Kans Banteng di Kandang Nu


Pemilihan Gubernur Jawa Timur sudah tidak lama lagi. Pilgub yang dijadwalkan dilangsungkan pada bulan Agustus tahun ini direncanakan diikuti oleh empat pasang calon gubernur dan calon wakil gubernur. Nahdlatul Ulama’ sebagai jam’iyah (organisasi) yang terbesar di Jawa Timur mau tidak mau, langsung ataupun tidak langsung terlibat dengan proses demokrasi tersebut.

Oleh karena sikap NU yang terbuka, warga, kader, dan pengurus, serta pimpinan NU bebas memilih dan memberikan dukungan kepada siapa saja yang dikehendaki secara pribadi. Oleh karena itu, masing-masing calon gubernur  dan wakil gubernur  juga berusaha untuk mendapat simpati dari pemimpin dan tokoh NU di tingkat Pengurus Wilayah (provinsi), Pengurus Cabang (kabupaten), Majelis Wakil Cabang (kecamatan), hingga Ranting. Khususnya calon yang memiliki latar belakang NU. Tidak hanya itu, seluruh badan otonom  (banom) NU  (IPNU, IPPNU, Fatayat NU, Muslimat NU, dan Gerakan Pemuda Ansor) juga mengalami nasib yang sama, didekati dan (bahkan ada juga yang) mendekatkan diri.

Syaifullah Yusuf calon wakil gubernur petahan, adalah kader NU alumni Ansor, Khofifah Indar Parawansa juga kader NU ketua umum PP Muslimat NU. Keduanya sama-sama mendapat dukungan dari tokoh dan pimpinan NU. Para tokoh NU mungkin berpikir, siapapun yang jadi gubernur, toh tetep wong NU. Diakui atau tidak, akhirnya dukungan NU secara organisasi maupun pribadi warga NU (nahdliyyin) juga terpecah. Anggapan siapapun yang jadi tetap orang NU tetap berlaku jika calonnya hanya dua pasang, tapi dalam pilgub kali  ini, calonnya ada lebih dari dua pasang. PDIP yang sempat dekat dengan Khofifah tidak jadi berkoalisi dengan PKB untuk mengusungnya. PDIP justru mencalonkan kadernya sendiri, Bambang DH. Juga ada calon dari jalur independen, Egi Sujana.

Tanpa bermaksud mengerdilkan, kesempatan dan kemungkinan Egi Sujana meraih suara terbanyak sangat kecil. Selain karena maju dari jalur independen yang berarti tidak memiliki mesin politik yang kuat dan merata di seluruh Jatim, Egi Sujana juga merupakan orang baru dan tidak lebih dikenal dibanding tiga calon gubernur yang lain. Lain dengan Bambang DH, kader PDIP ini memiliki mesin politik yang cukup kuat di Jatim. Selain itu, sudah cukup lama dikenal oleh rakyat Jawa Timur karena sebelumnya sempat memimpin Surabaya dua periode dan ditambah sempat menjadi wakil walikota mendampingi Risma yang masih menjabat.

Sementara ini, Soekarwo-Gus Ipul dan Khofifah terkesan sibuk memperebutkan simpati dari seluruh tingkatan warga NU dan banom-banomnya dari pada memafaatkan mesin politik partai pengusung masing-masing. Sedangkan Bambang DH lebih mengandalkan kekuatan politik pribadinya: PDIP. Tentu PDIP tidak bermaksud mengerdilkan NU yang memang besar di Jawa Timur, mungkin partai ini  mendekatkan diri kepada pemilih melalui pendekatan kultural-primordial. Masyarakat Jawa Timur terdiri atas dua kelompok besar yaitu etnik Jawa  yang tersebar di Jawa Timur bagian barat dan etnik Madura yang tersebar di pulau madura dan Jawa Timur bagian timur khususnya daerah Tapal Kuda. Bambang DH mewakili kelompok Jawa dan wakilnya  yang berasal dari Pulau Madura tentu mewakili etnik Madura. Kolaborasi keduanya dapat menjadi nilai jual tersendiri dibanding pasangan calon yang lain.

Kepercayaan diri PDIP ini tidak dapat dianggap sebelah mata oleh cagub dan cawagub yang lain. karena pada pilgub-pilgub provinsi  lain, PDIP mampu membuat kejutan yang luar biasa. Meskipun kalah di pilgub Sumut, Jabar, dan Bali tapi  perolehan  suara calon yang diusung partai berlambang banteng bermoncong putih ini tidak terpaut terlalu jauh dari pemenang. Jumlah suara yang diperoleh justru melampaui prediksi sebelumnya. Terlebih di Jawa Tengah, PDIP berhasil mengantarkan kadernya Gandjar Pronowo menduduki kursi Gubernur meskipun berhadapan dengan calon yang kuat, gubernur petahan yang didukung oleh partai-partai besar. Begitu pula yang terjadi di Jakarta.

Selain pendekatan dan pemetaan kultural, kepercayaan diri PDIP dan Bambang DH juga dipengaruhi oleh fenomena Jokowi, meskipun Jokowi tidak serta merta dapat disamakan dengan Bambang DH. Namun, Jokowi mantan Walikota Surakarta dengan sederet penghargaan yang menjadi Gubernur DKI Jakarta tidak hanya dikenal di ibukota dan Surakarta. Jokowi dengan gaya kepemimpinannya yang -katanya- pro-rakyat dikenal dan diidamkan oleh seluruh warga negara Indonesia, termasuk oleh warga Jawa Timur. Jokowi tentu menjadi menjadi magnet yang memiliki daya tarik kuat untuk mendulang suara bagi  Bambang DH.

Ditambah lagi, PDIP juga berhasil mendudukkan kader-kadernya di kursi pemerintahan tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur baik sebagai bupati/walikota ataupun sebagai wakilnya. Tentu hal ini juga menjadi kekuatan tersendiri untuk dapat menandingi cagub-cawagub petahan yang memiliki jaringan birokrasi dan banom NU serta Khofifah yang juga memiliki jaringan banom-banom NU.

Menjadi calon yang tidak mempunyai latar belakang NU bisa juga justru menguntungkan Bambang DH. Dia dapat masuk ke dalam lingkungan NU dengan leluasa karena sikap NU yang terbuka. Dapat juga masuk ke dalam kekuatan  dan kelompok massa yang lain di luar NU tanpa harus dicap sebagai orang NU.

Jadi, semua memiliki kekuatan dan kesempatan yang sama dalam pilgub Jawa Timur mendatang. Hal ini seharusnya juga menjadi perhatian pimpinan dan pengurus NU  (termasuk seluruh banomnya) di semua tingkatan di Jawa Timur  untuk tidak terlibat terlalu dalam dalam kegiatan politik. NU memang memiliki kekuatan politik, mampu dan dapat berpolitik, tapi hendaknya tidak dipolitisasi dan terpolitisasi.  Dengan demikian, siapapun yang menjadi gubernur Jawa Timur nanti, NU dan pemerintah provinsi Jawa Timur tetap dapat bersinergi untuk sama-sama mencapai tujuan demokrasi yaitu kesejahteraan rakyat dalam bingkai NKRI menjadi baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s