Ujian Nasional: Lulus Bukan Surga, Gagal Bukan Neraka


Mungkin berita tentang Ujian Nasional (UN) pada tahun ini tidak akan sebanyak porsi berita UN tahun lalu. Tahun ini media massa maupun elektronik memiliki fokus yang lebih seksi untuk diberitakan daripada UN yaitu: Pemilihan Umum alias Pemilu. Ujian Nasional 2014 ditetapkan pada bulan april untuk jenjang SMA. Pada bulan yang sama, rakyat Indonesia juga punya gawe besar, untuk memilih wakilnya, yang kelak duduk di senayan.

Dengan keadaan yang demikian, bukan berarti kita tidak perlu memikirkan UN sama sekali. Penyelenggaraan UN harus tetap dikawal. Harus tetap dikritisi. Hingar bingar pemilu yang dihelat hanya lima tahun sekali memang dapat mengalahkan UN yang dilaksanakan setiap tahun. Meskipun mendapat kritik dan serangan dari para pakar pendidikan yang anti-UN. Tetapi keduanya, Pemilu dan UN, sama-sama menjadi momen penting karena menyangkut kepentingan bangsa ke depan. Pemilu menyagkut para pemimpin bangsa dan pengambil kebijakan, UN menyangkut kader muda bangsa yang kelak juga akan berdampak pada kemajuan bangsa.

Tulisan ini tidak hendak membandingkan Pemilu dan UN. Tidak juga dalam posisi menolak atau mendukung UN. Tulisan ini hanya berusaha untuk menawarkan sebuah usulan cara pandang terhadap UN untuk kita semua. Kita yang menjadi pelajar, pengajar, juga orang tua. Selama ini, sejak diadakan UN sebagai alat penentu kelulusan (juga ketidaklulusan), UN telah menjadi momok bagi siswa kelas 3 SMP/SMA dan kelas 6 SD. Bukan hanya bagi pelajar, UN juga ancaman bagi guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, dan bahkan kepala daerah.

Logikanya begini: Seorang gubernur akan merasa malu jika provinsinya menjadi provinsi terbesar angka ketidaklulusannya, jadi gubernur mengharap (memerintahkan) para bupati untuk menyukseskan UN di daerahnya. Tentu yang dimaksud dengan sukses adalah lulus seratus persen. Akhirnya bupati menginstruksikan hal serupa kepada kepala dinas pendidikannya, kadispendik kepada kepala UPTD Pendidikan dan kepala sekolah. Kepala sekolah instruksi ke guru. Guru kepada siswa. Orang tua juga akan merasa malu jika punya anak yang tidak lulus UN, maka orang tua juga menekan siswa. Siswa juga akan merasa malu jika tidak lulus UN, maka dia akan menekan diri sendiri.

Tidak hanya itu, media massa juga terlibat dalam membentuk opini bahwa UN itu keramat. Media akan membuat berita tentang siswa atau sekolah yang mendapat nilai tertinggi, baik secara nasional, regional, maupun lokal, sesuai dengan wilayah edar media masing-masing. Di samping itu media juga akan membuat berita tentang wilayah dengan prosentase ketidaklulusan terbanyak. Biasanya media juga akan menurunkan berita tentang sekolah-sekolah yang siswanya tidak lulus seratus persen. Betapa mengerikannya.

Karena telanjur salah kaprah, maka efek domino yang diakibatkan oleh cara pandang terhadap UN juga salah kaprah. Salah tetapi telanjur menjadi kaprah alias kebiasaan. Dinas pendidikan biasanya akan memberikan hadiah dan bantuan bagi sekolah/siswa yang memiliki nilai UN tertinggi, dan akan memberikan sanksi bagi sekolah yang memiliki angka kelulusan yang tinggi. Bukankah ini cara berpikir yang sok benar? Mengapa tidak mencoba berpikir dengan logika seperti ini: Sekolah yang sudah mampu meluluskan siswanya seratus persen lebih-lebih dengan nilai yang tinggi berarti sudah mampu, sedangkan yang siswanya banyak yang tidak lulus, berarti masih perlu ditingkatkan kualitasnya. Jadi, yang paling layak dibantu dan diberi dana pengembangan yang lebih besar adalah sekolah dengan angka ketidak-lulusan yang tinggi, bukan sebaliknya.

Cara pandang yang menganggap UN sebagai sesuatu yang keramat mengakibatkan efek domino berikutnya: menempuh berbagai macam cara untuk lulus seratus persen. Mulai dari penambahan jam belajar untuk mata pelajaran yang di-UN-kan di sekolah-sekolah. Melaksanakan doa bersama dalam bentuk zikir dan istigosah khusus agar bisa menghadapi UN. Memangnya UN musibah? Hingga cara yang tak senonoh alias curang, seperti membocorkan kunci jawaban dan mencontek.

Cara pandang dan tindakan negatif yang melingkupi pelaksanaan UN terpaksa dilakukan oleh siswa hingga bupati dan kepala dinas pendidikannya. Terpaksa karena sistem UN yang masih memungkinkan hal tersebut. Jadi yang salah adalah UN? Tulisan ini tidak pada maqomnya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Biarlah para pemimpin negeri dan orang-orang pintar di atas yang mengurus dan menjawabnya.

