Ternyata Jember Masuk dalam Buku Kreatif Sampai Mati-nya Wahyu Aditiya


Memang hampir setahun dari pertama diterbitkan saya baru membaca buku yang mengajak orang jadi nyentrik itu. Menjadi unik. Pada dasarnya, saya sependapat dengan hampir keseluruhan ide yang dimuat di dalamnya. Terutama mengenai dikotomi kecerdasan. Orang yang memiliki kemampuan matematika dan ilmu pasti yang lain dianggap lebih istimewa daripada orang yang memiliki kecerdasan lain. Saya berpikiran seperti itu sejak ada di bangku kelas satu SMA.

10 dari 40 siswa kelas IPA unggulan (2 IPA 4) berasal dari kelas sepuluh dua, kelas saya. Jadi, secara akademik kemampuan saya dan teman-teman sekelas tidak bisa dianggap enteng. Lain halnya dengan saya. Saya tidak tertarik dengan IPA. Teman-teman sekelas heran karena saya memilih jurusan IPS padahal nilai dan kemampuan saya memenuhi untuk jurusan IPA. Teman-teman yang menganggap IPA jauh lebih baik dari IPS itu sebenarnya tidak pernah mengetahui betapa nikmatnya ada di jurusan IPS. hehehe.

Kembali ke buku Kreatif Sampai Mati, buku ini baru saya beli akhir bulan Mei 2013, selain karena ada urusan dengan yang namanya skripsi juga kerena baru dapat menyisihkan uang. Buku yang cukup tebal ini habis saya baca sekali duduk. Saya merasa benar-benar menikmati buku ini, tampilan bukunya dinamis. Jadi berpikir, andai buku teks sekolah juga berpenampilan keren seperti itu, pasti lebih menggugah minat baca. Di samping itu, isinya juga sangat menarik dan inspiratif, bukan menggurui.

Saya menyukai semua bagian buku, termasuk setiap coretan-coretannya. Terlebih saat menggkritisi logo-logo yang dipakai instansi pemerintah. Yang lucu adalah tentang jumlah bendera dalam logo HUT RI. Saya kurang sepedapat dengan Wadit, panggilan si penulis, yang menyebut logo itu monoton. Mono-ton kan hanya satu nada (tone) Logo HUT RI tidak monoton tapi mono-graf, satu gambar. Gambarnya itu-itu aja, yang membedakan hanya jumlah benderanya.

Juga mengenai lambang-lambang kabupaten, dari Aceh sampai Pasti ada padi. Mas Waditya mengkritisi ini, mengusulkan untuk diganti gambar tanaman lain. Mas Wadit ini tidak mengetahui betapa mulianya padi di bumi Nusantara ini. Padi bukan hanya melambangkan makanan, tapi juga melambangkan kemakmuran. Bahkan, tanaman ini yang memiliki dewa tersendiri, yaitu Dewi Sri, dewi yang menjaga padi. Seharusnya Wadit juga tidak lupa, dia sangat ngefans pada Grup band asal Surabaya, bahkan sempat membuatkan video klipnya. Nama grup band itu adalah PADI. hehehe. Padi memang telanjur ada di mana-mana. Coba kalau singkong misalnya juga sengetop padi, mungkin ada Singkong Band.

Bagian lain yang dikritisi oleh Waditya adalah baliho, billboard, spanduk dan apapun jenisnya, yang dibuat oleh instansi pemerintah. Ada satu kesamaan. Pasti ada gambar kepala daerah. Yang membuat saya agak terkejut adalah tepat di halaman 239, ada gambar orang Jember lho. Pak Bupati Djalal. Gambar yang divonis ‘gagal’ menurut Kementerian yang dipimpin oleh Mas Gembol ini, didakwa membuat pusing para turis karena gambar yang tumpang tindih. Setelah saya ‘nikmati’ foto yang di ambil di pintu masuk Bandara Soekarno-Hatta itu, ternyata memang ada benarnya. Tumpuk-tumpuk rakaruan. Dan, setelah saya amati lagi, ternyata di pojok kanan atas baliho tersebut ada logo kabupaten Jember. Pada logo yang berbentuk perisai itu ada gambar tembakau, sumber kekuatan ekonomi orang Jember, dan tentu tak lupa PADI.

Menurut saya, baliho yang dibuat pemerintah kabuten Jember tidak gagal, justru sukses. Betapa tidak, foto tersebut nongol di buku keren yang pernah di bedah di Kick Andy. Foto itu sukses dengan cara gagal. Minimal, para pembaca buku pedoman penghayatan dan pengamalan kreativitas dari seluruh penjuru nusantara tahu, ada Kabupaten bernama Jember. Saya yakin, daya gedor kreativitas Jember sudah jauh meningkat dibanding 2008 (tahun foto itu diambil). Coba saja berkunjung ke Jember untuk membuktikannya. (Dalam rangka promosi Jember, hehehe).

Jember juga markasnya orang kreatif lho, silakan lihat dan amati.

One thought on “Ternyata Jember Masuk dalam Buku Kreatif Sampai Mati-nya Wahyu Aditiya

  1. Ping-balik: Mitos Asal-Usul Pantai “Watu Ulo” Jember-Jawa Timur | Berbubastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s