Harapan Penerapan Islam dalam Bidadari Itu Dibawa Jibril: Analisis Struktural Genetik oleh Muntijo


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemahaman terhadap karya sastra harus dilakukan dengan melihat segala sesuatu yang melingkupinya. Posisi pengarang, posisi karya sastra dan posisi pembacanya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karya sastra juga harus memperhatikan ideologi atau pandangan sosial pengarang dalam menghasilkan suatu karya sastra.

Karya sastra dicipta oleh seorang pengarang. Ia tidak dapat terlepas dari masyarakat dan budayanya (Pradopo, 2010:113). Latar belakang budaya pengarang memengaruhi penciptaan dan isi karya sastra.

Karya sastra secara tidak langsung merupakan penggambaran keadaan sosial masyarakat tempat karya tersebut lahir. Suatu karya sastra akan lebih mudah dimaknai dengan memperhatikan keadaan budaya penulis dan tempat diproduksinya suatu karya sastra. Karena karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teew dalam Pradopo, 2010:107).

Karena pengarang/sastrawan adalah bagian dari lingkungan masyarakat tertentu maka dalam karya sastra yang dihasilkan tidak hanya mewakili sastrawan secara individu saja. Menurut Goldman, individu berbicara sebagai juru bicara klasnya (Teeuw, 1988:153). Jadi, seorang sastrawan juga mewakili klas (golongannya). Karena Goldman adalah seorang Marxis, tentu yang dimaksud dengan kelas adalah kelas sosial (Proletar atau Borjuis).

Dalam arti yang lebih luas, klas yang dimaksud oleh Goldman bisa juga diartikan dengan pemahaman kelompok tertentu. Oleh karena itu, pemahaman sastrawan bisa mewakili pandangan kelompoknya dalam memandang suatu permasalahan (sosial).

Akan tetapi, suatu karya sastra juga tidak bisa dilepaskan dari strukturnya. Struktur karya sastra akan selalu ada dalam karya sastra. Saling berkaitan antar-unsurnya menjadi satu kesatuan yang bulat dan menyeluruh.

KH A. Mustofa Bisri yang lebih dikenal dengan nama Gus Mus adalah pengarang, kiai, seniman, budayawan juga organisatoris. Gus Mus adalah pengasuh pesantren yang juga aktif menulis puisi dan cerpen. Salah satu cerpen karyanya adalah Bidadari itu Dibawa Jibril yang dimuat dalam Media Indonesia, 3 Sepetember 2003 (lihat: gusmus.net)

Oleh karena latar belakang pengarang (Gus Mus) yang unik maka perlu digunakan analisis strukturalisme genetik. Agar dapat mengetahui makna yang terdapat dalam Bidadari itu Dibawa Jibril dengan mudah.

Permasalahan

Berangkat dari latar belakang di atas, permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah penggambaran fakta kemanusiaan tentang keadaan sosio-religius (keadaan sosial keagaaman: Islam) dalam cerpen Bidadari itu Dibawa Jibril serta pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam tokoh Aku dalam cerpen tersebut.

LANDASAN TEORI

Strukturalisme Genetik

Strukturalisme genetik (genetic structuralism) dikembangkan oleh Lucien Goldmann atas dasar ilmu sastra seorang Marxis lain. Bagi Goldmann, tidak ada pertentangan antara sosiologi sastra dan aliran strukturalis (Teeuw, 1988:152).  Teori strukturalisme genetik menekakan hubungan antara karya dengan  lingkungan sosialnya (Rosyidi, 2010:201).  Oleh karena itu, yang dikaji dalam teori strukturalisme genetik adalah struktur karya sastra juga lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial karya sastra meliputi lingkungan sosial pengarang dan pembacanya.

Definisi struktur Goldmann praktis identik dengan definisi Aristoteles (Teeuw, 1998:152). Ciri khasnya: kesatuan, kekayaan, koherensi dan sifat non-konseptual. Karya sastra memiliki struktur yang otonom, imanen yang harus digali dalam analisis yang cermat.

