Kisah Heroik pada 5 April 2013


Ucapan terima kasih untuk para pahlawan

Seminar proposal skripsi adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam proses penyelesaian tugas akhir untuk kabur dari kampus. Seminar proposal (selanjutnya disingkat semprol), bersifat gampang-gampang susah. Ada mahasiswa semester tujuh sudah semprol skripsi, tapi ada pula yang sudah hampir habis masa aktifnya (tinggal masa tenggang) baru melaksanakan semprol.

Begitu juga semprolsimun (seminar proposal skripsi muntijo), termasuk pada yang lambat alias sulit. Judul tentang grafiti bak truk sudah diajukan pada Juli 2012, tapi semprolnya baru dilaksanakan pada April 2013, hampir setahun. Cukup gawat. Padahal teman-teman mahasiswa lain hanya butuh waktu satu atau dua bulan saja untuk menyusun proposal skripsi selanjutnya diseminarkan.

Banyak hal menarik (bagi saya pribadi) yang terjadi dalam proses penyusunan proposal hingga pada seminarnya. Dibimbing oleh dosen yang hebat yang juga suka fesbukan, membuat komunikasi sangat mudah dan tidak kaku. Terima kasih bapak Sukatman Perwirawardhana dan Ibu Furoidatul Husniah. Juga dosen pembahas yang sangat baik pula, Ibu Arju Mutiah, yang sangat mudah ditemui. Juga seluruh teman-teman yang telah membantu menyiapkan segala sesuatu dari awal hingga akhir.

Ada banyak teman yang harus (bukan hanya layak) mendapat apresiasi dalam proses penyusunan skripsi tentang grafiti bak truk. Mulai dari proses pengajuan judul hingga pelaksanaan seminar proposal pada tanggal 5 April 2013. Selanjutnya akan diuraikan satu-satu para pahlawan tersebut.

Pertama, Diah Rohmawati Notasiah. Teman yang berasal dari kediri ini sering menjadi oposan yang mengingatkan sifat dan sikap negatif yang saya miliki. Proses pengajuan judul bersama teman yang juga biasa dipanggil Nota ini. Hampir sehari penuh menunggu Ketua Jurusan PBS (Dr. Sukatman) untuk meminta tandatangan, padahal beliau masih memberi materi pada kelas PLPG. Nota juga salah satu teman yang sering bertanya: “Kapan seminar?”  Pertanyaan yang sering saya jawab justru dengan gurauan. “Sing penting seminar disek ape lulus kapan sekarep”, kata Nota. Tidak hanya itu, Nota juga membantu menyiapkan berkas yang diperlukan untuk seminar. Mungkin karena jengkel atau saya yang terlalu meruwetkan akhirnya dia berkata: “wes tak gowo aku ae!” Nota membawakan dan menatakan seluruh berkas yang dibutuhan sekaligus mencetak satu berkas yang masih kurang. Suwon, Not. hehehe.

Kedua, Dia Oktavia AR. Teman yang biasa dipanggil Ocik ini (jangan tanya dari mana asal panggilan ini. saya juga tidak tahu) sering meruwetkan sekaligus sering saya ruweti. Ada banyak hal yang telah dilakukan untuk membantu. Ocik telah membantu sebagai konsultan teknis. Mengenai apa yang harus dilakukan dan dan dipersiapkan. Selain sebagai konsultan, Ocik juga menjabat sebagai menteri perbadokan yang kemudian berganti nama menjadi Bulog (badan urusan logistik). Menyiapkan badokan eh logistik seminar. Bahkan, masih memberi dana talangan saat anggarannya defisit. Aku nduwe utang piro, Cik? Ada usulan nama lain untuk kementerian ini dari Ababal menjadi Menteri Ketahanan Pangan. Mungkin nama ini yang lebih elegan.

Pahlawan yang ketiga adalah Ababal Ghussoh. Rekan yang satu ini bertindak sebagai moderator. Tidak diberi insentif apapun mau juga. Dasar menggila! Datangnya pun jauh lebih awal dibanding teman-teman yang lain termasuk saya yang berkentingan dalam seminar yang semula di helat di ruang 29 tersebut. Mungkin Ababal sudah menanti terlalu lama. Maaf kawan.

Yang keempat adalah Nurul Hidayah. Oranggila yang satu ini menjabat menteri pengairan. Menyediakan minum untuk teman-teman yang telah sudi hadir dalam seminar yang diselenggarakan sore hari. 14.00 WIB. Jam paling tepat untuk tidur. Rul, kalau ada sisa anggaran tolong kembalikan. Kalau anggarannya kurang jangan minta tambahan. Oke???

Yang kelima, adalah Febriana Tri Utami, biasa saya panggil Bona. Bona ini teman yang baik meskipun sering mengejek dan atau membuat ruwet plus menghina. Salah satu teman 2009 yang masih menempuh KK-PPL. Semangat bu Guru! Rela datang dalam seminar saya meski harus menembus hujan. Karena datang terlambat, terpaksa harus nggotong kursi, padahal di ruang seminar masih ada kursi kosong. Siapa yang salah?

Selanjutnya adalah Ahmad Syukron dkk. Teman yang sering menjadi pelampiasan penghutangan pulsa ini banyak membantu dan menginspirasi. Syukron, Rizky, Giri, dan Arip banyak membantu dan menghibur. Saat ada di pangkalan gedung 1, banyak hal mengenai skripsi didiskusikan di sela  canda gurau. Juga ketika ada di lorong derita (lorong lantai 2 tempat menunggu dan mengantri untuk bertemu dosen).

Para pahlawan lain, yang telah membantu memberi inspirasi baik langsung maupun tidak langsung juga layak saya berikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Termasuk kepada rekan-rekan yang telah membantu menghimpun data. Menjadi pemain sirkus dadakan di jalan raya. Tangan kanan pegang setang setir motor sementara tangan kiri memegang TG (telepon genggam) untuk memotret grafiti bak truk yang melaju di depannya. Para pemain sirkus seperti ini (atau variasi pengembangannya) antara lain: Qibtiyah Marits Yana, Wahyu Ardiansyah PS, M Nurul Hidayah, Siti Aminah, Dia Oktavia AR, Ababal Ghussoh, Jatmiko Hadi Susanto beserta nyonya.

Jika nanti ada usulan hari pahlawan lain selain tanggal 10 November, saya pasti akan mengusulkan tanggal 5 April. Untuk mengapresiasi seluruh bantuan yang telah teman-teman berikan kepada saya. Selamat menggila meski di tempat dan cara yang berbeda!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s