Tentang Andre


(ini baru tulisanku dewe)

Aku tidak tahu banyak tentang data pribadi Andre. Setahuku sebatas nama lengkap, rumahnya, dan panggilannya. Nama lengkapnya adalah Ahmad Andrik Irawan, dengan panggilan oleh teman-temannya yang sejak kecil adalah Ndil, berasal dari Kendil. Teman-teman orang ini banyak, baik di kampus, teman rumah, lebih-lebih teman organisasi. Setahuku teman-teman organisasi yang memanggil ndil hanya tiga orang: Kang Udin (Baharudin), Ndan Jay (Jaenal), Muklis Kenbro Bilgidis. Karena memang mereka teman sejak kecil sebelum berorganisas bahkan sebelum sekolah. Katanya sih getooo….

Rumahnya ada di Dukuh Dempok. Sering ke sana karena banyak saudara selain banyak teman, saudara dari ibu, ada mbah, bibi, dan pama. Mungkin hal inilah yang membuat kedekatan pertemanan dengan Andre. Kedekatan geografis. Selain juga faktor-faktor lain yang meliputi kedekatan ideologis (idenya sama, sama-sama suka bercanda), kedekatan sosiologis (podo wong ndeso), dan kedekatan biologis (sering metu bareng, di akhir periodenya tak jarang aku yang memboncengnya. betapa dekatnya kedekatan badan kami).

Kalau dirunut, yang mengenalkanku dengan orang aneh satu ini adalah sosok yang bernama Lukmansyah (aku memanggilnya Gus Lukman), menantu Kiai Mastur Dahlan, pengasuh Pondok Pesantren Assathoriyyah yang ada di dusun Mangaran Desa Sukamakmur Kecamatan Ajung. Beliau (Gus Lukman) adalah guru aku yang ‘mencarikan’ kesibukan untuk kami murid-muridnya. Bertemulah dengan makhluk yang bernama IPNU. Singkat cerita jadilah Aku IPNU di kecamatan Ajung. Bersama Rekan Munir (sekarang mbarengi PKPT IPNU Politeknik Jember) mencoba menjadi pengurus kecamatan. Karena gonjang-ganjing ini dan itu, di awal kuliah makhluk yang bernama IPNU Ajung punah.

Aku mewakili pengurus IPNU Ajung (yang waktu itu memang hanya tinggal seorang) mengembalikan mandat kepengurusan IPNU Ajung kepada pengurus cabang. Aku ingat betul, ketika itu kuserahkan kembali undangan konferensi cabang yang diantarkan ke rumahku kepada Rekan Faruq. Bahkan yang kuingat lagi, ketika itu rapat dengan segelintir orang di beranda depan Aula PCNU. Nah, saat itulah aku bertemu dengan Andre di ‘Tempat Calon Orang Terhormat’. Namun, tak ingat betul apa yang kami perbincangkan. Seingatku hanya, aku diminta untuk sering mampir ke kantor PCNU. Aku tak berkeberatan untuk itu.

Pertemuan selanjutnya yang kuingat di awal-awal perkenalan kami adalah ketika saya mampir di PC IPNU setelah konferensi cabang, ketika itu Andre menjadi Ketua Bidang II IPNU Jember. Ucapan Andre yang kuingat adalah “Wes nang kene ae ngewangi aku.” Aku mengyanggupi permintaan itu, dan sumbangsih terbesarku ketika itu adalah TIDAK ADA SAMA SEKALI. Hanya sesekali ikut rapat, tenpa usul, tanpa tugas yang berarti. Peran yang kulakukan (jika hal ini dapat disebut peran) ketika periode itu adalah mencoba membangun forum diskusi untuk PC IPNU, beberapa kali (seingatku hanya tiga kali) forum terbentuk dan berhasil diskusi dengan peserta yang sangat memuaskan, yaitu tak lebih dari empat orang. Dari forum kecil dan prematur itu, setidaknya saya lebih mengenal IPNU. Ketika itu yang ada adalah aku sendiri, Andre, dan Muklis, serta Kang Kholidi.

Selebihnya ‘peran’ yang kuingat selama periode Mas Munib ada dua. Pertama mengantarkan satu peserta Diklatama ke lokasi, Klungkung-Sukorambi. Kedua, mengantarkan barang ke lokasi Konfercab di Pesantren Darul Hikmah, memasang baner selamat datang konfercab bersama Komandan Lihul (alias Cak Huda) dan Arif, kemudian pulang. Selebihnya, sebagai pengurus cabang di bawah instruksi Andre aku hanya main, makan, ngampung ngeces dan ngampung ngombe di PC IPNU Jember.

Dengan peran yang sangat Gak Mbois Blas itu, anehnya dan ajaibnya, Andre mempercayakanku sebagai Ketua Bidang III. Jika diungkapkan dengan kata-kata hati dan otakku berkata begini: helloooo yang bener saja. Gue? jadi wakil ketua? sungguh bukan amanah yang mudah untuk diemban. Tetapi Andre tetap memaksaku. Dan, pada tahun pertama periode Andre ‘peran’ku tetap. Sebagai juru mudi kadang-kadang, sebagai penghabis makanan yang sering. Itu saja. Tetapi aku bersyukur, Andre juga teman-teman yang lain tidak mengudetaku yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Suwon yo Ndre.

