Faradlillah Pake “L”


Salah satu teman yang sekolah yang masih berkomunikasi setelah lulus adalah Fara. Nama lengkapnya adalah Faradlillah Saves. Ya, pakai ‘L’ setelah huruf ‘d’. Hal ini yang pertama kali kuingat tentang temanku ini. Biasanya dia akan marah jika ada yang salah menuliskan namanya dengan salah. Misalnya menjadi Faradhillah pakai ‘h’ atau Faradillah tanpa apa-apa setelah ‘d’. Mungkin sampai sekarang atau sampai nanti, dia akan selalu kesulitan memperkenalkan nama lengkapnya karena ‘L’ itu. Mungkin karena hal itu juga, dia hanya menulis Fara Saves untuk akun fesbuknya.

Selain tentang ‘L’ tadi, banyak hal lain yang masih kuingat. Dulu, saat kelas Sepuluh Dua alias kelas satu di SMAN 4 Jember, dia menjadi asistenku. Saat aku terpilih secara demokratis sebagai sutradara Teater Rasedo: Rakjat Sepoeloeh Doea teater yang harus membuat pementasan untuk nilai kelas sebagai tugas semester pelajaran teater. Atas jasa Fara juga aku bisa bisa menjadi seorang sutradara, meskipun sama sekali tidak punya bakat apalagi pengalaman dalam seni peran dan persutradaraan.

Dalam pemilihan yang diikuti oleh seluruh siswa kelas sepuluh dua, ada dua calon sutradara, yaitu aku dan Fara. Fara mendukungku dan mengajak anak-anak yang lain agar mendukungku. Begitu juga dengan diriku, aku mendukung Fara untuk mejadi sutradara Rasedo. Memang waktu itu terjadi persaingan sengit antara kami berdua. Bersaing untuk tidak jadi sutradara, mungkin dia punya dua alasan yang sama denganku kenapa tidak ingin jadi sutradara: malas dan takut (hehehe). Itulah sebabnya kenapa dia kutunjuk sebagai asistenku, agar dia juga merasakan beban, kemalasan, dan ketakutan yang kurasakan sebagai sutradara.

Tapi, berkat itu semua akhirnya naskah drama pertamaku (dan sementara sebagai yang terakhir) dipentaskan. Meskipun harus melalui perdebatan keras karena bertema kritik sosial, padahal teman-teman yang lain ingin cerita yang lain. Atas persekutuan sutradara dan asisten itu pula terjadi nepotisme dalam skala kelas. Pemeran utama drama yang berjudul ‘Laptop’ adalah teman dekat kami: Ribi (Otong); Ina (Emak Otong); Fajrul (Ketua DPR); Devan (Korlap Demo). Untuk teman-temanku yang lain di Rasedo, tolong maafkan aku. J

Fara sebagai pelajar di SMAN 4 Jember juga tidak baik-baik amat. Kesimpulan itu kudapat ketika ingat dia bersama Ina, teman sebangkunya yang sama-sama berkerudung sering mendengarkan lagu melalui earphone yang disembunyikan di balik kerudung mereka. Padahal mereka duduk di bangku deretan ketiga dari belakang. Jadi, cukup dekat dengan bapak dan ibu guru di depan.

Satu hal lagi yang kuingat ketika kelas satu adalah, kami (aku dan Devan) pertama kali mendengar lagu Kangen Band, entah apa judulnya yang jelas liriknya begini: kuatkanlah hatimu/ oleh siksa orang tuamu/ ku yakin kita mampu/ bila kita saling menunggu/. Saat itu, masih belum kami ketahui band, nama atau rupa penyanyinya. Waktu itu, kami mendengarkan lagu itu dari mp3 player milik Fara.