Yang dimaksud genetik adalah karya sastra tu memunyai asal-usulnya (genetik) di dalam proses sejarah suatu masyarakat (Saraswati, 2003:76). Dalam arti, karya sastra dapat dipahamai asalnya dan terjadinya dari latar belakang struktur sosial tertentu (Teeuw, 1988:153). Dalam masyarakat sesungguhnya manusia berhadapan dengan norma dan nilai, dalam karya sastra juga dicerminkan norma dan nilai yang secara sadar difokuskan dan diusahakan untuk dilaksanakan dalama masyarakat. (Rosyidi, 2010:201).

Jadi, kemungkinan karya sastra bisa dijadikan ukuran sosiologis yang paling efektif untuk mengukur tanggapan manusia terhadap kekuatan sosial yang ada di sekitarnya.

Tiga ciri utama perilaku manusia menurut Goldman (dalam Rosyidi, 2010:201) adalah: adanya tendensi manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya supaya hubungan lebih bermakna; adanya tendensi ke arah konsistensi menyeluruh dan penciptaan bentuk-bentuk struktural; adnya tendens mengubah dan mengembangkan struktur tersebut sebagai bukti sifat-sifat dinamik.

Fakta kemanusian menjadi prinsip utama dari teori strukturalisme genetik. Yang dapat berupa aktivitas sosial tertntu, penciptaan karya sastra dan penciptaan kreasi kultural pada umumnya. Oleh karena itu, adanya homologi antara struktur sastra dengan struktur sosial masyarakat tertentu (Rosyidi, 2010:202; Teeuw, 1988:153)

Manusia merupakan subjek kolektif, yang merupakan kumpulan individu-individu dalam satu kesatuan (Saraswati, 2003:78). Yang bisa juga disebut dengan kesadaran kolektif (Rosyidi, 2010:202). Subjek kolektif yang memiliki pandangan/kesadaran kolektif ini oleh Goldmann disebut dengan pandangan kelas sosial tertentu.

Kelas sosial yang dimaksud Goldmann menekankan pada paham Marxis yang menekankan adanya dua kelas, yaitu kelas proletar dan kelas borjuis.  Dalam arti yang lebih luas, kelas tertentu bisa dimaknai sebagai kelompok/golongan sosial masyarakat tertentu.

Pandangan dunia adalah kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannya denga anggota kelompok sosial yang lain. (Rosyidi, 2010: 202). Pandangan dunia tidak sama dengan ideologi. Pandangan dunia tidak disifatkan sebagai suatu kesadaran yang nyata, tetapi kesadaran yang mungkin (Saraswati, 2003:79) yaitu kecenderungan suatu kelompok terhadap hubungan dangan  kelompok dan semesta lain.

PEMBAHASAN

Fakta Kemanusian Latar Sosial Sejarah Bidadari itu Dibawa Jibril

Fakta kemanusian yang muncul dalam cerpen Bidadari itu Dibawa Jibril adalah kembali ngetrend-nya Islam. Mode pakaian (berjilbab) dan kegiatan-kegiatan keislaman kembali populer.

Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini. ..

…………………………………………………………………..

Teks di atas menunjukkan bahwa jilabab pada saat ini sedang populer sebelumnya berarti tidak populer. Bidadari itu Dibawa Jibril dimuat Media Indonesia pada bulan September 2003. Pada saat itu, jilbab banyak digunakan oleh muslimah baik yang jadi guru maupun pegawai (negeri dan swasta). Sebelumnya, pada masa Orde Baru, jilabab seolah menjadi hal tabu untuk dipakai pegawai.  Hal ini karena konteks politik yang menuhankan Pancasila. Yang memakai jilbab pada masa Orde Baru seolah-olah tidak mendukung Pancasila.

…. seperti kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislmaria… ……………………….

…………………………………………………………………..

“Ya, mula-mula dia ikut grup pengajian. Kan di tempat kami sekarang lagi musm grup-grup pengajian. Ada pengajian eksekutif; pengajian seniman; pengajian pensiunan; dan entah apalagi….”

Pada masa itu, juga sedang euforia kebebasan beragama. Yang Islam menunjukkan keislamannya. Muslimin kota sedang semangat untuk berislam. Di kota-kota banyak terdapat kelompok pengajian yang biasa disebut majelis taklim.