Pengalaman organisasi di IPNU tentu sama sekali tidak pantas untuk diucapkan, tetapi dengan menjadi anak buah Andre waktu itu, akhirnya aku berkenalan dengan orang-orang hebat, ada Lufil, Najib dan Najib, Izet, Dayat, Mus, Aris, Muklis, Ana, Donat, Nailul, Ardi, Tegar, Mas Hones, Gus Afton, Mbak Erwin, Mas Harisuddin (Kiai Harisuddin), Cak Ansori. Aku banyak belajar dari Andre dan mereka semua. Aku bisa mengenal dan bersinggungan dengan mereka-mereka itu karena jadi pengurus IPNU. Aku menjadi pengurus IPNU karena Andre yang mengajak. Terlalu banyak jika harus ditulis semua. Titip juga melalui tulisan ini ucapan terima kasih kepada Najib dua-duanya dan Mas Zakariya Banyuwangi, ilmu corel lan potosope.

Belajar dari Andre

Ada teman yang menyebutku Andresentris, yang mungkin itu ada benarnya. Inisial yang menuduhku seperti ini adalah Ahmad Ainun Najib, komoditas impor dari Banyuwangi. Dia menyebut seperti itu karena selalu membandingkanku dan keadaan dengan Andre. Iyo nek anak berinisial Ahmad Ainun Najib itu, lawanku berpikir ini, banyak referensinya. Mas ini. Pak itu. Bu ini. Mbak itu. Dengan kapasitas pikir dan kerjanya, dia punya banyak teman. Lha aku? sing gelem nganggokne yo gur Andre, trus aku ate belajar nang sopo Jip? itu logika sederhananya.

Bukan berarti terlalu memuji Andre apalagi memujanya. Ini semua keterbatasanku. Setidaknya, aku telah diberi kesempatan meskipun pelaksanaan amanah yang diberikan sama sekali tidak maksimal. Pelajaran yang dapat dicontoh tetapi belum bisa kulaksanakan adalah pengorbanannya. Dalam segala hal. Bagaimana berkorban demi apa yang dicintainya.

Dulu, sebelum menjadi ketua cabang, Andre tercatat sebagai Guru Matematika. Jika dia dulu tetap mengajar sembari menjadi ketua IPNU mungkin dia sudah sertifikasi sekarang. Dapat tunjangan dan ada di posisi aman. Selain mengorbankan pekerjaan dia juga mengorbankan perasaan. Ketika harus memilih antara IPNU dan wanita yang disukainya, dia memilih mencintai keduanya, dan akhirnya terkudetalah dia dari peredaran para wanita.

Andre adalah sosok organisatoris yang (menurutku) layak dicontoh. Ketika dia tak sepaham dengan keputusan apapun di tingkat manapun, dia akan bersuara. Tetapi jika sudah menjadi keputusan bersama, maka eksekusi keputusan itu harus dilaksanakan sepenuhnya. Oposisi yang baik nih. Pikirku. Bukan berarti harus menjatuhkan.. Contohnya, Andre adalah oposan kepada PW (2 periode sebelum mas Haikal), tetapi dia selalu melaksanakan apa yang diinstruksikan oleh PW, semaksimal mungkin dalam kapasitas sebagi pengurus cabang.

Kalau uang untuk IPNU, sudah tidak terhitung lagi. Sepeda motor andalannya mungkin sudah sangat pintar. Sudah ‘disekolahkan’ berkali-kali untuk kegiatan IPNU.

Selamat untuk Andre

Di syawal ini, Andre menikah dengan Mbak Mar’atus Sholihah. Selamat kepada Mas Andre, lengkap sudah menjadi Purnawirwan IPNU. Andre sangat beruntung. Dulu ketika guyonan di awal purnatugasnya di IPNU dia mencari pendamping dengan kriteria yang sangat sulit yaitu: Iso diba’an. Semoga mbak Mar’ah menjadi vokalis andalan di Dukuh. hehehe. Mara sing genah, Ndre. Kok iso riko entuk bojo ayu koyok mbak Mar’ah iku?

Untuk mbak Mar’ah. Semoga samean sabar entuk Mas Andre. Yo ngunu kuwi wes Andre. Tetapi seperti yang kuucapkan, eh, tulis di atas. Andre itu mencintai IPNU sampai mengorbankan segala hal. Lha Andre saiki cinta nang samean, yo podo ae mestine sing dikorbano. Sembarang, yo mung kanggo riko (singing).

Selanjutnya….

Selamat, semoga menjadi keluarga yang bahagia ndunyo tumekaning khirat. Jarena rek arek SaMaWa. Sakinah, mawaddah, warahmah. Tambahi barakah. Ndang entuk kader. Inilah saatnya untuk mencetak kader IP(P)NU yang sebenarnya.

Amin!

Raiso ngado opo-opo. Yo mung iso nulis iki dadi kado. Sepurane…..

Salam hormat, salam hangat.

Muntijo, Koncomu sing rodok beres (setengahe raberes).

2 thoughts on “Tentang Andre

  1. Saya juga punya teman yang sangat amazing, yang membuat saya terpaku kepada dia dan selalu membandingkan saya dengan dia. that feels:”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s