Menjaga Tradisionalitas Permainan Tradisional


Sudah tidak sedikit (meskipun belum bisa dikatakan banyak) pihak yang peduli terhadap eksistensi permainan tradisional. Hal ini dibuktikan dengan adanya komunitas yang memiliki perhatian dan berupaya melestarikan permainan tradisional. Tidak hanya kelompok atau komunitas, pemerintah melalui dinas terkait juga berupaya melestarikan permainan tradisional dengan memasukkannya dalam acara besar maupun membuat acara khusus lomba permainan tradisional. Lembaga pendidikan tinggi, (salah satunya Universitas Jember) juga berupaya melestarikan permaian tradisional dengan menyelenggarakan festival permainan tradisional.

Upaya-upaya tersebut patut mendapat apresiasi dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat mengingat permainan tradisional merupakan warisan kekayaan budaya nusantara. Sebagai warisan budaya sudah barang tentu memiliki kelebihan dan fungsi yang strategis. Dalam bidang ekonomi dapat dijadikan objek wisata budaya yang dapat menarik wisatawan. Dalam segi pendidikan dapat dijadikan media pendidikan karakter bangsa Indonesia yang luhur. Sayangnya fungsi tersebut masih belum tergarap secara maksimal. Hendaknya di samping upaya mempertahankan keberadaan permainan tradisional juga harus tetap diupayakan agar nilai luhur yang terkandung dalam permainan tradisional juga tidak luntur.

Permainan tradisional memang sangat beragam serta memiliki nilai yang beragam pula, ada yang dimainkan antar-kelompok, maupun antar-individu. Ada permainan tradisional yang dapat dimainkan dengan sistem kompetisi maupun hanya dapat dijadikan dalam sistem festival. Salah satu contoh permainan yang dapat dimainkan dalam sistem kompetisi misalnya sodoran (gobag sodor), kasti, maupun pentengan. Sedangkan yang hanya dapat ditampilkan dalam bentuk festival misalnya egrang, holahop, dan gedrek (engkle).

Masing-masing jenis dan contoh permainan tradisional di atas memiliki nilai luhur dan manfaat masing-masing. Contohnya permainan beregu (sodoran dan kasti) melatih kekompakan dan pembagian tugas antar-anggota tim. Sedangkan permaian egrang dan holahop lebih menekankan kemampuan motorik masing-masing individu. Akan tetapi seluruh jenis permainan tradisional memiliki ciri yang sama, yaitu tidak adanya wasit maupun juri untuk menentukan kemenangan, bahkan dalam permainan tradisional yang menjadi tujuan bukanlah kemenangan melainkan proses permainannya.

Tidak adanya wasit dalam permainan tradisional mengajarkan perilaku hidup jujur untuk para pemainnya. Misalnya dalam permainan sodoran semua pemain akan mengaku kalah jika ada pemain yang tersentung dan harus berganti menjaga, tidak perlu pihak ketiga (wasit) sebagai pengambil keputusan. Hal ini juga mengajarkan perilaku hidup yang mengutamakan musyawarah. Namun, dalam permainan tradisional yang dikompetisikan, sudah ada wasit yang memimpin jalannya permainan. Seperti halnya dalam permainan sepakbola, para pemain tidak akan mengakui pelanggarannya seandainya tidak diketahui oleh wasit. Jika itu yang terjadi maka, nilai luhur yang ada dalam permainan tradisional juga akan luntur.

Berkaitan dengan permainan tradisional yang dikompetisikan, yang menjadi tujuan para peserta adalah hasil: yaitu kemenangan. Dalam permainan tradisional seharusnya yang menjadi tujuan utama adalah proses, yaitu bagaiman bermain dengan sportif dan mendapatkan kebahagian. Jika yang menjadi tujuan adalah kebahagian maka menang atau kalah sudah tidak menjadi permasalahan. Oleh karena yang menjadi tujuan adalah proses maka kekalahan juga akan tetap dihargai di samping penghargaan terhadap kemenangan.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa upaya pelestarian permainan tradisional tentu tidak dapat dipisahkan dari modifikasi di sana-sini agar lebih menarik. Namun, modifikasi-modifikasi tersebut hendaknya tidak melunturkan nilai luhur yang terkandung dalam permainan tradisional. Maka dari itu, di samping penggiatan kembali lomba maupun festival yang menjadikan permainan tradisional sebagai sebuah kompetisi, perlu juga diupayakan permainan tradisional dalam masyarakat.

Upaya pelestarian permainan tradisional di samping melalui penyelenggaraan kompetisi juga bisa melalui pengadaan fasilitas. Permainan tradisional biasa dimainkan oleh anak-anak desa, namun sekarang di desa pun juga jarang dimainkan permainan tradisional karena tidak ada lagi pekarangan yang luas. Halaman sudah sempit ditanamai rumah-rumah dan gedung. Maka, untuk mengimbangi hal itu perlu disediakan lahan yang lapang misalnya di alun-alun kabupaten maupun kecamatan.

Salah satu yang dapat diambil contoh adalah lapangan basket di alun-alun Jember. Setiap hari entah sore maupun malam ada saja yang bermain basket di sana. Seadainya di sana juga disediakan lapangan untuk sodoran misalnya pasti sangat mungkin untuk digunakan, atau disediakan holahop dan egrang secara cuma-cuma, pasti akan ada yang mencobanya. Jika memang pemerintah kabupaten Jember benar-benar memperhatikan kelestarian permainan tradisional sebagai warisan kebudayaan bangsa tentu menyediakan fasilitas seperti di atas tidaklah sulit. Komunitas dan para pegiat permainan tradisional juga perlu mendorong hal ini.

Penyediaan fasilitas tersebut tidak hanya terbatas di pusat kota kabupaten tetapi juga dipertimbangkan untuk dibangun di pusat kecamatan, khususnya kecamatan yang punya lapangan (alun-alun). Pemerintah juga bisa mewajibkan para pengembang perumahan agar menyediakan lahan sebagai fasilitas permainan tradisional. Lahan ini sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai lahan terbuka hijau yang memang sudah ada ketentuannya tentang hal itu.

Permainan tradisional yang memasyarakat dan masif sudah barang tentu akan berdampak masif pula. Semakin banyak orang (anak-anak) yang kembali memainkan permainan tradisional maka semakin banyak pula orang yang berlatih untuk hidup rukun, jujur, sehat, dan sportif. Maka, akan berdampak positif pula dalam kehidupan sosial. Kenakalan anak dan remaja bisa ditekan karena tersedia tempat positif untuk mencurahkan energinya.

Coba bayangkan, di sore hari atau malam hari di berbagai sudut kota Jember ada sekumpulan-sekumpulan anak, remaja dan pemuda yang memainkan permainan tradisional. Betapa indahnya jika hal itu terjadi. Mereka bermaian dengan mengedepankan proses daripada hasil. Sementara ini hal itu memang masih sebatas angan. Namun itu bukanlah hal yang tidak mungkin.

Suatu saat jika hal itu bisa terwujud sudah barang tentu menjadi objek wisata yang menarik bagi wisatawan untuk mengunjungi Jember sepanjang tahun. Bukan hanya ketika ada event besar. Permainan tradisional yang tetap terjaga tradisionalitasnya juga eksistensinya tentu akan mengurangi gesekan-gesekan sosial di masyarakat. Maka akan terciptalah masyarakat yang rukun. Ini memang masih seandainya namun bukan tidak mungkin berubah menjadi nyata. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s