Kisah Mahasiswa Makelar Fotokopi


mahasiswa fotokopiMahasiswa identik dengan fotokopi, buktinya di sekitar kampus banyak sekali penyedia layanan fotokopi. Menurut hukum ekonomi: semakin tinggi permintaan maka semakin tinggi pula penawaran. Karena banyaknya jumlah penawaran jasa fotokopi juga berdampak pada keseimbangan dan persaingan harga. Itulah hukum ekonomi pasar. Bukan sok, jadi ekonom, (hehehe) karena belajar bahasa dan sastra berarti juga belajar seluruh sendi kehidupan, termasuk salah satunya adalah ekonomi.

Hukum ekonomi pasar tidak berlaku di kelas PBSI angkatan 2009 A, kelasku kuliah. Khususnya untuk kasus jasa fotokopi. Seperti kebanyakan mahasiswa, ada saja tugas atau materi kuliah yang harus difotokopi. Aku ingat dulu, mahasiswa yang sempat menjadi korlap fotokopi adalah /Gandhi Marhaeni Antoko, Kera Ngalam ini menduduki jabata informal ini di semester pertama. Setelah sibuk dengan dunianya dia justru sering menggunakan jurus menghilang dari kelas. Jabatannya sebagai korlap fotokopi digantikan oleh Indri Wahyu Lestari kadang juga dipanggil Bu Lurah (Pak Lurah, Pisss….).

Indri ini kalau jadi pejabat nanti, pasti tidak mau melakaukan korupsi dalam penggelembungan dana. Betapa tidak, aku ingat, ketika Indri mengoordinasi pemotokopian sebuah materi kuliah, banyak mahasiswa yang meberikan amanat untuk difotokopikan, dia mengembalikan 200 rupiah uang kembalian, masing-masing mahasiswa. Saya berdoa semoga Indri bisa menjadi pejabat, agar makmur negeri ini.

Ada lagi yang biasa menjadi korlap fotokopi yang masa jabatannya bersamaan dengan Indri, namanya Diah Rohmawati Notasiah. Tak ada yang berkesan dari korlap fotokopi yang satu ini. Tapi ada satu kalimat yang diucapkannya ketika hendak mengundurkan diri dari jabatan korlap fotokopi. Dengan bahasa jawa dan nada bicara mendayu –maklum dia mahasiswi asal Kediri- dia mengatakan: nik titip nang aku fotokpine larang, mergo aku motokopi sing cedak karo kosanku, aku kan gak nduwe sepedah….

Apakah Gandhi, Indri, dan Nota mahasiswa makelar fotokopi? Bukan, mereka hanyalah koordinator aksi fotokopi, jabatannya itu diemban juga tidak begitu lama. Mungkin karena lebih banyak ribetnya. Harus memotokopi, mendaftar siapa saja mahasiswa yang memberikan amanat, belum lagi masalah jika ada yang terselip sudah diambil apa belum.

Ada tiga mahasiswa PBSI yang menjadi makelar fotokopi di kelas A angkatan 2009. Tiga ini sering juga menjadi empat, yaitu: Jatmiko Hadi Susanto (Wong Madiun), Nurul Hidayah (Oreng Bendebesah), Ababal Ghussoh (Wong Jember), Muntijo (Wong Hebat, hehehe). Ababal secara de jure adalah angkatan 2009 kelas B, tapi secara de facto dia sering menelusup ke kelas A. Itulah sebabnya makelar fotokopi kadang berjumlah tiga kadang empat. Keempat orang ini begitu bersemangat menjadi makelar fotokopi, karena ada laba yang bisa diperoleh meskipun sangat kecil. Paling tidak, tidak perlu mengeluarkan biaya fotokopi materi perkuliahan empat mahasiswa ini, paling iya bisa dibuat untuk makan di depan gedung satu, dan yang paling sering adalah, cukup untuk membeli teh sisri di warung belakang gedung PKM.

Meskipun sering mendapat laba dari jasa pesan-antar fotokopi ini, sebenarnya para makelar fotokopi ini tidak pernah menentukan tarif. Biasanya menggunakan retorika tingkat tinggi, “ini materi dari dosen ada empat lembar, silakan dihitung sendiri biayanya” kalimat ini yang sering digunakan. Jika perlembar dihargai Rp. 100 maka masing-masing mahasiswa harus membayar Rp. 400, tentu tidak ada kembalian maka mahasiswa yang lain biasanya membulatkan pembayaran menjadi Rp. 500. Uang pembulatan seperti inilah yang menjadi laba para makelar fotokopi ini. Keuntungan yang lain didapat dari pemilihan tempat fotokopi yang termurah. Di kelas perlembar dibanderol Rp. 100 maka kami mencari tempat fotokopi dengan harga Rp. 90 (Jalan Jawa) atau Rp. 85 (Jalan Sumatera).

Modus operandi yang dilakukan oleh mereka cukup rapi. Posisi Jatmiko sebagai ketua kelas A sangat menguntungkan, karena dosen biasanya memberikan materi perkuliahan kepada ketua kelas untuk digandakan. Kemungkinan lain adalah, dosen memberikan lembar materi kepada mahasiswa yang ada di bangku depan, nah saya yang paling sering duduk di depan dosen. Nurul, dengan wajahnya yang menyenangkan, bertugas untuk melobi mahasiswa yang ingin mengamanatkan fotokopiannya. Di mana posisi Ababal? Dia adalah pendukung seluruh kegiata kami bertiga. (asline ababal sing ra tau kerjo. Hehehe).

Dalam menjalankan aksinya, sindikat makelar fotokopi ini kadang mendapat hambatan. Hambatan biasanya muncul dari Geng Tengger (Ayun, Ayu, Uwik, ketiganya berasal dari Probolinggo) dan Geng Artis (Raras dan Nova). Tak jarang mereka berkoalisi untuk menanyakan: Jo, kok larang? Aku motokopi gur entek saitik. Jika ditanya seperti itu, jurus terjitu untuk mengatasinya adalah: mengalihkan perhatian. Jika jurus itu tidak berhasil maka dikeluarkan jurus pamungkas: No Reken.

Yang perlu diketahui adalah, para makelar fotokopi ini tidak menjadi kaya karena kejahatan yang mereka lakukan. Mending cari yang halal dan thoyyiban, mungkin itu halal tapi tidak thoyyib, kurang barokah. Hehehe.

6 thoughts on “Kisah Mahasiswa Makelar Fotokopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s