Susunan Kalimat Bahasa Jawa dan Kemungkinan Pengaruhnya terhadap Susunan Kalimat Bahasa Indonesia


Disusun Untuk Memenehui Tugas Analisis Kesalahan PBSI FKIP UNEJ

PENDAHULUAN

Kenyataan menunjukkan bahwa si terdidik di Indonesia pada umumnya dwibahasawan. Bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa kedua bagi mereka. (Pateda, 1987:16). Pelajar (si terdidik) bahasa Indonesia sebelum belajar bahasa Indonesia telah menguasai bahasa ibu (bahasa pertama) yang berupa bahasa daerah. Dalam kajian ini, bahasa pertama merupakan bahasa Jawa di Kabupaten Jember atau bahasa Jawa Jember. Jawa Jember dieksplisitkan karena bahasa Jawa di kabupaten Jember merupakan bahasa Jawa yang muncul karena adanya persinggunan antara bahasa Jawa dan bahasa Madura.

Analisis kontrastif adalah

Analisis kontrastif secara mirolinguistik disesuaikan denga subsitem linguistik secara murni, yani subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem semantik (Parera, 1994:110-111). Dilihat dari empat tataran (subsistem) mikrolinguistik di atas, kajian ini berada pada tataran sintaksis, yaitu permbandingan ciri-ciri pengembangan frase dan penggabungan (penyusunan) kalimat.

Setiap bahasa memiliki kaidah dan norma masing-masing. Bahasa Indonesia memiliki ciri yang berbeda dengan bahasa Jawa. Baik dalam susunan kalimat maupun penggunaan diksi. Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ada kemiripan karena bahasa serumpun, namun juga memiliki perbedaan dalam beberapa hal. Misalnya dalam susunan kalimat bahasa Indonesia, yang efektif adalah berupa susunan kalimat aktif. Susunanan kalimat bahasa Jawa di Jember cenderung berupa kalimat pasif.

Diksi yang digunakan dalam suatu sususnan kalimat bahasa Jawa belum tentu terjemahannya tepat digunakan dalam bahasa Indonesia. Misalnya dalam frasa angin gedhe, terjemahan dalam bahasa Indonesia bukan angin besar melainkan angin kencang.

Hal-hal di atas perlu untuk dikaji mengingat sebagian besar pelajar di kabupaten Jember berbahasa ibu bahasa Jawa dan Madura. Bahkan ada yang berbahasa Jawa-Madura dan Madura-Jawa karena adanya persinggunan kedua bahasa tersebut. Karena hal itulah pelajar bahasa Indonesia di Jember memiliki kecenderungan menggunakan kaidah dan norma bahasa ibu dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, analisis kontrastif ini diperlukan untuk membantu guru bahasa Indonesia untuk mengajarkan bahasa Indonesia dan membantu pelajar untuk lebih mudah menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa target di sekolah.

PEMBAHASAN

Konsep Perbedaan dan Prediksi Kesalah

Dalam Bahasa Jawa Jember dikenal susunan jajan iku dipangan ambek aku. Dalam bahasa Jawa Mataraman mungkin berbentuk jajan kuwi (iku) tak pangan. Susunan bahasa Jawa Jember di atas muncul karena adanya persinggungan dengan bahasa Madura. Dalam bahasa Madura dikenal susunan jejen ruwa ekakan ambik engkok.

Bentuk jajan iku dipangan ambek aku berpola Subjek-Predikat-Keterangan.

Untuk menjelaskan kegiatan yang sama dengan jajan iku dipangan ambek aku, Bahasa Indonesia memiliki pola kalimat yag lebih ringkas yaitu Subjek-Predikat. Susunan kalimat dalam bahasa Indonesia kue itu saya makan.

jajan iku dipangan ambek aku

S              P              K

kue itu saya makan

S            P

Kemungkinan kesalahan yang muncul adalah penggunaan pola kalimat bahasa Jawa Jember di atas dalam menuliskan kalimat bahasa Indonesia. kalimat yang mungkin terbentuk adalah kue itu dimakan oleh saya. Kemungkinan susunan kalimat lain adalah kue itu dimakan sama saya.

