Tentang Hati, Cinta dan Benci


Jika ada yang mengatakan  “Demi cinta aku rela membiarkanmu menikah dengannya dan aku akan baik-baik saja” berarti yang mengatakan itu tidaklah cinta. Orang yang mencintai seseorang dalam tataran yang serius tentu tidak ikhlas, tidak rela jika kekasihnya (orang yang dicintai) menikah dengan orang lain.

Begitu juga dengan orang yang membenci orang yang dicintai ketika orang yang dicintai tak lagi mencintainya karena memilih orang lain untuk dinikahi. Karena jika benar-benar cinta seseorang tidak akan membenci orang tersebut.

Lalu bagaimana cinta yang benar-benar cinta. Jika benar-benar cinta maka seseorang akan terus mencintai orang dicintai meskipun telah memilih jalan yang berbeda. Wujud cintanya mungkin tak lagi sama yang tentu juga kadarnya akan berbeda. Dan jika kekasih memilih orang lain untuk dinikahi dia akan berkata, “Sebenarnya aku cemburu, tentu aku tidak rela begitu saja. Tapi jika itu keputusan yang kau ambil, akan kuterima meski dengan hati sempoyongan dalam sementara waktu”. Serta tentu dia akan berharap untuk bisa tetap menghargai keputusan kekasihnya tanpa menghancurkan diri sendiri.

Begitulah kira-kira jika dilihat dengan kaca mata sekuler. Tentu dalam tulisan ini saya tidak munafik. Kadar sekuleritas saya kadang (bahkan sering) lebih tinggi daripada keimanan.

Jika dilihat dari kaca mata keimanan, cinta bahkan benci bukan milik manusia. Segalanya selain Khalik (Pencipta) adalah Makhluk (yang diciptakan) termasuk rasa cinta dan benci. Yang menumbuhkan rasa dalam hati adalah pemilik rasa dan pemilik hati yaitu Tuhan.

Hati dalam bahasa Arab adalah qalbu (baca: qolbu), di sisi lain qalb juga sepadan dengan kata bolak-balik alias tidak konsisten. Dilihat dari padanannya dalam bahasa Arab ini maka tampak bahwa hati itu memang tidak konsisten. Kadang begini, kadang begitu, bahkan kadang juga beginu. Saking tidak konsistennya.

Ada doa yang berbunyi: yaa muqollibal qulub (wahai zat yang membolak-balikkan hati), tsabbitna ala dinil islam (tetapkanlah (hati) kami dalam agama Islam).

Cinta dan benci saling bergantian mengisi hati. Bahkan memungkinkan rasa benci dan cinta menghuni hati secara bersama-sama. Ketika cinta dalam satu golongan maka membenci golongan yang lain. Begitu juga sebaliknya, jika membenci golongan yang satu tentu mencintai golongan yang lain. Oleh karena itu, manusia tidak boleh mengaku sangat cinta dan tidak akan membenci. Bisa jadi suatu saat cinta itu akan berubah menjadi benci dan benci berubah menjadi cinta. Karena hati itu qalbu alias tidak tetap, begini, begitu dan beginu.

Yang memiliki cinta adalah Tuhan yang Mahapengasih juga Mahapenyayang. Manusia hanya bisa meminta kepada Tuhan agar kasih sayang (cinta) senantiasa menghiasi hati yang bisa dibolak-balikkan.

Dari itu semua, idealnya kita tetap harus punya rasa benci, yaitu kebencian terhadap rasa benci. Yang berhak untuk dibenci adalah rasa benci itu sendiri juga turunan dari benci yaitu setan dan sebagainya. Dengan tidak memiliki benci maka tidak akan ada yang dibenci. Idealnya lagi, otomatis dengan membenci benci berarti manusia telah memiliki cinta. Dengan cinta di hati, cinta kepada sesama dan cinta kepada semua tentu membuat hidup akan lebih indah.

Dengan rasa cinta di hati kita akan mencintai penjahat, koruptor dan sebagainya. Wujud cintanya yaitu, jika ada koruptor misalnya, bukan malah dibenci tapi dicintai dengan cara: diingatkan untuk tidak korupsi, jika telanjur korupsi ya dihukum untuk menebus dosa. Jika tidak kasihan dan tidak cinta, koruptor dibiarkan saja untuk korupsi. Dosanya kelak menumpuk di akhirat. Akhirnya,  hanya Allah yang Mahatahu di antara yang tahu apalagi yang sok tahu.

2 thoughts on “Tentang Hati, Cinta dan Benci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s