Limbad jadi Pejabad?


(Sedikit Bicara Banyak Diam!)

Ada sebuah ungkapan berbahasa madura: talk less do more. Sedikit berbicara banyak bekerja. Jika Limbad benar-benar jadi wakil bapati, maka dia akan jadi wakil yang baik bagi bupatinya karena sedikit bicara banyak diam. Masalah kerja atau tidaknya Limbad, saya yakin Limbad adalah pekerja keras. Bagaimana tidak? Linggis saja bisa dibuat bengkok! Apalagi yang lain?

Selain itu, Limbad bisa mengubah kebiasaan buruk para pejabat. Selama ini, hubungan wakil dan pasangannya (gubernur atau bupati/walikota) di Indonesia banyak yang tidak harmonis. Dengan lebih banyak diam, maka dia akan menjaga hubungan dengan bupatinya tetap harmonis. Setidaknya, jika pun ada perselisihan tentu tidak akan diketahui oleh publik. Dengan lebih banyak diam, Limbad juga sukses membuka lapangan kerja baru yaitu: Juru bicara wakil bupati. Hebat bukan?

Sebenarnya apa yang menarik minat Golkar dan Hanura mengusung Limbad sebagai cawabup Tegal? Pastinya yang paling menarik dari diri Limbad adalah rambutnya. Penonton acara TeVe yang menampilkan Limbad sebagai pesulap tentu tahu, Limbad sanggup menarik bus dan truk dengan tali yang diikatkan pada rambutnya. Tentu Limbad sangatlah menarik. Menarik kendaraan.

Bukan ingin mengolok Limbad, sebagai warga negara tentu dia memiliki hak dipilih dan memilih. Limbad memilih untuk bisa dipilih. Limbad tidak salah, tapi yang menjadi masalah adalah kok bisa-bisanya Limbad diusung jadi cawabup? Golkar menggadang ketua umumnya sebagai capres tapi masih bingung mencari cawapres. Melihat kecenderungan partai Golkar di tegal yang mengusung pesulap sebagai wakil, bukan tidak mungkin cawapres yang diusung Golkar juga dari latar belakang yag sama: pesulap. Jadi lebih mudah, seandainya ada masalah tinggal berkata: “kita tidak pernah kenal, kita tidak pernah bertemu sebelumnya, oke?” (kata-kata klise yang diucapkan para pesulap.

Bisa pula majunya Limbad sebagai calon wakil bupati merupakan upaya untuk membalas dendam. Limbad sebagai akrobator (tukang akrobat) marah karena pekerjaannya mulai diambil alih oleh para politisi. Para politisi sudah mulai berakrobat naik ke atas kursi dan mulai menggebrak-gebrak meja. Jika dibiarkan bisa jadi, politisi meningkatkan aksi akrobatiknya dengan naik ke pedang dan golok seperti dirinya. Mungkin Limbad juga merasa iri karena aksi akrobatnya memakan beling masih kalah menarik dengan aksi politisi yang tidak hanya bisa memakan beling tapi juga aspal, jembatan, bahkan gedung.

Limbad tidak hanya sudah merasa kecewa. Dia mungkin merasa layak dan tidak mungkin dikudeta jika kelak terpilih sebagai wakil bupati. Tidak akan mengalami hal yang sama dengan Aceng Fikri yang dilengserkan karena menikah dengan gadis belia, lha Limbad sudah punya istri muda, sah pula. Jadi, Limbad tidak mungkin bermasalah dengan pernikahan ketika menjadi wakil bupati, karena masalah pernikahannya sudah terjadi sebelumnya (entah masalah itu beres atau tidak).

Oh Indonesia, negeri demokrasi yang benar-benar demokratis. Setelah banyak selebriti (aktris, penyanyi, pesinetron) yang menjadi anggota legislatif, ada penyanyi yang ingin jadi presiden. Itu hak seluruh warga negara. Lha presiden saja bisa jadi penyanyi, masak penyanyi tidak boleh jadi presiden. Begitu pula dengan Limbad. Jika Limbad kelak terpilih jadi wakil bupati, semoga di tetap pada hobinya memakan beling. Semoga hobinya tidak berubah menjadi: makan jembatan dan aspal. Selamat berjuang Bang Limbad, untuk menjadi pejabad, harapanku janganlah jadi bejad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s