Selama orde baru, kegiatan keagamaan (majelis taklim) dilarang oleh pemerintah karena dianggap kampanye terselubung partai tertentu. Partai yang pro terhadap pemerintah adalah Golkar. Karena PPP (Partai Persatuan Pembangunan) basis massanya adalah muslim maka kegiatan majelis taklim dianggap kampanye PPP.

…. Apabila melihat atau mendengar ada orang Islam melakukan perbuatan yang menurutnya tidak rasional, langsung dia mengecapnya sbagai klenik atau bahka syirik yang harus diberantas. Dia pernah ikut mengoordinasi berbagai dmonstrasi, seperti menuntut ditutupnya tempat-tempat yang disebutnya sebagai tempat-tempat maksiat; demonstrasi menentang skolah yang melarag muridnya berjlbab; hingga demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni. ….

Teks di atas menggabarkan seorang tokoh Hindun yang memiliki afiliasi Islam tertentu. Penggambaran aktivitas Hindun mengarah pada aktivis Islam. Lebih spesifik mengarah pada kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Memang kelompok aktivis Islam yang menyuarakan pemberatasan kemaksiatan bukan hanya HTI, tapi kalimat demonstrasi menuntut diberlakukannya syariat Islam secara murni menandakana dengan jelas bahwa yang dituju adalah HTI.

Meskipun demikian, tokoh Hindun dalam cerpen ini tidak semata-mata menghakimi muslimah HTI saja. Tapi, semua orang (muslim) yang mengamalkan dan berislam hanya dengan rasionya. Hanya menafsirkan alquran secara tekstual tanpa kontekstual. Yang berdakwah dengan kurang sopan bahkan cenderung keras, tidak dengan kelembutan hati.

Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terag-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah—dia biasa memanggilnya ukhti—jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.

Fakta lain yang muncul dalam cerpen  ini adalah adanya aliran-aliran Islam yang tidak benar. Munculnya kelompok-kelompok Islam yang gurunya mengaku nabi, malaikat, bahkan mengaku tuhan.

Hal ini tampak dalam percakapan Danu (suami Hindun) dengan tokoh Aku (representasi pengarang) berikut ini:

“Gurunya yang mengaku titisan Jibril itu mengajak jemaahnya untuk membersihkan diri dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka menyiram diri mereka dengan spritus kemudian membakarnya.”

Data di atas menggambarkan akan adanya aliran sesat di Indonesia. yang pada tahun 2000-an mulai banyak bermunculan. Ada yang membakar diri demi menyucikan diri. Ada yang salat tanpa memakai baju dengan dalih bahwa baju merupakan hal duniawi yang harus ditinggal saat menghadap Tuhan. Ada yang menggabungakan ajaran dari berbagai agama sehingga menjadi satu bentuk ibadah tersendiri.

Aliran Jibril yang dimaksud dalam cerpen Bidadari itu Dibawa Jibril lebih spesifik adalah kelompok Salamullah atau kelompok Lia Eden. Lia Eden (Aminudin) adalah orang yang mengaku ditunjuk tuhan sebagai pasangan Jibril. Bahkan mengaku sebagai Jibril itu sendiri. Yang sejak tahun 2003 membuat pernyataan bahwa semua agama adalah benar.

Oleh karena anggapan tersebut, kelompok ini mengakui Muhammad, sebagai Nabi yang terakhir tapi juga mengakui Buddha Gautama, Kwan In, Isa Almasih, sebagai juru selamat. Bahkan, kelompok ini juga menyerang kepercayaan masyarakat Jawa yang Kejawen. Serangan ini diwujudkan dengan menantang Nyi Roro Kidul.

