Masjid-Masjid Spesial


Di Ramadan ini, seperti Ramadan-Ramadan sebelumnya, tempat ibadah umat Islam kembali ramai. Semarak dengan berbagai macam kegiatan untuk mengisi bulan yang penuh berkah ini. Terutama masjid, di bulan Ramadan benar-benar mendapat ruh-nya sebagai pusat kegiatan umat Islam.

Di bulan Ramadan, masjid tidak hanya dijadikan tempat salat Jumat dan jamaah salat lima waktu oleh sebagian umat Islam. Masjid juga dimeriahkan dengan pengajian dan pengkajian keislaman. Di malam hari, menjadi tempat salat sunnah yang diutamakan, salat tarawih, ada yang delapan rakaat ada yang dua puluh rakaat, ada yang dilaksanakan setelah tarawih, ada yang dilaksanakan dini hari menjelang sahur. Ada yang dilanjutkan pula dengan tadarus Alquran.

Terlepas dari itu semua. Masjid menjadi salah satu tempat spesial dalam hidupku. Masjid yang secara harfiah berarti tempat sujud, juga menjadi tempat belajar, melepas penat, serta bersosialisasi. Berikut beberapa masjid yang bekesan dalam hidup saya. Beberapa masjid ini diurutkan berdasar ke-spesial-an.

Pertama: Masjid Arrohmatul Maghfuroh

Masjid ini terletak di dusun Mangaran desa Sukamakmur kecamatan Ajung, masjid di dusunku. Banyak hal yang berkesan di masjid ini. Masjid ini dibangun oleh seluruh warga dusun. Pernah menjadi tempat untuk belajar membaca Alquran. Dulu belajar mengeja a-ba-ta; ta-ta-ba di masjid ini. Ketika hujan tiba, bagian masjid yang terbuka tergenang air. Saat seperti itulah masjid menjadi arena bermain yang sangat menyenangkan. Berlari kemudian meluncur di lantai. Kadang bertabrakan dengan sesama teman. Semoga Allah tidak melaknat kami yang menjadikan rumah-Nya sebagai tempat berseluncur dan berlarian.

Itu masih belum seberapa, ada hal yang ‘cukup’ kurang ajar lain. Jika yang berlarian di dalam masjid adalah anak kecil mungkin diaggap masih belum mengerti. Ketika sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya dan kawan-kawan sepermainan bermain bola di halaman masjid. Betapa kurang ajarnya. Meskipun sebenarnya kami sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan keberadaan masjid sebagai tempat ibadah. Masih ada banyak cerita lain tentang masjid ini yang tidak dapat diguratkan dalam tulisan ini.

Kedua: Masjid (Musala) SMAN 4 Jember

Tempat ini menjadi sangat spesial karena menjadi tempat kegiatan ekstrakurikuler BTA (Baca Tulis Alquran). Satu-satunya ekskul yang pernah saya ikuti selama SMA. Bahkan sempat menjadi ketua ekskul ini. Selain itu, masjid ini menjadi tempat kami untuk belajar menjadi muazin salat jumat. Siswa yang menjadi bilal seangkatan antara lain Rohmah Ribi Arifin, Fafan Yuda, dan Ahmad Bustomi. Entah bagaimana kabar teman-teman ini.

Selepas pulang sekolah, biasanya jika tidak terburu, saya dan kawan (biasanya Sofyan David Ardiasyah, teman sejak SMP di Jenggawah) sebelum menluncur ke rumah menyempatkan salat zuhur di masjid ini. Pernah juga sampai menjelang senja bercengkrama bersama teman-teman yang lain, ada Ina Rahmawati yang sejak kelas 3 pindah ke Palembang, dan Faradlillah Saves. Yang membuat kedua teman perempuan ini tidak terlupakan adalah mereka sering nraktir makanan ringan. hehehe.

