Permainan Tradisional Sepak Tekong dan Strategi Perang Gerilya


Gerilya berasal dari bahasa Spanyol guerrilla[1] yang berarti perang kecil. Yaitu sebuah strategi perang yang banyak digunakan di seluruh dunia untuk melawan musuh yang memiliki pasukan dan persenjataan yang lebih besar. Strategi perang gerilnya ini yang digunakan oleh para pejuang Republik Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Sampai sekarang, strategi perang gerilnya masih digunakan oleh kelompok kelompok milisi di sebagian wilayah Indonesia (Papua) dan di berbagai belahan dunia.

Pejuang kemerdekaan Indonesia yang hanya memiliki senjata dari rampasan dari Jepang mampu mempertahankan NKRI dari serangan Belanda dan Sekutu yang memiliki pasukan dan persenjataan canggih. Jika menggunakan strategi perang terbuka, kemenangan akan sangat sulit diraih. Dalam sejarah, perang dengan strategi ini pertama kali digunakan oleh para pejuang Amerika Serikat yang membangkang kepada Inggris. Meskipun awalnya dicap sebagai perang yang tak beretika, namun perang inilah yang dianggap paling efektif.

Lalu, apa hubungan antara perang gerilnya dan permainan tradisional Sepak Tekong?

Sepak tekong merupakan permainan tradisional yang ada di Nusantara. Meskipun memiliki variasi yang beraneka ragam, namun inti permainan ini tetap sama. Yaitu, seorang penjaga tekong dan pemain lain bersembunyi. Sedangkan penjaga wajib menemukan pemain lain dengan tetap menjaga tekongnya agar tidak dirusak oleh pemain lain. Di Jember, Peralatan permainan tekong adalah pecahan genting yang disusun ke atas (ini yang harus dijaga) dan sebuah potongan bata yang digunakan sebagai ‘pal’. ‘Pal’ adalah sebuah kode yang diucapkan sebagai tanda bahwa penjaga lebih dahulu sampai ke pos penjagaan setelah menemukan dan menemukan pemain lain yang bersembunyi. Jika masih belum di-“pal” maka pemain yang bersembunyi berhak untuk menghancur susunan tekong. Jadi, tak jarang pacu lari sering terjadi dalam permainan ini. Dalam perkembangannya, pecahan genting dan bata digantikan dengan bola plastik.

Asal kata tekong dan daerah pencipta permainan ini memang tidak dapat dijelaskan lebih renik. Karena seperti halnya kebudayaan nusantara yang lain. Permainan tradisional merupakan milik seluruh masyarakat, bukan hanya yang menciptakan tapi juga yang mau memainkan. Terlepas dari itu semua, yang jelas sepak tekong, seperti halnya permainan tradisional lain, memiliki banyak manfaat.

Manfaat sepak tekong antara lain mengajarkan semangat, kegigihan, dan pantang menyerah[2]. Di samping itu nilai yang terkandung dalam permainan Sepak Tekong adalah perjuangan, kesetiakawanan, dan menjaga amanah[3]. Namun, ada satu hal lagi yang belum dijelaskan dalam tulisan di dunia maya. Yaitu: Sepak tekong sebagai sarana latihan perang gerilya.

Terlepas dari manakah yang ada lebih dulu, perang gerilya ataukah sepak tekong. Yang jelas, permainan sepak tekong memiliki kesamaan dengan perang gerilya. Dalam permaianan sepak tekong, ketika berposisi sebagi penjaga, seorang pemain akan mati-matian menjaga kedaulatan posnya. Tapi, dia juga berkewajiban untuk menemukan setiap pemain untuk memenangkan dan mengubah posisinya sebagai pemain yang bersembunyi. Sedangkan, pemain yang bersembunyi, akan berusaha sekuat tenaga menyembunyikan dirinya, jika akhirnya posisiya diketahui, maka dia akan beradu lari dengan penjaga agar tidak lebih dulu di-‘pal’ dan bisa bersembunyi lagi.

Begitu pula dalam perang gerilnya. Pasukan yang sedang bergerilnya akan bersembunyi sesempurna mungkin untuk menyergap musuh yang sedang melintas atau bertahan. Tinggal adu cepat menembak atau ditembak.

Bagaimana dengan sepak tekong di nusantara dan perang kemerdekaan?

Jika sepak tekong berkembang sebelum perang kemerdekaan, maka dapat dimungkinkan bahwa mereke (para pejuang) telah berlatih perang gerilya sebelum dibentuk PETA (Pembela Tanah Air) yang didik Jepang. Mereka telah berlatih bergerilya dengan memainkan permainan sepak tekong. Seandainya sepak tekong baru bekembang setelah perang gerilya. Dapat dimungkinkan pula, permainan ini merupakan hasil modifikasi dari strategi perang gerilnya yang digunakan untuk mempertahankan kemerdekaa Indonesia.

Yang perlu diingat, strategi perang gerilya di Indonesia tidak hanya digunakan ketika melawan Belanda dan sekutu setelah proklamasi. Jauh sebelum itu, strategi perang gerilnya telah digunakan oleh pejuang perintis kemerdekaan. Sebut saja nama Tjut Njak Dien dan Panglima Polim di Aceh. Para pejuang perintis kemerdekaan itu berperang melawan Kumpeni dari hutan, dari persembunyian. Sama seperti sepak tekong bukan.

Terlepas dari itu, semua. Bangsa Indonesia haruslah tetap mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Juga yang harus dipertahankan adalah kekayaan kebudayaan Indonesia dari seluruh nusantara. Salah satunya adalah permainan tradisional sepak tekong. Kalau bukan kita siapa lagi.

Selamat Ulang Tahun Negeriku Tercinta.

Merdeka!!!!


[1] id.wikipedia.org/wiki/Gerilya

[2]  Rusad, Irsyal. 2011. “Sepak Tekong”: Permainan Tradisionil yang Membuat Kami Lebih Sehat! dalam (http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/20/sepak-tekong-permainan-tradisionil-yang-membuat-kami-lebih-sehat-342166.html)

2 thoughts on “Permainan Tradisional Sepak Tekong dan Strategi Perang Gerilya

  1. Ping-balik: Dolanan sebagai Media Pendidikan Berkarakter | Berbubastra

  2. Ping-balik: Dolanan: Dalam Pembahasan Linguistik | Berbubastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.