Pandangan Gus Mus Terhadap Dunia

Yang dimaksud dunia di sini adalah pandagan Gus Mus terhadap berislam dan dakwah Islam. Gus Mus ulama dan mantan Rois Syuriah (Semacam Dewan Penasihat) NU (Nahdlatul Ulama), seperti tokoh dan ulama NU yang lain menyebarkan ajaran Islam melalui lapangan kebudayaan. Mengolaborasikan atara Islam dengan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan Islam. Adapun yang bertentangan dengan Islam tidak serta merta di hapus dan dicela. Tapi diingatkan dengan cara yang sopan. Meskipun tampak bertele-tele dan kurang tegas dalam berislam dan mendakwahkannya, hal ini justru lebih efisien.

Gus Mus tidak setuju dengan cara dakwah yang hanya menggunakan kelugasan tanpa menggunakan kesopanan dan penghargaan terhadap orang lain.

Dia pernah menegur dosennya yang dilihatnya sedang minum dengan memegang gelas tagan kiri, “Bapak kan muslim, mestinya Bapak tahu soal tayammum.” Katanya, “Nabi kita mengajurkan agar untuk melakukan sesuatu yang baik, menggunakan tangan kanan!” Dosen yang ditegur terang-terangan karean merokok. “Merokok itu salah satu senjata setan untuk menyengsaraka anak Adam di dunia dan akhirat. Sebagai dosen, Bapak tidak pantas mencontohkan hal buruk seperti itu.” Dia juga pernah menegur terang-terangan  dosennya yang memelihara anjing. “Bapak tahu enggak? Bapak kan muslim?! Anjing itu najis dan malaikat tidak mau datang ke rumah orang yang ada anjingnya!”

Gus Mus menggambarkan tokoh Hindun sebagai muslimah yang tidak memiliki kesopanan terhadap guru. Penggambaran ini jelas dan sangat merendahkan nilai tata krama tokoh Hindun. Dalam tradisi NU, guru itu sejajar dengan orang tua. Harus dihormati meskipun melakukan kesalahan. Jika mengingatkan harus dengan sangat hati-hati dan sangat sopan.

Orang NU tidak akan berani menegur guru yang melakukan kesalahan dengan sangat lugas. Bahkan, di bebarapa pesantran (khususnya pesantren dengan kultur Madura) peliharaan kiai (gurunya) dihormati seperti ketika menghormati sang guru. Jika kiai memelihara kucing, seorang murid (santri) tidak berani mengusir kucing tersebut dengan kasar meskipun kucing itu sangat mengganggu.

Oleh Gus Mus, tokoh Hindun disebut Bidadari bertangan besi. Disebut bidadari oleh karena gigih memperjuangkan syariat Islam tapi menggunakan cara-cara yang kasar (lugas, terang-terangan) sehingga disebut bertangan besi. Tangan besi adalah sebutan untuk sifat yang seenaknya sendiri dengan kata lain bisa disebut diktator.

Dalam cerpen ini, Gus Mus menceritakan bahwa dakwah dengan cara yang santun justru lebih bisa diterima.

…. ketika beberapa lama kemudian dia menjadi istri kawanku, Mas Danu, ketaatannya kian bertambah, tetapi kelugasan dan kebiasaannya menegur terang-terangan agak berkurang.  Mungkin ini disebabkan  karena Mas Danu orangnya juga taat, namun sabar dan lemah lembut. Mungkin dia sering melihat bagaimana Mas Danu, dengan kesabaran dan kelembutannya, justru lebih sering berhasil dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. Banyak kawan mereka yang tadinya mursal, justru menjadi insaf dan baik oleh suaminya yang lembut itu. Bukan oleh dia.

Dalam data di atas, Gus Mus mengutarakan pandangannya bahwa berdakwah dengan cara lemah lembut justru lebih efisien. Lebih bisa diterima. Dengan menggunakan pendektan-pendekatan sosio-kultural. Seperti yang dilakukan melalui jam’iyah-jam’iyah (majelis taklim) NU. Baik yang berupa salawatan (pembacaan salawat Nabi), manaqiban, srakalan, tahlilan dan sebagainya.

Orang yang salah tidak serta merta ditunjukkan kesalahannya dan diperintahkan untuk melakukan yang benar. Tapi, terlebih dulu diajak melakukan hal-hal yang baik, kemudian diberikan contoh yang baik dan diperingatkan dengan cara yang sangat sopan.

