Hikmah di Balik Kelangkaan BBM


Beberapa pekan terakhir media memberitakan tentang kelangkaan BBM yang bersubsidi (solar dan premium) diikuti antrean panjang di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) Pertamina. Media sosial juga disesaki oleh ocehan dan gambar antrean BBM yang memanjang sampai jauh. Di Jember, beberapa SPBU bahkan juga kehabisan BBM non-subsidi (Pertamax) pada hari selasa siang. Hingga hari rabu antrean pembeli bensin di SPBU juga mengular panjang.

Pasokan BBM normal sebenarnya masih kurang. Pada hari normal, pasokan BBM di beberapa SPBU sering kosong. Salah satunya adalah SPBU Wuluhan. Pada hari biasa dan pasokan normal saja sudah tidak bisa mengimbangi kebutuhan masyarakat, apalagi setelah adanya pengurangan pasokan BBM bersubsidi oleh pertamina tentu kekurangan akan semakin banyak.

Salah satu pihak yang dipersalahkan oleh beberapa (mungkin banyak) orang adalah para pengecer BBM yang membeli bensin maupun solar menggunakan jeriken. Pembeli BBM dengan jeriken dianggap menghabiskan jatah BBM. Jika ditilik dengan seksama sebenarnya mereka juga membantu pertamina dalam menyalurkan distribusi BBM sampai kepada masyarakat.

Para pengecer bensin di pinggir jalan raya misalnya membantu pembeli yang enggan mengantri di SPBU karena tergesa-gesa menuju sekolah maupun tempat kerja. Begitu pun para pengecer bensin di pedesaan. Mereka membantu distribusi bensin sampai ke masyarakat yang jarang bahkan tidak dapat mengakses SPBU. Berdasarkan hal ini pengecer juga berperan membantu mengurangi konsumsi BBM karena para pemilik motor tidak perlu mengendarai motornya menuju SPBU hanya untuk mengisi bensin, padahal area kerjanya ada di sekitar rumahnya.

Begitu juga dengan solar. Di pedesaan banyak sekali mesin pendukung pertanian dan produksi kecil yang membutuhkan solar. Mesin pertanian di pedesaan juga membutuhkan BBM. Mesin traktor untuk membajak sawah dan mesin blower perontok padi membutuhkan solar. Mesin pemotong rumput dan mesin semprot hama membutuhkan bensin. Belum lagi mesin penggiling padi, mesin penggiling kedelai untuk tahu, tempe, penumbuk beras dan sebagainya. Pemenuhan kebutuhan BBM untuk mesin pertanian dan usaha kecil, serta para nelayan ini akan lebih efektif jika membeli kepada pengecer yang ada di pedesaan. Meskipun ada selisih harga dari SPBU tetapi ongkos kirimnya jauh lebih murah. Pengecer dan konsumen sama-sama untung.

Keberadaan para pengecer bensin dan solar hendaknya tidak dibatasi, hal ini berkaitan dengan hukum pasar. Semakin banyak penjual bensin eceran maka semakin tinggi persaingan. Maka, tidak akan ada monopoli bensin maupun solar sehingga akan ada persaingan harga antar-pengecer yang ujungnya tidak akan merugikan konsumen. Hanya saja perlu dibuat regulasi dan perijinan yang jelas agar tidak terjadi penimbunan bbm serta pengalihan BBM bersubsidi kepada pihak-pihak yang tidak berhak.

Para pengecer mungkin hanya membeli bensin ataupun solar maksimal tiga jeriken diangkut menggunakan sepeda. Jika ada yang membeli hingga berpuluh-puluh jeriken dan menggunakan mobil, baru patut dicurigai. Dan, pihak yang paling berhak menyelidiki adalah kepolisian. Maka dari itu, saat BBM langka seperti sekarang janganlah memukul rata bahwa para pembeli menggunakan jeriken adalah salah. Kelangkaan ini karena pertamina mengurangi pasokan BBM bersubsidi. Pasokan BBM bersubsidi dikurangi karena tidak kuotanya menipis dan dipastikan tidak akan mencukupi hingga akhir tahun.

***

Dengan terjadinya kelangkaan, masyarakat merasakan betapa sulitnya jika kekurangan BBM. Ini menjadi momen yang tepat untuk menumbuhkan rasa cinta kepada negara ini. Momen yang tepat untuk menumbuhkan nasionalisme dalam jiwa masing-masing pelajar oleh para guru. Hal ini sejalan dengan semangat kurikulum 2013 yang baru dilaksanakan menyeluruh pada tahun 2014 ini.

Guru bisa menjelaskan kepada siswanya, mengapa BBM langka. Juga bisa menjelaskan bahwa sebenarnya sejak 2004 Indonesia bukan lagi negara eksportir minyak bumi, melainkan sudah menjadi importir yang setiap tahun jumlahnya impornya meningkat. Semua lapisan masyarakat merasakan sulitnya beraktivitas jika bensin dan solar tidak ada. Karena yang disampaikan benar-benar kontekstual dan dirasakan langsung oleh para siswa, tentu meraka akan lebih mudah menerima dan mencerna serta meresapinya. Dengan demikian nasionalisme tidak hanya ditanamkan melalui bendera yang dijahit di seragam sekolah pelajar tetapi juga melalui pengalaman yang dialami langsung oleh siswa.

Karakter lain yang bisa dikaitkan dengan adanya kelangkaan BBM juga sabar dan pantang menyerah. Guru dapat mengaitkan, mencontohkan kesabaran ketika antre BBM di SPBU. Khususnya untuk pelajar SMA yang sudah berhak mengendarai motor.

Kelangkaan BBM sekaligus menjadi waktu yang tepat untuk melarang siswa mengenderai sepeda motor ke sekolah khususnya bagi yang belum cukup umur. Tidak sedikit pelajar SMP yang membawa motor ke sekolah, tentu sebenarnya ini adalah pelanggaran lalu lintas. Bukankah kesadaran akan kedisiplinan harus ditanamakan sejak dini? Pelarangan membawa motor ke sekolah selain untuk alasan kedisiplinan berlalu lintas juga untuk mengurangi konsumsi BBM bersubsidi, berarti sekaligus mencintai negeri ini dengan aksi nyata.

Nasib bangsa ini ke depa ada pada pundak para pelajar saat ini. Maka nasib bangsa Indonesia ke depan juga menjadi tanggung jawab sekolah melalui guru-guru di dalamnya.

Mari tetap berpikir jernih menghadapi setiap masalah. Mari tetap antre dengan tertib ketika hendak membeli BBM. Mari mengambil hikmah dari kelangkaan BBM yang sedang terjadi. Yang terpenting adalah, mari tetap mencintai negeri ini sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s