Film Sang Kiai: Audio Oke, Visual Kurang


Sebuah film yang diproduksi di kemudian memang tidak dapat menggambarkan sebuah peristiwa sejarah seratus persen persis. Ada saja bagian yang harus ditambah dan dikurangi sesuai dengan kebutuhan pasar. Selama penambahan dan pengurangan cerita tidak berpengaruh pada inti cerita yang ingin disampaikan.

Mencari lokasi yang menggambarkan keadaan sejarah tahun 1940-an memang agak sulit. Terlebih di Indonesia dan Jawa Timur khususnya yang memang tidak ramah pada peninggalan sejarah yang berupa bangunan. Lain halnya dengan Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta yang masih memiliki bangunan-bangunan kuno peninggalan pemerintahan Hindia Belanda. Hal itu tampak pada detail latar dalam Film Sang Kiai.

Film yang menceritakan strategi dan sikap perjuangan sosok pendiri dan panutan Nahdliyyin tersebut banyak menjadikan Jawa Timur sebagai latarnya, khususnya Jombang dan Surabaya. Upaya sutradara untuk mengembalikan latar tempo dulu ke dalam filmnya sepertinya kurang maksimal.

Meskipun efek visual dalam pertempuran dan efek tembakan sudah bagus, namun dalam film tersebut ada beberapa penampakan visual yang terlalu kekinian. Bisa disebut kurang jadul. Pertama,  asrama santri (dalam bahasa Jawa: gotak’an) dalam pesantren Tebuireng yang ada terlalu bagus. Temboknya halus berpelamir dan terlalu catnya terlihat masih baru. Selain itu, pagar gotakan yang juga dipelitur mengkilap. Ditambah lagi, benarkah di masa itu bangunan di pesantren sudah ada yang bertingkat sedemikian besarnya?

Kedua, tampilan visual yang sedikit mengganggu adalah adanya sapu yang berbentuk masa kini. Memang jaraknya sangat jauh menjadi latar peristiwa ketika tokoh Harun hendak pergi menginggalkan pesantren bersama istrinya. Di bagian belakang, secara samar terlihat santri yang sedang menyapu asrama, dengan bentuk sapu yang cukup jelas terlihat adalah sapu zaman sekarang. Ditambah lagi, apakah asrama santri sudah berlantai semen?

Yang ketiga, ketika adegan mengambil latar sawah. Di sawah terdapat banyak plastik terikat di kayu-kayu untuk mengusir hama burung. Pertanyaanya, benarkah di tahun 40 sudah ada plastik sedemikian banyaknya? belum lagi sesekali tampak adanya tower Sutet (BTS). Jika penonton film cukup jeli, keadaan sawah sejak tahun 40 adegan ketika Sang Kiai nyambangi sawahnya, sampai adegan tahun 45 ketika perang mempertahankan kemerdekaan, bentuk sawah sama persis, lengkap dengan bendera-bendera plastik pengusir burungya.

Yang keempat, tulisan pernyataan “Resolusi Jihad” dalam huruf Arab sepertinya ditulis sekenanya. Seandainya tulisan tersebut ditulis dengan bentuk huruf yang lebih rapi dan bagus, pasti akan meyakinkan bahwa seting tersebut benar-benar di Tebuireng, tempat para ulama dan santri yang berkualitas.

Keganjalan-keganjalan tampilan visual film tersebut memang sedikit mengganggu, namun sama sekali tidak berpengaruh pada pesan besar yang terkandung di dalam film tersebut. Sikap dan peran KH Hasyim Asy’ari berserta NU dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dapat langsung dipahami.

Yang cukup menarik dari film tersebut adalah detail audionya. Dengan mengambil latar Jawa Timur khususnya Surabaya, sutradara tidak lupa memasukkan unsur lokalitas yang khas: pisuan. Dalam film tersebut setidaknya ada dua kali suara umpatan. Yaituk ketika Harun ikut menghadang dan menghabisi tentara Jepang di sebuah perkebunan, di akhir pertempuran terdengan umpata (maaf) “Jancuk”. Umpatan yang kedua adalah ketika adegan dikepungnya pos tentara sekutu oleh arek-arek Suroboyo. Ketika ajudan Mallaby memaksa masuk, pemimpin pasukan memperbolehkan setelah melalui perdebatan. Saat itu kurang lebih terdengar suara (maaf lagi) “awas yo tak titeni. Asu!”

Dengan memasukkan suara pengiring yang demikian, sang sutradara berarti setuju denga budayawan Jawa Timur, Sujiwotejo. Sering  Sujiwotejo melalui akun twitternya @sudjiwotedjo maupun dalam acara teve melontarkan pendapat bahwa, di selah takbir yang menggelegar ketika terjadi peristiwa 10 November di Surabaya pasti ada pejuang yang mengumpat (lagi-lagi maaf) “Jancuk”.

Jika pembaca tidak percaya dengan pendapat dalam tulisan ini, silakan tonton sendiri, dan amati dengan seksama. Namun, terlebih penting dari film itu bukan kejanggalan tampilan visual dan audio yang dibahas di atas, melainkan adalah pesan yang disampaikan. Yaitu upaya memerangi musuh (penjajah) dengan strategi yang tepat. Sesuai dengan keadaan. Jika menguntungkan dengan cara kooperatif yang harus kooperatif. Jika memang harus mengangkat senjata, harus angkat senjata pantang mundur. Itulah NU! Selamat menonton.

3 thoughts on “Film Sang Kiai: Audio Oke, Visual Kurang

  1. Bener-bener, apa yang kau tulis tak jauh beda dengan apa yang sudah ku lihat. film Sang Kiai bagus tapi terlihat modern sekali, kurang ketok jadul. hehe. tapi yang penting kan ceritanya manteeebbbb…. ^_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s