Gus Mus beranggapan bahwa orang seperti Hindun ini sebenarnya kadar keimanannya hanya sampai pada otak (rasio) saja. Tidak sampai merasuk dalam jiwa dan hatinya. Karena hanya menekankan pada sisi syariat. Dalam Islam harusnya ada empat tataran keimanan. Yang pertama memang syariat, di samping itu juga ada tarikat, hakikat dan makrifat. Mayoritas muslim memang hanya berada di tataran syariat. Dalam budaya NU tarikat dan hakikat juga diajarkan. Meskipun tidak ditekankan. Dengan mempelajari tataran di atas syariat, manusia diharapkan untuk lebih beriman dan menghargai orang lain.

Di pesantren-pesantren dengan kultur NU kitab Ihya’ ulumuddin karangan Imam al Ghazali dan kitab Hikam karangan Ibnu Athoillah menjadi bacaan favorit. Dikaji dan di dalami di pesantren. Kedua kitab ini adalah kitab tasawuf. Rujukan untuk belajar bagaimana mengenal Tuhan (Allah) tidak hanya untuk melakukan ibadah dalam tataran rasio tapi untuk mengenal tuhan secara rohani.

Dalam cerpen Bidadari itu Dibawa Jibril, diceritakan akhirnya Hindun yang sebelumnya sangat memperjuangkan syariat bahkan menganggap syirik segala macam yang berbau klenik. Tapi pada akhirnya Hindun terpengaruh dan ikut aliran sesat yang mengajarkan untuk membakar diri.

“Ya, tetapi jin dan setan kan bisa melakukan hal seperti itu, Mas!” selaku, “kan ada cerita, dahulu Syeikh Abdul Qadir Jailani, sufi yang termasyhur itu, pernah digoda iblis yang menyamar sebagai Tuha berbentuk cahaya terang benderang. Konon, sebelumnu, iblis sudah berhasil menjerumuskan 40 sufi dengan cara itu. Tetapi, karena keimanannya yang tebal, Syeikh Abdul Qadir  bisa mengenalinya dan segera mengusirnya.”

Orang dengan tradisi NU tentu mengetahui Syeikh Abdul Qadir. Dialah guru yang tasawuf. Yang mengajarkan bagaimana mengimani Allah. Meskipun dalam perkembangannya, cerita-cerita mengenai Syeikh Abdul Qodir dihiasi juga dengan hal-hal yang berbau mistis, tapi misi yang diemban  adalah untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan. Bahkan, ketika berdoa, orang-orang NU tidak lupa mengirimkan doa untuk almarhum Syeikh Abdul Qadir Jailani.

“Wah, Mas; Hindun baru saja membakar diri.” “Apa, Mas?” aku terkejut setengah mati, “membakar diri bagaimana?”

Hal ini karena Hindun hanya menjalankan Islam berdasarkan rasio yang bisa dinalar. Kurang meyakini hal-hal hal gaib. Karena terlalu mengandalkan rasio inilah, ketika ada guru yang memberikan penjelasan dengan alasan yang bisa diterima oleh akal dan dibuktikan sendiri maka dia akan serta merta mengikuti.

Demi membersihkan dosa, Hindun mau membakar diri karena diperintahkan gurunya karena alasan untuk membersihkan diri. Sampai pada akhirnyaHindun keluar dari Islam.

…….

“Mas, Hindun sekarang sudah keluar dari Islam. Dia sudah tak berjilbab, tak salat, tak puasa. (Danu)”

 

Dari data dan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa Gus Mus sebagai pengarang mewakili  kelompok sosial Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Ulama yang dideklarasikan oleh para pendirinya sebagai organisasai yang ada di tengah.

Yang dimaksud di tengah-tengah adalah tidak terlalu keras tapi juga tidak terlalu lunak. Tidak terlalu keras dalam artian dalam menerapkan dan usaha menerapkan amar makruf nahi munkar NU menjalankan dengan sopan. Tapi juga dengan adanya klenik yang mengakibatkan syirik NU tegas menentangnya. Jika ada kegiatan budaya yang tidak ada dalam tuntunan syariat selama tidak membuat syirik tidak dilarang.