Ketiga: Masjid di Dusun Dukuh Mencek

Ketika sudah kelas 3, saya sering salat Jumat di masjid yang terletak di sebelah utara SMAN 4 Jember. Letaknya tidak begitu jauh dari rumah Ribi, teman sekelas di X.1. Di masjid ini, selain berniat untuk salat jumat, saya juga berusaha menemui Mas Iskandar. Di organisasinya beliau dipanggil Ustad Iskandar. Beliau adalah teman sekaligus guru. Ketika bertemu sering memberi pengetahuan-pengetahuan yang luar biasa, baik tentang Islam maupun tentang penyikapan terhadap kehidupan. Beberapa hal yang paling bekesan dari ucapan beliau adalah: “orang sukses adalah orang yang memiliki keturunan yang sukses” dan “kepintaran tidak berbanding lurus dengan kesuksesan, tapi kesuksesan juga tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan.”

Keempat: Masjid Al-Hikmah Universitas Jember

Memang tidak ada orang yang spesial yang sengaja saya temui ketika berkunjung ke masjid ini, namun saya dan kawan-kawan kuliah yang menamakan diri ‘orang gila kampus’ sering salat di sini. Masjid ini menjadi spesial karena selain sering menjadi tempat berjamaah, juga menjadi tempat menggila bersama. Kegiatan menjelang salat di sela jam kuliah menjadi hal yang sangat menarik. Kami berbagi sabun muka, sembari bercanda ketika berwudu. Bahkan suatu kali pernah ngepel tempat wudu karena terlihat sangat kotor. Padahal jelas kami bukan pengurus masjid, tapi itulah menggila: berbuat baik bisa di mana-mana.

Selain itu, tak jarang pula, masjid Al-Hikmah ini menjadi tempat untuk merebahkan diri untuk menunggu jam kuliah berikutnya. Maklum, kami berempat tidak kost, dengan jarak rumah cukup dan sangat jauh, masjid adalah menjadi tempat favorit untuk istirahat (tentu selain warung gedung satu). Ababal dari Sidodadi – Tempurejo, Jatmiko dari Tegalbesar, saya dari Sukamakmur – Ajung, dan Nurul  dari Bondowoso. Sambil istirahat biasanya kami juga numpang mengisi baterai laptop atau ponsel di colokan listrik masjid. Ketika seperti itu, tak jarang pula sambil memanfaatkan fasilitas wifi dari fakultas pertanian yang letaknya berseberangan dengan masjid.

Kelima: Masjid Sunan Kalijaga Jl. Kalimantan Jember

Sejak awal kuliah, yang menjadi masjid favorit untuk melaksanakan salat Jumat adalah Masjid Sunan Kalijaga. Masjid yang bersebelahan dengan kediaman Mbah Muchith Muzadi (tokoh NU) ini menjadi tambatan hati karena khotbahnya tidak terlalu panjang. Tidak seperti di masjid Al-Hikmah di dalam kampus. Teman-teman yang menjadi khotib biasnya adalah aktivis Islam yang suka berdakwah dalam khotbah. Bukan berarti itu buruk tapi bagi saya tidak cocok karena terlalu lama. Selain karena pernah membaca keterangan bahwa nabi dulu khotbahnya tidak lebih lama dari salatnya, saya juga terlalu mengantuk ketika harus mendengarkan khotbah yang terlalu lama. Daripada banyak tapi ngedumel dan tidak merasuk ing badan kabeh njeroan lebih baik sedikit tapi mengena. Itulah yang saya temukan di masjid Sunan Kalijaga.

Terlebih, menjelang semester 7 (sekarang semester 9, semoga tidak sampai semester 10) saya mengenal Ahmad Ainun Najib, teman sefakultas ini tinggal di masjid ini. Di masjid ini sering kami menyusun rencana kegiatan dan berkegiatan di masjid ini. Mulai dari kegiatan organisasi, kegiatan UKM kampus, hingga kegiatan PKM yang akhirnya lolos tapi dananya tidak turun-turun (lho kok jadi curcol).

 

Masih banyak masjid lain yang dapat membawa kesan tersendiri. Kelima masjid yang saya sebut di atas spesial karena aktivitasnya, bukan karena fasilitasnya. Di Jember atau tempat lain tentu ada masjid yang wah. Semoga masjid-masjid spesial yang pernah dikunjungi bertambah, terutama Masjid Alharam dan Masjid Annabawi di tanah arab. Tentu umat Islam ingin berkunjung ke sana. Berbahagialah mereka yang pernah beribadah di sana, dan semoga kita yang belum (seperti saya) dapat segera berkunjung ke sana.

One thought on “Masjid-Masjid Spesial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s