Perbedaan lain yang mungkin muncul adalah penyusunan frase benda dan frase sifat. Dalam bahasa Jawa dikenal susuna frase benda angin gedhe juga bentuk udan gedhe. Dalam bahasa Jawa kata gedhe (gedhi) selain mewakili konsep besar juga memiliki makna deras dan tinggi. Untuk hujan yang lebat, dalam bahasa Indonesia juga disebut hujan deras. Kemungkinan kesalahan yang mungkin terjadi adalah hujan besar. Kata besar dalam bahasa Indonesia menyatakan ukuran bukan intensitas, sedangkan dalam bahasa Jawa kata gedhe (terjemahan besar) bisa mewakili konsep ukuran dan intensitas.

Frase Bahasa Jawa Frase Bahasa Indonesia Kemungkinan Kesalahan
udan gedhe hujan lebat hujan besar
angin gedhe angin kencang angin besar

 

Sama halnya dengan frase benda udan gedhe di atas, frase sifat juga mengalami kasus yang sama. Dalam bahasa Jawa dikenal bentuk kudul dhewe untuk menyatakan berbandingan yang bermakna paling. Misalnya dalam kalimat omahe pak Kampung sing kidul dewe. Kalimat dalam bahasa Indonesia dengan konsep yang sama adalah rumah pak Kampung (Kepala Dusun) yang paling selatan.

Menurut Chaer (1994:371) bentuk frase yang menyatakan dalam bahasa Indonesia selalu berpola M-D, hanya penambahan kata sekali yang bisa digunakan dalam frase sifat yang berpola D-M misalnya indah sekali, jauh sekali. Pola frase sifat dalam bahasa Jawa berpola M-D.

Kidul dhewe

D         M

Paling selatan

M         D

Kemungkinan yang mungkin muncul adalah pembentukan frase sifat bahasa Indonesia yang menggunakan pola bahasa Jawa. Kesalahan penggunaan pola juga berakibat dengan penggunanaan diksi yang salah. Pola D-M untuk kidul dhewe  bisa berubah menjadi selatan sendiri. Kata sendiri memang padanan kata dhewe, tapi tidak tepat jika digunakan dalam frase sifat selatan sendiri.

Selain mengenal pola D-M untuk frase sifat. Penutur bahasa Jawa Jember juga mengenal pola D-M. Yaitu dalam frase cek abange yang bermakna sangat merah. Pola cek abange dan sangat merah sama-sama berpola D-M.

Dalam bahasa Jawa ada pertikel wong yang menyatakan heran atau terkejut. Ditunjukkan dengan adanya kalimat. Pantes gak mateng, wong genine mati. Kata wong memang bermakna orang dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, kata wong dalam contoh kalimat di atas tidak sama dengan kata orang yang bermakna manusia. Kata wong berpadanan dengan kata orang jika tidak menjadi partikel seperti wong Jember bermakna orang Jember. Dalam contoh kalimat di atas, wong tidak bermakna orang melainkan menunjukkan keheranan terhadap hal yang baru diketahui.

Untuk menunjukkan keheranan dalam bahasa Indonesia digunakan partikel eh atau bentuk eh, ternyata. Olek karena itu jika diterjemahkan menjadi pantas tidak matang, ternyata apinya mati.

Kemungkinan kesalahan yang terjadi adalah penerjemahan kata wong dalam bahasa Indonesia sehingga kalimatnya menjadi pantas tidak matang, orang apinya mati.

Penekanan Pembelajaran

Berdasarkan analisis kontrastif di atas. Pembelajaran bahasa Indonesia di Jember (juga wilayah lain yang berbahasa ibu bahasa Jawa), harus memperhatikan struktur kalimat. Pembelajaran kalimat terlebih dulu harus menggunakan kalimat yang berstruktur sama/mirip dengan struktur kalimat bahasa Jawa. Dengan demikian pelajar bahasa Indonesia lebih mudah memahami struktur bahasa Indonesia. Setelah memahami struktur bahasa yang mirip dengan bahasa Jawa, siswa dikenalkan dengan struktur bahasa Indonesia yang berbeda dengan bahasa Jawa. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pembelajaran struktur kalimat bahasa Indonesia dan meminimalkan kemungkinan kesalahan struktur kalimat yang diakibatkan oleh adanya pengaruh struktur bahasa Jawa.

