Tuhan, Tolong Sisakan Perawan bagi Kami


Jika ada seorang wanita yang mengaku sudah tidak perawan kepada pacarnya, dan akhirnya pacarnya tidak lagi suka kepada wanita itu dan berefek ketidak sukaan wanita kepada pasangannya, maka siapakah yang bersalah? Siapakah yang benar? Padahal sebelumnya mereka saling cinta.

Jika hal itu memang benar-benar terjadi, mungkin keduanya benar, atau mungkin keduanya salah. Keduanya bisa salah, si wanita salah karena bagaimanapun juga berhubungan badan di luar pernikahan adalah pelanggaran terhadap atuaran agama, jika pun tidak beragama, itu pelanggaran terhadap aturan moral dan negara. Si pacar wanita yaitu si pria juga mengandung kesalahan, si pria tidak benar-benar mencintai apa adanya. Padahal, mencintai yang tulus adalah ya mencintai tanpa tuntutan apa-apa, bahkan mencintai dengan tulus adalah mencintai meskipun tidak dicintai balik. Adakah cinta yang seperti itu?

Mereka berdua juga sama-sama benar. Si pria tentu akan berpikir, kenapa harus memilih yang (maaf) sisa jika yang lain masih ada? (benarkah masih ada perawan di zaman yang sok waras ini?). Si wanita juga benar. Bukan berarti membenarkan kesalahan yang pernah diperbuat, tapi tindakannnya benar dengan mengatakan jujur tentang dirinya.

Seperti halnya cinta, jujur sangat mudah didefinisikan tapi sangat sulit untuk diimplementasikan. Si wanita telah bisa menjalankan perintah “jujurlah meski itu pahit.” Adakah yang lebih pahit dari mengakui telah tidak perawan bagi seorang wanita?? Sementara bagi yang lainnya (terutama saya) hanya bisa mengatakan: jujur iku makmur, katakanlah dengan jujur meski itu pahit, dlsb.

Maka, jika ada wanita yang mengakui ketidakperawanannya kepada kekasihnya dia adalah wanita yang berani jujur dan dipastikan jujurnya itu sangat pahit sekali. Kejujuran tersebut patut untuk dihargai. Angkat topi untuk itu.  Dan, seandainya ada pria yang mau menerima apa adanya wanita seperti itu, maka hatinya juga mulia. Menjaga mereka yang mengakui kesalahannya dan tidak membiarkan sang wanita untuk kembali dalam kesalahannya.

***

Memang, di zaman yang selalu sok waras ini, sepertinya pergaulan bebas menjadi hal yang bebas. Yang tidak ikut bebas bergaul dianggap tidak gaul.

Jika yang tidak gaul itu yang disebut gila maka hebatlah orang yang menggila itu. Jadi ingat komentar seorang teman di facebook yang menukil dari Alqur’an. “atthoyyibun lit thoyyibat” (lelaki baik untuk perempuan baik). Tapi perlu digarisbawahi juga, orang baik adalah bukan sekedar orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Orang baik-baik adalah orang yang mengakui kesalahannya jika pernah melakukan dan tidak pernah mengolok-olok orang yang salah meskipun tidak pernah melakukan kesalahan.

Jauh lebih baik orang yang pernah melakukan kesalahan dan mengakui kesalahannya daripada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan tapi suka mengolok-olok orang yang melakukan kesalahan.

Setidaknya, benar apa yang pernah ditulis oleh Rekan Ababal Ghussoh dalam akun facebooknya: Tuhan, tolong sisakan perawan bagi kami. Kurang lebih tulisannya begitu. Tentu yang diharapkan tidak hanya perawan raganya, tapi juga perawan jiwa dan hatinya. Bersih dari noda kedengkian dan tidak pernah diperkosa oleh keangkuhan. Menjaga kehormatan dan rasa manusiawi demi nilai kemanusiaan.Wallohu a’lam.

2 thoughts on “Tuhan, Tolong Sisakan Perawan bagi Kami

  1. perawsn itu lebih dihargai
    lebih baik kawin dgn janda status jelas mas kawin murah dr pd kawin ma yg ngak perawan krn zina status ngak jelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s