Tahun Ajaran Baru, (Beli) Buku Baru


Tahun Ajaran Baru, (Beli) Buku Baru

oleh Muntijo*

Pemerintah memang sudah menggratiskan biaya pendidikan untuk wajib belajar sembilan tahun. Namun, bagi sebagian besar masyarakat Indoesia biaya pendidikan masih saja dirasa mahal. Meskipun tanpa perlu membayar biaya pendidikan ke sekolah, namun orang tua siswa tetap harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk keperluan sekolah yang lain seperti seragam, sepatu, dan buku. Yang setiap tahun harus dibeli adalah buku.

Buku sekolah merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi, buku masih menjadi barang mewah bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah telah menyediakan buku sekolah elektronik (BSE). Buku yang dapat diunduh dan dicetak sesuka hati ini diharapkan mampu mengatasi mahalnya harga buku sekolah.

Namun, yang terjadi di lapangan tidak seperti yang diharapkan. BSE  yang telah tersedia di internet tidak dimanfaatkan oleh sebagian besar guru di sekolah. Padahal kualitas BSE sama dengan buku sekolah yang diterbitkan oleh perusahaan penerbitan. Nasib yang sama dialami oleh BSE yang telah dicetak menjadi buku (tidak lagi berbentuk elektronik). Buku yang dicetak oleh JP Books ini hanya menjadi pajangan di perpustakaan sekolah, sedangkan siswa tetap diharapkan –alih-alih diwajibkan– untuk membeli buku sekolah yang lain.

Motif tidak dipakaianya BSE sebagai buku pegangan bukan karena masalah kualitas dan bentuknya, namun karena adanya motif lain. Sekolah melalui guru bidang studi atau kepala sekolah memiliki kesepakatan tertentu dengan penerbit buku. Jika dapat menjual sekian buku maka sekolah atau guru yang bersangkutan akan mendapatkan hadiah berupa ini atau itu. Meskipun tidak seluruhnya, namun tidak sedikit guru yang menjalankan praktik seperti ini. Jadi, kualitas buku tidak lagi menjadi prioritas. Hal yang sama juga berlaku untuk buku LKS (lembar kerja siswa).

Praktik seperti ini memicu dampak negatif yang lain: buku sekolah yang buruk. Tidak sedikit pemberitaan tentang LKS atau buku sekolah yang mengandung pornografi dan cerita yang seharusnya menjadi konsumsi orang dewasa. Untuk kasus seperti ini, guru yang bersangkutan juga bersalah. Seharusnya guru menyeleksi bahan ajarnya serta tidak menggunakan bahan ajar  (buku LKS atau buku ajar) yang mengandung hal yang belum layak dikonsumsi oleh siswanya. Dengan seleksi secara objektif dan ketat oleh guru, tentu penyusun tidak akan asal-asalan dalam menyusun buku.

Berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 pasal 20, salah satu tugas guru adalah merencanakan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang bermutu. Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang bermutu membutuhkan bahan ajar yag berkualitas. Oleh karena itu, buku ajar yang pas (sesuai dengan lingkungan siswanya) mutlak dibutuhkan oleh guru untuk mengajar di sekolah.

Buku ajar yang baik tidak sama antara daerah satu dengan daerah lain. Hal ini dikarenakan siswa di daerah yang berbeda memiliki kekhasan masing-masing. Misalnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Jember, siswa jangan diberi cerita tentang si Pitung yang berasal dari Betawi, berilah cerita tentang Sogol atau Pak Sakerah yang inti ceritanya mirip dengan Si Pitung. Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, siswa akan mudah memahami karena latar cerita ada di sekitar mereka.

Tugas guru yang lain adalah mengevaluasi hasil pembelajaran. Salah satu cara mengevaluasi hasil belajar siswa adalah menggunakan LKS (lembar kerja siswa). Sama halnya dengan buku ajar, LKS yang baik adalah yang disesuaikan dengan lingkungan sekitar siswa. Misalnya, dalam pelajaran biologi, siswa di pedesaan lebih pas diberi tugas untuk mengamati ekosistem sawah atau sungai, dan siswa di lingkungan perkotaan akan lebih mengena jika ditugaskan untuk mengamati ekosistem taman.

Contoh-contoh di atas tidak mungkin ditemui dalam buku ajar ataupun buku LKS yang diterbitkan perusahaan penerbitan. Maka, buku yang berkualitas dan baik untuk siswa bukanlah buku yang berasal dari penerbit ternama atau BSE, melainkan buku ajar yang disusun oleh guru yang disesuaikan dengan kondisi siswa. Adapun BSE atau buku ajar lain merupakan salah satu acuan untuk menyusun buku ajar.

Tanggung Jawab Bersama

Masalah pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Guru sebagai ujung tombak pendidikan harus berperan aktif untuk menyelenggarakan pendidikan yang murah tapi bermutu. Salah satu caranya adalah menyediakan bahan ajar yang berkualitas serta menyusun alat evaluasi yang akurat. Memang hal ini tidak semudah yang dikatakan, tapi bukan berarti tidak mungkin. Terlebih tahun ajaran baru ini, bertepatan dengan Ramadan. Mari niatkan profesi guru sebagai jihad untuk mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Insyaallah selain mendapat gaji setiap bulan, juga akan mendapat gaji di akhirat kelak.

Upaya pemerintah juga tidak boleh berhenti untuk terus menyediakan fasilitas penunjang pendidikan yang memadai. Selain itu, pemerintah juga harus terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru, baik yang PNS maupun yang honorer. Dengan kesejahteraan yang terjamin dan fasilitas yang memadai, guru akan maksimal dalam mencurahkan segala daya dan upayanya untuk menyelenggarakan pendidikan yang murah namun bermutu.

Dengan demikian, guru tidak perlu lagi membuat kesepakatan yang tidak patut dengan penjual dan penerbit buku malainkan menjalin kerja sama yang harmonis. Kesepakatan yang harmonis itu misalnya, guru atau kelompok guru menyusun buku ajar yang berkualitas bekerja sama dengan penerbit untuk mencetak dan mendistribusikan buku ajar yang murah sesuai sekolah sasaran yang diharapakan. Tentu pemerintah melalui dinas terkait di masing-masing daerah juga harus memperhatikan dan memfasilitasi hal ini.

*a.k.a M. Nasiruddin T.J

Mahasiswa FKIP Universitas Jember, Pengajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s