lagi hangat-hangatnya. Bahkan akan terus menghangat sampai Desember 2015 ini. Maka, tidak aneh pula jika hal sekecil itu harus dibahas. Saya menganggapnya itu sebagai phobia.

Phobia dari siapa? siapa yang phobia? saya juga tidak tahu. Yang jelas slogan pasangan cabup-cawabup nomor urut dua justru mengandung kata satu. Sejak dulu sebelum punya nomor urut, dan tetap digunakan sampai sekarang ketika sudah tau nomor urutnya dua. Slogan tersebut adalah “Jember Baru, Jember Bersatu”. Nah, yang membuat saya tidak habis pikir adalah, lha wong calon nomor dua tidak takut pake kata “satu” kenapa ada pihak lain yang takut pada kata satu. Sementara pasangan calon nomor urut satu H. Sugiarto, dan dr. Dwi justru tidak ada kata satu dalam slogannya. Slogannya cenderung terasa lebih lembut: Mewujudkan Keluarga Harmonis dan Sejahtera. Lengkap dengan sembilan programnya yang spesifik. Entahlah….

Sedikit catatan lagi:

Mengenai desain spanduk dalam pemilihan bupati dan wakil bupati Jember 2015 ini. Dari pelaksana (KPU dan Panwas), desain yang lebih baik adalah milik Panwas. Tulisannya tegas dan pilihan katanya menarik. Ndak percaya? cek saja!

Kemudian antara peserta pilbup, desain yang lebih bagus adalah milik pasangan nomor dua, dibanding nomor urut satu. Ini penilaian secara visual. Akan tetapi secara isi, pasangan nomor urut 1 lebih unggul kerena  selain memuat slogan, juga menunjukkan program konkret yang akan dijalankan, tentu masyarakat akan tahu dan dapat menagih program yang sudah diketahui. Lebih mudah mengawasi kelak jika terpilih. Sedangkan pasangan calon nomor urut dua cenderung bermain dalam slogan, tidak (atau mungkin belum punya) program konkrit untuk dipaparkan kepada masyarakat Jember.

Yang jelas, hingga saat ini (kurang dari 3 bulan waktu pemilihan), greget pilbup masih belum terasa di dusun saya. Dusun Mangaran desa Sukamkmur, kecamatan Ajung. Karena tidak ada alat peraga yang dipasang di sekita kampung saya tersebut. Maklum, yang berhak memasang APK (Alat Peraga Kampanye) hanya KPU sementara dusun saya meskipun tak terlalu jauh dari pusat kota Jember mungkin tidak dianggap penting, padahal toh Dusun Mangaran juga termasuk bagian terpenting dari Jember. duh…. desoku rek…..

2 thoughts on “Mengapa Takut pada Kata “Satu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s