Skripsi itu Men-DEWA-sakan


Skripsi adalah tugas akhir yang menjadi petanda bahwa seorang mahasiswa telah melakukan pengkajian (penelitian) sesuai dengan bidang ilmunya. Cakupan objeknya mungkin sangat luas, terlebih untuk ilmu-ilmu sosial. Misalnya ada sebuah penelitian grafiti yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan politik dan pemerintahan yang kemudian dibukukan berjudul Politik dan Grafiti.Grafiti yang biasanya diteliti oleh mahasiswa jurusan komunikasi dalam hal ini diteliti oleh mahasiswa jurusan politik.

Tapi, sepertinya tidak ada jurusan yang memiliki cakupan kajian skripsi yang lebih banyak dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesi (PBSI) khususnya yang ada di FKIP Universitas Jember. Ditilik dari nama program studinya, setidaknya ada tiga fokus keilmuan yang bisa dijadikan fokus penelitian, yaitu pendidikan; kebahasan; dan kesastraan. Belum lagi turunan dari ketiganya yang bisa sangat luas.

Karena kesangat-luasan bidang yang bisa dikaji, mahasiswa PBSI kadang sampai bingung mau meneliti apa. Ditambah lagi dengan efek kebingungan lain yang bisa mengikuti pemilihan bidang kajian tertentu: dosen pembimbing. Harus diakui, memang ada dosen yang enakan dan dosen yang kurang enakan. Hal ini berkaitan dengan kesibukan masing-masing dosen yang kadang tidak bisa dipahami oleh sebagian mahasiswa.

Hal itulah yang men-Dewa-kan sekaligus mendewasakan. Kata ‘dewa’ selain berarti nama grup band juga bersinonim dengan kata Tuhan. Dalam perkembangannya, kata dewa juga bisa bermakna amat-sangat misalnya dalam kalimat: galau tingkat dewa atau guyonane tingkat dewo, ngomong sepisan iso lucu (kalimat Soe ketika berkunjung ke kediman Arif Zakaria). Dalam hal ini kata mendewakan diartikan sebagai tingkat tinggi.

Mengapa skripsi bisa mendewasakan sekaligus mendewakan? Bukan hanya harus mencari referensi dalam  menyusun kajian pustaka yang tidak mudah. Sebagian penelitian mahasiswa PBSI mengharuskan penelitinya menguasai bahasa daerah bahkan kadang juga harus memahami tulisan pegon (huruf Arab bahasa Jawa atau Madura). Misalnya penelitian folklor Dewi Ayu Rengganis oleh Dwi Kartika, salah satu sumbernya adalah naskah pegon Madura.

Semua itu masih tidak seberapa, jika dibandingkan kesabaran yang harus setingkat dewa. Betapa tidak? Untuk menemui dosen pembimbing skripsi, tidak jarang mahasiswa harus menunggu seharian, itupun tidak menjamin bahwa dosen yang bersangkutan bisa membimbing. Bukan berarti dosen yang tidak mau membimbing penyusunan skripsi, tapi masing-masing dosen memiliki kesibukan yang memang tidak bisa ditunda. Oleh karena itu, mahasiswa yang bisa memiliki kesabaran tingkat dewa serta pengertian tingkat dewa maka dia akan istikomah menyusun skripsi.

Seperti tradisi lisan masyarakat melayu: semakin tinggi pohon maka semakin kencang anginnya. Jadi, kalau menurut bahasa alay: Kesulitan tingkat dewa hanya untuk skripsi dengan kulitas tingkat dewa juga.

Meski tak bisa menjadi dewa, setidaknya skripsi bisa mendewasakan. Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s