Tidak Hanya Mendengar Tetapi Juga Mendengarkan


Mendengar dan mendengarkan ditinjau dari makna secara bahasa meiliki makna yang berbeda meskipun serupa. Jika ditilik dalam kamus, kata mendengar memiliki dimensi ketidaksengajaan, sedangkan mendengarkan mengandung makna sungguh-sungguh yang tidak hanya bertujuan untuk mendapat informasi tapi juga untuk memahaminya. Terlepas dari itu, mendengar dan mendengarkan pada dasarnya memiliki makna yang sama yaitu mengetahui sesuatu melalui indra pendengaran. Arti yang lebih luas, adalah mendapat informasi mengenai sesuatu tidak hanya berbentuk suara tetapi juga diperoleh melalui tulisan, sama dengan membaca. Dalam penggunaan di masyarakat tutur bahasa Indonesia, antara mendengar dan mendengarkan sering terjadi saling-sulih (saling menggantikan).

Mendengar adalah hal yang sederhana karena ketika ada suara, telinga manusia sudah otomatis mendengar. Tanpa harus mengatur program atau terlebih dulu memasang alat perekam. Lain halnya dengan mendengarkan, selain memanfaatkan panca indra yang otomatis menangkap suara (informasi), mendengarkan juga membutuhkan peran serta manusia untuk mengaktifkan hati dan otaknya. Pengaktifan hati dan otak diperlukan agar dapat memahami informasi yang sedang didengar.

Menjadi pendengar yang baik bukan hanya mampu mendapat dan memahami informasi yang disampaikan, tetapi juga harus mampu mengaplikasikan dalam tindakan. Terlebih jika informasi yang kita dengar berupa saran ataupun koreksi. Tidak seperti yang dicontohkan dalam diskusi dan dialog interaktif yang ada di televisi ataupun radio. Masing-masing narasumber (yang biasanya saling beda pendapat) memang terlihat khusuk mendengarkan, tetapi mereka bukanlah pendengar yang baik. Mereka mendengarkan ketika lawan bicara menyampaikan informasi untuk mencari celah agar dapat menyanggah atau bahkan menyerang narasumber yang lain.

Salah satu tokoh di Republik ini yang mampu dan mau mendengar serta menjadi pendengar yang baik adalah Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Ketika diundang untuk memberikan kuliah umum di perguruan tinggi, dahlan Iskan justru meminta kuliah, lebih memilih menjadi pendengar dari pada menjadi pembicara. Mungkin, beliau paham bahwa menjadi pendengar pada dasarnya lebih sederhana karena tidak perlu menyusun makalah ataupun pidato untuk dibicarakan. Misalnya ketika berdiri di hadapan para dokter, Dahlan Iskan lebih memilih menjadi pendengar karena sadar bahwa para dokter di depannya jauh lebih mengerti masalah obat dan kesehatan. Setelah mendengar paparan dari para dokter, tinggal menunggu tindak lanjutnya untuk memproduksi obat yang terjangkau untuk masyarakat.

Tokoh lain yang serupa adalah Jokowi. Meskipun ‘hanya’ sebagai gubernur, tapi karena ada di Ibu Kota, maka ketokohan Jokowi juga mengindonesia. Jokowi mendengar beragam masalah yang dialami warganya, kemudian mendengarkan keluhan mereka untuk kemudian dicarikan solusi. Terlepas solusi tersebut ditentang atau diterima oleh sebagian warganya, yang jelas Jokowi telah menjadi pendengar yang baik, dengan mengaplikasikan apa yang telah didengarnya.

Keadaan dan sikap seperti itu tidak hanya dibutuhkan dalam level negara. Dalam sekup yang lebih kecil, kemampuan mendengarkan dan menjadi pendengar yang baik juga diperlukan. Misalanya, seorang pemimpin organisasi (apapun bidangnya) tidak cukup hanya mendengar masalah dan keadaan yang terjadi di dalam organisasi yang dipimpin tetapi juga harus mendengarkan. Dengan menanyakan dan menggali informasi yang lebih mendalam, untuk kemudian dicarikan solusinya.

Menjadi pendengar yang baik, juga dibutuhkan oleh masing-masing anggota ataupun masing-masing individu secara pribadi. Dengan menjadi anggota kelompok masyarakat (organisasi yang baik) seorang pribadi juga harus ikhlas untuk mendengarkan untuk mengaplikasikan saran, penjelasan, dan informasi yang telah diperoleh. Selain itu, dengan menjadi pendengar yang baik tentu masing-masing pribadi akan mampu berusaha untuk menjadi pembicara yang baik karena memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam bermasyarakat juga dibutuhkan kemampuan dan upaya untuk menjadi pendengar yang baik. Masing-masing manusia memiliki karakter pribadi, dan masalah pribadi. Dalam lingkungan sosial hampir selalu ada warganya yang dianggap individualis dan tidak mau bersosialisasi. Anggapa seperti ini ada kalanya benar tetapi tidak menutup kemungkinan salah. Jika terjadi kasus yang seperti ini, seandainya masing-masing pihak saling mendengarkan tentu akan berujung pada titik temu.

Warga yang lain tidak tergesa-gesa memvonis orang yang kurang bersosialisasi

Salah satu ciri orang baik adalah menjadi pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik tentu akan berujung pada pembicara yang baik. Dengan demikan tidak hanya omdo (omong doang) apalagi asmo (asal ngomong). Memang bukan perkara yang mudah menjadi pendengar yang baik. Akan tetapi sebagai manusia (muslim khususnya) adalah wajib belajar hingga liang lahat. Maka, selayaknya kita semua terus berupaya dan belajar untuk menjadi pendengar yang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s