Ahlun Nahdlah dalam Pilihan Bupati Jember | adakah NU?


jangan ngaku NU Tulen

ditambah atau Diklatama

Ada salah seorang teman yang mengatakan bahwa sebenarnya Mbah Hasyim Asy’ari lebih suka menyebut anggota NU sebagai Ahlun Nahdlah, daripada Nahdliyyin. Meskipun maknanya tidak beda jauh dan masih bersinggungan, tetapi Ahlun Nahdlah lebih bernuansa kemandirian, bukan sekedar pengikut. Terlepas apapun istilah yang digunakan untuk menyebut warga NU ini, yang jelas warga NU memang ada yang mengikuti ada juga yang berkehendak sendiri. Termasuk dalam pemilihan kepala daerah kabupaten Jember ini.

Dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Jember 2015 ini, secara tidak langsung warga NU baik yang kultural, struktural maupun beberapa banomnya terkelompok dalam tiga jenis. Pertama, ahlun nahdlah yang bersyukur karena NU (melaui PCNU Jember dan Kencong) tidak jadi mengusung calon melalui PKB. Kelompok ini yang mengasumsikan bahwa, NU memang harus tidak boleh berpolitik sama sekali. Kelompok ini tentu beralasan bahwa kembali ke khittah berarti haram bersinggungan dengan politik praktis.

Kedua, adalah kelompok yang apatis. Kelompok ini sebenarnya setuju jika NU berpolitik, tetapi karena tidak ada orang NU yang mencalonkan diri sebagai  calon bupati maupun wakil bupati,  kelompok ini mungkin lebih memilih golput. Ketiga, adalah orang NU yang kurang peduli terhadap NU dalam kaitannya dengan pilkada. Ingin milih ya milih, jika tidak ya tidak, bahkan sangat besar kemungkin kelompok ketiga ini yang menjadi pendukung salah satu calon bupati.

Kelompok pertama di atas tidak bisa disalahkan, meskipun tidak sepenuhnya benar. Jika NU dikebiri pemikirannya untuk tidak berpolitik sama sekali, justru orang NU dimanfaatkan oleh kelompok yang sebenarnya tidak mencintai NU.  Bukankah jumlah orang NU yang Jember ini sangat banyak, meskipun tidak pernah diketahui pasti berapa jumlahnya. Meskipun cukup disayangkan, karena dengan besarnya NU di Jember ini tetapi tidak bisa mengusung kader strukturalnya untuk bertanding sebagai pemimpin di Kabupaten Pandhalungan ini.

Ketiadaan kader NU struktural tentu bukan suatu kehinaan, toh NU bukan partai politik. NU adalah organisasi massa yang punya anggota banyak yang terhimpun dalam banom-banom (bada otonom) yang juga banyak. Mulai dari banom berbasi usia, gender, hobi, dan profesi. Jika NU mengusulkan calon yang dititipkan kepada partai politik NU tidak salah juga, karena sebenarnya NU juga punya kekuatan untuk itu.

Kemudian, dengan kondisi yang sudah terjadi sekarang ini. Bagaimana seharusnya sikap politik ahlun nahdlah yang ada di Jember?  Tentu pilihan menjadi golput adalah bukan pilihan yang patut dilakukan oleh NU. Bukankah NU bersepakat bahwa NU adalah bagian dari NKRI? NU selama ini dikenal bahkan sebagai pelopor organisasi Islam yang mengakui kemudian mendukung Pancasila sebagai ideologi negara. Sebagi pendukung NKRI tentu orang NU tidak patut golput, karena golput adalah salah satu bentuk ketidakpedulian terhadap negara. Sikap tidak peduli kepada negara ini, tentu bukan NU banget.

Berarti warga NU harus tetap berpartisipasi dalam pemilihan bupati Jember. Harus menggunakan hak pilihnya sebagai rakyat Indonesia untuk menentukan pilihan. Siapa yang harus dipilih orang NU? Faida-Mukqit, ataukah Pak Gik dokter Dwi, itu urusan masing-masing warga NU. Toh semuanya juga NU. Toh semuanya juga bukan orang NU.

Jika yang dimaksud kriteria orang NU adalah orang yang masuk struktural NU atau banomnya, maka keduanya tidak termasuk dalam keduanya, terlebih jika kriteria orang NU versi rekan-rekan di IPNU: yang ngaku NU berarti sudah makesta (masa kesetian anggota) alias kaderisasi tahap awal di IPNU.  Mungkin sahabat-sahabat GP Ansor juga akan membuat kriteria yang ngaku NU juga harus melalui tahap Diklatsar (pendidikan dan latihan dasar) Banser. Tentu kedua pasang calon tidak ada yang NU.

Tetapi, kedua calon tersebut juga bisa disebut NU, jika kriterianya adalah tahlil, salawatan, manaqiban, dan yasinan. Jika kriteria ini yang dipakai, maka kedua pasang calon juga adalah NU.  Kalau tak percaya cobalah tengok, mereka pasti pernah ikut bahkan mengadakan kegiatan semacam itu.

Pasangan Faida-Muqiet sah-sah saja ngaku NU Tulen toh , sang cawabup memang orang NU. Di antara pengurus partai pendukungnya,  PDIP, PAN, Hanura, dan Nasdem, juga ada orang-orang NU yang menjadi pimpinan dan pengurus partai tersebut. Pun begitu dengan Pak Gik-dokter Dwi, partai pendukungnya adalah PKB, Gerindra, PPP, Demokrat, Golkar, dan PKS, juga ada partai yang basis massanya, pengurus, dan pimpinannya juga orang NU. Belum lagi banom-banom NU yang juga mendukungnya, ditambah dengan orang-orang yang mendukungnya tak sedikit pula tokoh-tokoh NU di belakang keduanya.

Selain hanya melihat orang NU-nya, warga NU juga harus menelaah rekam jejak dan pengalaman selama ini. Seberapa dekat dengan NU, seberapa dekat dengan rakyat Jember, seberapa dekat dengan diri ahlun Nahdlah sekalian.

Sekali lagi pilihan ada di tangan warga NU dan warga Jember secara keseluruhan, ini adalah pemilihan yang  memberikan seluas-luasnya kesempatan bagi rakyat, bagi kita semua untuk menentukan pemimpin.  Jangan mudah termakan isu, jangan mudah diadu domba. Lihat calonnya, lihat keluarganya, lihat pendukungnya. Jangan lupa juga lihat janji-janjinya. Pantengin, pilihlah yang menurut anda jelas dan mengena dengan anda. Untuk kemudian kelak diingatkan jika lupa akan janjinya.

Selamat berjanji…

Selamat mengamati janji…

Dan, jangan lupa memilih.

Sambil tetap menjaga ukhuwah nahdliyyah, ukhuwah islamiyah, ukhuwah basariyyah. Semoga…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s