Demikian halnya dengan pengajaran Frase. Frase benda memiliki pola yang sama antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia yaitu berpola D-M. Sedangkan frase sifat ada yang sama ada pula yang berbeda. Penekanan pembelajaran frase benda, juga frase sifat harus ditekankan pada makna kata (istilah). Tidak hanya asal terjemah. Meskipun ada padanan dalam bahasa Indonesia belum tentu konsep yang diinginkan dalam bahasa Jawa sama dengan konsep yang ada dalam bahasa Indonesia.

Penekanan pembelajaran diksi juga berkaitan dengan pembelajaran partikel. Partikel yang dipahami dalam bahasa Jawa tidak sertamerta dimasukkan dalam bahasa Indonesia (apalagi dengan proses penerjemahan).

KESIMPULAN

Struktur kalimat (dan frase) antara bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia memiliki kesamaan karena masih dalam satu rumpun. Bahasa Indonesia (yang lahir dari bahasa Melayu) memiliki konsep pembentukan kalimat yang sama dengan konsep pembentukan kalimat bahasa Jawa. Namun, keduanya juga memiliki beberapa perbedaan. Perbedaan tersebut di antaranya pola kalimatnya.

Ada pola kalimat S-P-K bahasa Jawa Jember yang maknanya sama persis dengan pola kalimat S-P dalam bahasa Indonesia, kue itu saya makan. Karena adanya norma/kebiasaan menyusun kalimat dengan pola S-P-K dalam berbahasa, ada kemungkinan pelajar bahasa Indonesia juga menyusun kalimat bahasa Indonesia dengan pola bahasa Jawa.

Selain itu, karena adanya kemiripan pola frase, ada kemungkinan pelajar bahasa Indonesia kurang tepat dalam menyusun kata. Pola frase sifat bahasa Jawa adalah D-M sedangkan pola frase sifat bahasa Indonesia adalah M-D. Penggunaan pola bahasa Jawa dalam pola bahasa Indonesia akan mengakibatkan kesalahan yang diikuti dengan kesalahan pemilihan diksi. Misalnya kata kidul dhewe menjadi selatan sendiri. Kata sendiri dalam bahasa Indonesia bermakna ‘seorang diri’ atau ‘tidak ada teman’  sedangkan dalam bahasa Jawa kata dhewe bisa bermakna ‘seorag diri’ (dhewean), dan ada kalanya bermakna ‘paling’. Penggunaan diksi yang sepertinya benar tetapi sebenarnya kurang tepat ini harus diperhatikan oleh pembelajar (guru) bahasa Indonesia.

SENARAI PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1994. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Cetakan ke-2. Jakarta: Bhratara Niaga Media.

Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional: Metodologi Pembelajaran Bahasa, Analisis Kontrastif, Analisis Kesalahan Berbahasa. Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga.

Pateda, Mansoer. 1989. Analisis Kesalahan. Flores: Nusa Indah.

2 thoughts on “Susunan Kalimat Bahasa Jawa dan Kemungkinan Pengaruhnya terhadap Susunan Kalimat Bahasa Indonesia

  1. Assalammualaikum, salam sejahtera..

    Artikel ini sangat bermanfaat, terima kasih kak.
    Ada satu yang menarik perhatian saya, adakah pola kalimat bahasa Jawa selain S-P-K yang dapat mempengaruhi kesalahan struktur (pola) kalimat bahasa Indonesia?

    Saya mahasiswi UNNES, sedang menyusun tugas akhir tentang analisis kesalahan berbahasa siswa khususnya tataran kalimat bahasa Indonesia. Semoga bisa berdiskusi dengan kakak….
    Terima kasih🙂

    • mbak Gita, komentarmu tak anakes ya. Memengaruhi bukan mempengaruhi. Kan njenengan yang sedang nyekripsi anakes. Silakan temukan lagi yang selain S P K. Ada atau tidak. hehehehe. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s