Ideologi Pancasila dalam Pandangan Kritis Versi Bapakku


Ideologi Pancasila dalam Pandangan Kritis versi Bapak Saya

Bapak saya memang bukan seorang praktisi, politisi, apalagi akademisi. Beliau orang biasa yang lahir pada masa kolonial Belanda. Tinggal di sebuah tanah persil[1] sejak lahir hingga sekarang membuatnya selalu bersinggungan dengan keadaan politik nasional. Sebab rakyat yang tinggal di tanah persil selalu menjadi objek politik, terlebih di masa Orde Baru.

Bapak saya memang tidak pernah menamatkan pendidikan. Sempat sekolah beberapa hari pada SR (Sekolah Rakyat) di masa kolonial. Memutuskan berhenti sekolah karena sering sakit. Betapa tidak, setiap pulang sekolah harus mencari rumput, mungkin kelelahan. Tapi bapak saya tidak buta huruf, menurut penuturannya, beliau belajar membaca dan menulis di atas debu jalan, belajar pada temannya yang sempat sekolah di sela mencari rumput.

Pandangan bapak mengenai Pancasila menjadi sangat penting karena menurut beliau, redaksional Pancasila yang sekarang merupakan hasil rekayasa Soeharto. Pancasila yang otentik versi bapak saya berbunyi begini: 1. Ketuhanan yang Maha Esa; 2. Peri kemanusiaan; 3. Persatuan Indonesia; 4. Kedaulatan Rakyat; 5. Keadilan sosial. “Pancasila wes diowah karo Soeharto, biyen kedaulatan rakyat rakyate oleh daulat, diowah kerakyatan[2]” ujar Bapak saya, hari ini, 1 Juni 2013. Mungkin beliau juga memperingati hari kelahiran Pancasila dengan cara yang sangat sederhana.

Pendapat di atas, tidak hanya diutarakan oleh bapak saya, tapi juga oleh Kakaknya, yang juga Pak Dhe saya. Pada awal kekuasaan Orde Baru, berdasarkan penuturan Bapak, Pak Dhe pernah jagongan (ngobrol santai) tentang sila keempat yang diubah oleh Soeharto.

Ketika saya coba berdiskusi menjelaskan bahwa, dulu memang redaksional seperti yang diungkapkan bapak saya pernah ada. Sebelum tertuang dalam dasar negara UUD 1945, yang disampaikan Soepomo dan Soekarno sendiri. Redaksionalnya memang sangat singkat seperti itu. Tapi Bapak saya justru menyanggah, bahwa itu sudah diolah oleh Soeharto. Mungkin beliau telanjur marah pada Soeharto.

Pada masa Orde Baru, Pancasila dijadikan panglima dalam berbangsa dan bernegara, bahkan dalam beragama. Seakan Pancasila itu Tuhan. Menyikapi hal ini, Bapak mengatakan bahwa orang Islam melaksanakan sila satu sampai lima sebelum jauh sebelum Pancasila lahir. Pernyataan itu beliau kutip dari tokoh reformasi, matan Ketua Umum Muhammadiyah, Amien Rais. Memang bapak saya bukan Pancasilais ala kaum nasionalis.

Nasionalisme Bapak saya lebih banyak dipengaruhi oleh M. Natsir, tokoh Masyumi. Berdasarkan cerita-cerita yang disampaikan, beliau sangat mengagumi tokoh-tokoh Masyumi yang tegas menentang PKI. Bahkan, di awal Orde Baru, berdasarkan cerita dari beberapa kerabat, bapak saya pernah menjadi pengurus Parmusi tingkat ranting. Parmusi disebut-sebut sebagai penerus Masyumi yang dibubarkan oleh Soekarno. Namun ternyata, politisi Parmusi tidak seperti politisi Masyumi, kutu loncat. Sebagai seorang yang idealis, bapak merasa kecewa dan sama sekali tidak berpolitik praktis sejak saat itu.

Sebagai seorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Bapak saya mungkin tidak pernah mengetahui dan tidak pernah mengalami apa itu PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan P4 (Pedoman Pengamalan dan Penghayatan Pancasila). Namun Bapak saya percaya dan memegang teguh Pancasila sebagai dasar negara. Salah satu pesan dari beberapa pesan yang sering beliau sampaikan adalah “Mau jadi apa saja terserah, asal jangan bertentangan dengan hukum Islam dan hukum negara. Agar selamat.[3]” Jadi, menurutnya, dalam beragama manusia harus memegang teguh dasar agamanya, begitu pula dalam bernegara harus memegang teguh aturan dan hukum negara. Karena itu, sebagai warga Indonesia bapak mematuhi dasar negara Pancasila.

Pendapat mengenai Pancasila dari bapak saya memang sama sekali tidak dapat dijadikan acuan, sama sekali tidak ilmiah. Tapi, itulah adanya sikap seorang warga negara kepada negara beserta ideologinya. Seorang rakyat kecil yang dapat dikatakan tidak pernah menempuh pendidikan formal. Petani kecil yang pernah berhadap-hadapan dengan aparat negara karena memperjuangkan hak milik atas tanah bersama rekan-rekan seperjuangannya. Tapi tidak pernah memusuhi negaranya.

Bisa jadi, pemahaman Bapak Saya dan orang-orang seangkatan menghafal sila-sila Pancasila dalam versi yang sangat sederhana, Ketuhanan; Peri Kemanusiaan; Persatuan Indonesia; Kedaulatan Rakyat; dan Keadilan Sosial. Hal tersebut mungkin disebabkan sumber informasi yang sangat terbatas. Tapi, dengan pengetahuan yang sangat terbatas tersebut, mereka (para orang tua di kampung saya) peduli dengan Pancasila. Tidak seperti generasi seangkatan saya. Mungkin lebih hafal lirik lagu Garuda di Dadaku daripada Garuda Pancasila. Mungkin lebih hafal nama personel Smash dari pada Sila-sila dalam Pancasila. Mungkin lebih hafal logo klub sepak bola eropa dari pada lambang-lambang tiap sila dalam perisai burung garuda.


[1]Tanah rakyat yang dijadikan perkebunan oleh Belanda. Pada masa Indonesia merdeka, tanah persil diklaim merupakan tanah milik PTPN. Warga dianggap menumpang pada perusahaan tersebut. Baru setelah reformasi, ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, hak milik tanah dikembalikan kepada rakyat.

[2]“Pancasila sudah diubah oleh Soeharto, dulu kedaulatan rakyat rakyat berdaulat, diganti menjadi kerakyatan.” Maksudnya, kedaulatan rakyat dikebiri oleh Soeharto dengan terlebih dulu mengubah Pancasila.

[3]Pesan ini sering disampaikan ketika saya bercerita bahwa saya juga berteman baik dengan beberapa teman yang terasuk dalam organisasi yang ingin menerapkan hukum Islam di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s