Sekali lagi perlu dijelaskan bahwa, tulisan ini hanya mengajak kita semua untuk tidak terlalu takut kepada UN tetapi juga tidak terlalu meremehkan. Untuk menghadirkan cara pandang tersebut dalam otak kita masing-masing maka perlu diutarakan beberapa alasan.

Pertama, UN itu bukan benda ajaib. UN bukan kawah candradimuka yang dengan sekejap menjadikan seorang bayi menjelma seorang ksatria tak tertandingi bernama Gatot Kaca. Kelulusan UN bukan seperti ketika memiliki kantong ajaib Doraemon yang dapat memberikan pemiliknya apa saja yang diinginkan. UN adalah sebuah proses yang harus dilewati untuk mengukur kemampuan diri secara akademis kognitif. Ingat hanya secara kognitif. Tidak lulus UN bukan berarti kiamat. Dunia kita, kehidupan kita tidak berarti berakhir ketika tidak lulus UN.

Kedua, kita perlu meyakini bahwa kepandaian tidak berbanding lurus dengan kesuksesan. Jika ukuran kesuksesan adalah kekayaan, maka orang kaya tidak harus lulus UN kan? Contoh sederhana, apakah Chris John butuh lulus UN untuk menjadi juara tinju dunia? Bukan berarti lulus UN dengan nilai baik secara otomatis seseorang akan meraih kesuksesan. Kesuksesan seseorang tidak hanya didasarkan atas pengetahuan kognitif semata.

Cara Menghadapi UN

UN sejauh ini memang masih tidak dapat dihindari. Tetap harus dihadapi tak peduli senang atau tidak, mendukung atau menolak, pro atau kontra, karena sistemnya memang begitu. Lalu bagaimana menghadapi sistem ini? Sistem juga harus dihadapi dengan sistem. Karena sangat tidak mungkin menghadapi sistem UN dengan sistem yang sama, maka mari kita bangun sistem logika dalam diri masing-masing. Jika sistem logika sudah baik, maka segala sesuatu akan berakibat baik.

Tuhan adalah pemilik segala ilmu pengetahuan. Sudah sering kita dengar bahwa jika seluruh air di muka bumi dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah, maka tinta itu masih kurang. Jadi, selain berikhtiar untuk belajar lebih giat, menambah jam belajar pelajaran UN, dan bahkan mengikuti les di lembaga bimbingan belajar, kita juga harus berdoa. Meminta kepada Allah. Doa yang paling tepat bukannya: Ya Allah luluskanlah aku saat UN. Mengapa kita tidak berdoa, Ya Allah jika kelulusanku menjadi kebaikan bagiku maka kumohon luluskanlah aku. Dan, jika ketidaklulusanku merupakan ketentuanmu untuk kebaikanku dalam bentuk lain, maka kumohon kuatkanlah aku menghadapinya.Seperti yang teah dijelaskan sebelumnya, bukankah menjadi sukses tidak harus lulus UN?

Hal yang harus dilakukan untuk menghadapi UN adalah: mengganggapnya sebagai hal yang biasa, bahkan sangat biasa. Dengan mengembangkan pemikiran seperti itu dalam diri masing-masing, khususnya pelajar, maka sesorang tidak akan terlalu susah ketika tidak lulus UN, juga tidak aka terlalu senang jika berhasil lulus. Biasa saja. Euforia kelulusan yang berlebih bisa berakibat negatif. Lihat saja bagaimana ketika masa pengumuman kelulusan SMA. Jalanan dipenuhi konvoi pelajar dengan seragam penuh coretan. Bahkan ada yang membuka seragam. Melanggar lalu lintas. Tak jarang pula diberitakan ada pelajar yang pesta miras untuk merayakan kelulusan. Jika UN dianggap hal biasa, tidak akan mungkin dirayakan dengan cara yang ekstrim begitu.

Cara yang paling tepat untuk menganggap UN merupakan sesuatu yang biasa adalah: Berpikir bahwa UN bukan akhir melainkah sebuah permulaan. Bagi pelajar SMA dan sederajat, UN merupakan pintu masuk untuk menghadapi dunia baru, kerja ataukah kuliah. Jika kerja harus bekerja apa jika kuliah harus kuliah di mana. Bagi pelajar SMP dan sederajat, UN merupakan awal menghadapi masa baru, mau SMA ke mana, harus dipikirkan juga tes masuk dan biayanya.

Jadi, mari sukseskan UN, sesuai tugas dan jabatan masing-masing. Sukses UN bukan berarti dan bukan hanya masalah lulus seratus persen. Sukses UN dan UN yang sukses adalah UN yang mampu dilaksanakan dengan tertib (baik tahap pelaksanaan maupun saat pengumuman hasilnya), dan yang terpenting adalah mampu mencetak kader bangsa yang jujur, berkualitas, dan berintegritas. Bukan hanya masalah deretan angka dan nilai, tetapi juga nilai luhur bangsa yang didasarkan pada agama dan kebudayaan. Anggap saja UN itu seperti Partai Politik, tidak ada hubungannya dengan surga atau neraka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s