Selanjutnya, ketika kelas dua aku tak lagi sekelas dengan Fara maupun teman-teman dekatku yang lain ketika kelas satu. Mereka masuk ke jurusan IPA dan dari 25% (salah satunya Fara) siswa kelas unggulan XI IPA 4 diisi oleh jebolan kelas sepuluh dua. Termasuk mayoritas dibanding kelas sepuluh satu sampai sepuluh enam. Sedangkan aku, dengan bangga memilih jurusan IPS karena cinta dengan pelajaran sejarah dan sosiologi (terutama karena malas untuk menghitung dalam pelajaran matematika, kimi dan fisika). Jadi, karena banyaknya siswa kelas sepuluh dua yang masuk ke kelas XI IPA 4, aku merasa kelas tersebut sebagai kelas keduaku setelah kelas XI IPS 2. Tentu ini hanya perasaanku, mana mungkin anak-anak XI IPA 4 sudi menerima anak IPS sebagai bagian dari mereka. hehehe.

Tapi, perpisahan jurusan ini tidak memisahkan pertemanan antara kami. Aku ingat, dulu sewaktu pulang sekolah sehabis salat duhur, aku, David, Ribi, Fara dan Ina masih sempat bercengkrama di musalla Smapa (nama beken SMAN 4 Jember). Sebenarnya yang membuatku sangat ingat bukan masalah kumpul dan bercandanya tapi karena Ina dan Fara sering beli snack ukuran jumbo (maklum selain menggila, makan juga hobiku). hehehe.

Pernah suatu ketika (entah masih kelas satu, atau kelas dua) kunci motor Fara hilang, padahal motornya dikunci stang. Aku dan teman-teman lain menemani Fara di sekolah menunggu pak montir dari dealer sebelah sekolah membuka kunci secara paksa. Sebagai teman (dan berharap datangnya snack ukuran jumbo) aku dan teman-teman yang lain ikut menemani sampai sore.

Fara hanya sekali menginjakkan kaki ke rumahku yang ada di pelosok negeri bagian kecamatan Ajung, Jember. Begitu sampai di rumahku dia ngomel-ngomel, omelannya ini dibenarkan oleh Nayirotul I’anah alias Iik yang waktu itu juga pertama kali ke rumahku, padahal rumahnya ada di desa tetangga. Sampai-sampai Fara mengeluarkan sumpah palapa: “aku gak kate mrene maneh kecuali nek kamu nikah”. Buh. Parah. Memang, jalan menuju rumahku membuat orang disayang Tuhan. Harus selalu sabar menghadapi cobaan jalan yang seperti sirkuit motor cross.

Jika diceritakan semua tentang Fara, tentu tidak akan ada habisnya. Ada salah satu kisah yang sangat berkesan tentang kawanku ini, tapi tak patut untuk kuceritakan. Karena, setiap kali aku bertemu dengannya setelah lulus sekolah dan aku menyinggung masalah itu, dia pasti marah bukan buatan. Seperti terakhir ketika kami bertemu di rumah Iik sekitar 4/5 hari setelah Lebaran 1433H kemarin. Aku panggil oleh Iik melalui ponselku, mengabarkan bahwa di rumahnya ada Fara yang baru datang dari Probolinggo, rumahnya. Aku disuruh untuk ke rumah Iik saat itu juga, “kalau tak mau, lebih baik tidak usah berteman”, kemudian Iik menutup telepon.

Meskipun aku sedang sibuk bukan kepalang, kupaksakan juga untuk memenuhi undangan dadakan yang sama sekali tidak sopan itu. Sudah ada David di rumah Iik, kami bercanda, dan kembali menyinggung masalah yang sensitif yang tak berani lagi kuceritakan. Akhirnya, Fara marah. Bahkan sampai aku pamit pulang bersama Ribi yang datang belakangan. Sementara, Iik, Fara, David, dan Seorang teman mereka juga pergi. Dalam perpisahan teman-teman yang dulu sering menggila di musalla Smapa itu, Fara tetap mrengut padaku.

Tanggal 7 Oktober ini, Fara ulang tahun. Tak ada yang bisa kuberikan padanya. Hanya doa dari kawan untuk kawan. Semoga kau tak lagi merengut. J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s