Dalam artian lain, di tengah-tengah antara yang liberal dan yang konservatif (seperti pengajian KH Muchith Muzadi, mantan dewan Mustasyar PBNU, di kantor PCNU Jember). NU tidak sependapat dengan kelompok Islam yang ingin menerapkan syariat Islam sebagai hukum negara. Karena berbagai pertimbangan. Dalam cerpen, diceritakan Hindun demonstrasi untuk penerapan syariat Islam secara murni.

Juga tidak sependapat dengan kalangan yang mengaku Islam liberal. Islam liberal ditokohi oleh Ulil Absar Abdalla yang sering mengaku sebagai Kader Muda NU yang juga menantu Gus Mus. Kalangan Islam liberal yang tergabung dalam JIL (Jaringan Islam Liberal) menganggap bahwa semua agama adalah benar dan menggali keislaman dengan rasio semata. Jaringan Islam Liberal sama sekali tidak setuju dengan penerapan syariat Islam sebagai hukum negara bahkan menghujat kelompok yang ingin menerapkannya sebagai hukum negara Indonesia. Oleh karena itu, JIL berafiliasi juga dengan kelompok-kelompok agama yang dianggap sesat (baik sesat menurut Islam maupun sesat menurut agama lain: Nasrani).

NU yang diwakili Gus Mus yang termanifestasi sebagai tokoh Aku dalam Bidadari itu Dibawa Jibril, tidak sepaham dengan Hindun ketika terlalu konservatif ingin menerapkan Islam secara murni (kaffaah) juga tidak setuju ketika Hindun berbalik menjadi pengikut aliran yang mengaku dipimpin oleh Jibril.

KESIMPULAN

Fakta kemanusiaan yang muncul dalam cerpen Bidadari itu Dibawa Jibril antara lain: adanya kelompok Islam konservatif yang lugas cenderung kasar dalam berdakwah dan mengamalkan Islam, digambarkan dalam tokoh Hindun sebelum menikah.  Ada pula kelompok Islam yang santun dan lembut dalam berislam dan mendakwahkan Islam sehingga berhasil dalam mengajak dalam kebaikan, yang diwakili tokoh Danu, suami Hindun. Dan, ada pula kelompok yang sesat, yang mengaku sebagai malaikat Jibril yang diutus langsung oleh Tuhan.

Jadi, Gus Mus sebagai seorang penulis mewakili kelompok sosial tertentu yaitu Jam’iyah (Organasasi) Nahdlatul Ulama dalam pandangannya terhadap Islam dan berislam. Islam yang baik adalah Islam yang ada di tengah-tengah, tidak terlalu liberal dan tidak terlalu konservatif.

Harapan yang muncul secara implisit dalam cerpen Bidadari itu Dibawa Jibril adalah, hendaknya berislam dengan baik dan lakukan dari hati, jangan dari rasio saja. Untuk melakukan itu, keimanan tidak hanya bisa dibutuhkan melalui pemikiran tapi juga dengan perasaan. Karena hal itu yang bisa lebih kuat dan menjaga keimanan  agar tidak goyah. Tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang tampak oleh mata saja.


 

DAFTAR PUSTAKA

Buku rujukan:

Pradopo, Rachmat Djoko. 2010. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Cet-7. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rosyidi, M Ikhwan. dkk. 2010.  Analisis Teks Sastra.Yogyakarta: Graha Ilmu.

Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra: Sebuah Pemahaman Awal. Malang: Bayu Media & UMM Press.

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Cet-2. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sumber bacaan:

Sangkan, Abu. 2008. Berguru kepada Allah. Cet-8. Jakarta: Yayasan Shalat Khusyu’.

Hasib, Kholili. 2011. Pandangan KH Hasyim Asy’ari terhadap Fanatisme Buta. dalam http://www.hidayatulloh.com.

http://gusmus.net

http://id.wikipedia.org/wiki/Lia_Eden

One thought on “Harapan Penerapan Islam dalam Bidadari Itu Dibawa Jibril: Analisis Struktural Genetik oleh Muntijo

  1. Ping-balik: TAUHID DAN IMAN | Berbubastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s