Kata “Wisuda” Berasal dari Jember


Ketika aku menanyakan arti wisuda pada Cak Rat, serta merta dia menyanyi. Lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi (dulu) cilik, Tasya. Apakah arti wisuda? Wisuda tidak makan.. Wisuda tidak minum…. Jelas saya protes! “Cak, itu PUASA! bukan WISUDA!”

“lha, Kau kenapa tanya wisuda padaku? kuliah saja aku tidak. Aku ya tidak mengerti arti Wisuda.” Cak Rat menjawab dengan nyengir. seakan tak punya dosa,  padahal dosanya sudah tak terhingga. “Mungkin artinya begini, Jo.” Cak Rat menambahkan, “Wisuda itu asal muasalnya dari Jember. Kau tahu kan? Bahasa Jember itu khas, unik karena pertemuan bahasa Jawa dan Madura. Bisa jadi kata wisuda juga berasal dari Jember.”

“Kok bisa dari Jember, Cak?” Aku sedikit heran. Seharusnya aku tidak perlu heran, karena Cak Rat memang selalu aneh. Tapi tetap saja keheranan tak pernah bisa dilepaskan dari sosok yang satu ini.

Gini, Jo. Dulu ada orang dari bali berkasta sudra yang belajar kepada Empu Pitrang. Kau tahu? Empu Pitrang ini guru spiritual kadipaten Jember di zamannya. Padepokannya mencakup wilayah kecamatan Patrang sekarang. Padepokan ini memiliki tiga tempat utama yaitu bangsal tempat belajar agama, sekarang jadi pesantrennya Kiai Muzakki. Bangsal tempat belajar bela diri, sekarang jadi Stadion Notohadinegoro. Dan, bangsal tempat pengobatan, sekarang jadi RSUD dr. Soebandi.” Cak Rat bercerita perlahan namun pasti.

Sebenarnya aku tahu, dalam hal ini Cak Rat sedang membual. Tak perlu berdebat dengan orang aneh ini. Tapi aku masih ingin tahu asal kata wisuda. “Lalu?” Aku bertanya kelanjutan cerita Cak Rat.

Si sudra ini yang pertama kali lulus dari padepokan Empu Pitrang. Empu Pitrang memberikan wejangan kepada muridnya: Saiki koen wis, Sudra. Lulus. Iso ngamalne ilmu. Kanggo kautaman kauripan. Murid yang lain yang belum lulus menimba ilmu dari Empu Pitrang punya keinginan wis koyo sudra. Karena para murid selain berbahasa Jawa juga banyak yang berbahasa Madura, maka pengucapannya dipersingkat menjadi wis sudra.”

“lho, Cak? masak orang madura suka menyingkat ucapan?” Aku memotong.

“Iyo, Jo. Contohnya kata ngampong lebet  (numpang lewat) diucapkan pong lebet oleh penutur Madura. Jadi, wis koyo sudra jadi wis sruda. Lambat laun kata wis sruda juga memiliki makna lulus. Karena lidah orang jawa sulit mengucapkan wisruda akhirnya lambat laun berubah menjadi wisuda.”

“Oalah… gitu, ya… terima kasih, Cak atas informasinya.”

“Eh, Jo. Kutinggal dulu ya!” Cak Rat tergesa-gesa meninggalkan halaman parkir gedung 3 FKIP Unej.

“Mau ke mana, Cak?” Aku berusaha mencari tahu hendak ke mana dia pergi. Sambil terus berjalan, dia berteriak menjawab pertanyaanku. “Mau ikut demo! Tolak kenaikan BBM! Kebenaran disuarakan tak untuk menang tapi demi kebenaran itu sendiri! Tangan mengepal maju ke muka!” Cak Rat memang aneh. Dia bukan mahasiswa tapi bahasanya seperti anak pergerakan. Aneh adalah nama tengahnya, jadi: Cak ‘Aneh’ Rat.

Saat masih agak bingung memikirkan keanehan Cak Rat datang temanku yang bernama Nina. Temanku ini aneh tapi bentuk keanehannya lain dari Cak Rat. Nina kalau tersenyum dingin, tapi tetap menghangatkan. “Eh, siapa tadi itu? Kok teriak-teriak seperti tak berpendidikan?” Nina bertanya dengan nada datar.

“Dia memang tak berpendidikan. Hahaha.” Aku mencoba bercanda. Nina tetap saja tak tertawa. Mungkin kotak tertawanya rusak. “Eh, Nin, tau artinya wisuda? tadi aku tanya sama temanku itu jawabannya ngawur.”

“Oh, Wisuda itu artinya pelantikan. Liat aja di kamus. Pasti artinya itu. Ya, udah. Permisi.” Nina melengos pergi.

Ah, setidaknya aku sekarang tahu. Wisuda itu pelantikan. Pelantikan untuk menjadi  sesuatu. Kalau wisuda dari Universitas berarti dilantik menjadi Sarjana. Tapi, kenapa pelantikan pejabat tidak disebut wisuda juga ya? apakah wisuda hanya untuk mereka yang terdidik?  Jadi, pejabat tak layak diwisuda. Lha, berarti para pejabat itu bodoh eh salah tidak terdidik ya? ah, pusing.

***

Setelah Nina pergi, aku tak tahu harus berbuat apa. Iseng-iseng buka fesbuk. Ada teman fesbuk dengan nama akun Namtukas Sotim -sepertinya nama fesbuk penuh dengan kelebaian- menulis status panjang: Belajar itu yang penting adalah ilmunya. Apa gunanya dapat nilai A tapi tak bisa apa-apa. Yang diwisuda seharusnya tidak hanya raga. Wisuda yang terpenting adalah wisuda hati. Siap menjadi insan yang berbudi.***

 

 

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kemiripan nama dan watak semata-mata usulan dari Cak Rat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s