Anak-Anak, Hati-Hati


Ketika pulang kuliah awalnya canggung untuk mampir ke toko buku karena ada kenangan yang masih sulit untuk diterima, hati masih sempoyongan. Tapi entah kenapa kaki melangkah juga ke situ juga. Tanpa sengaja bertemu dengan Cak Rat. Dasar orang gila, hari belum zuhur dia ke toko buku besar seperti ini pakai sarung dan baju koko. Untung tidak membawa map atau kotak amal.

“Hati-hati, Jo”, belum sempat menyapanya aku sudah diperingatkan. Ketika kutanya apa yang harus hati-hati, dia malah tersenyum. Senyum yang keluar dari bibir Cak Rat yang tidak keruan merupakan suatu pertanda buruk. Biasanya ketika dia tersenyum padaku, pasti ada hal yang buruk yang akan menimpaku. Oleh karena itu, aku lebih suka jika Cak Rat menyapaku dengan sinis atau mendengus tak acuh.

“Hati, Jo.. Hati. Jadi harus hati-hati” dia kambali hemat kata-kata. Lagi-lagi tak seperti biasanya. Dia lebih banyak omongnya daripada nafasnya pada hari-hari biasa. Aku masih belum mengerti betul apa yang dimaksudnya. Yang ada dalam pikiranku kini adalah kata hati. Cak Rat memang orang aneh yang sulit ditebak. Bahkan tak bisa ditebak. Mungkin ditembakpun dia tidak bisa.

Aku baru sadar dia memakai sepatu ketika mengikuti dia naik tangga ke lantai dua. Sarung, baju koko dan sepatu, sungguh kombinasi yang tidak bisa diterima akal sehat. Tak pelak dia jadi perhatian puluhan pasang mata pengunjung dan pegawai toko buku ini.

Melihat hal itu, aku jadi agak canggung ngobrol dengannya. Mengetahui hal tersebut Cak Rat bukannya marah malah tersenyum dan tertawa kecil. Sadar tindakanku bisa melukai perasaannya akhirnya aku paksakan diri untuk bersikap biasa pada temanku yang berpenampilan super aneh ini.

“Cak, masak ke toko buku pake sarung dan sepatu, sih? Ban melembung naik becak, gak nyambung, Cak.” Aku berbicara setengah berbisik agar tidak didengar oleh pengunjung yang lain. Cak Rat melihat sepatunya yang sudah usang, dibolak-balik, kanan-kiri. Tanpa bicara apa-apa dia tetap berjalan menuju rak buku filsafat.

Ternyata aku salah, dia tidak menuju rak buku filsafat melainkan buku sastra. Aku jadi ingat penjelasan dosen: sastra itu menyucikan jiwa.

“Benar kau Muntijo. Sastra itu menyucikan jiwa. Jadi, kau harus banyak baca buku sastra, Jo. Jiwamu butuh disucikan. Hahaha.” Cak Rat berbicara dengan suara lantang. Sangat jelas didengar oleh pengunjung yang lain. Salah seorang wanita pegawai toko buku menghampirinya dan dengan sopan memintanya untuk tidak gaduh. Kembali Cak Rat hanya tersenyum, kali ini sangat ramah. Melihat respon yang seperti itu, pegawai toko justru bingung.

Tujuanku datang ke toko ini semakin tidak jelas mau apa setelah beberapa menit saja bersama Cak Rat. Aku masih enggan membuka pertanyaan. Daripada pusing mau berbuat apa dan mencari buku apa, aku ikuti saja langkah Cak Rat. Cak Rat suka buku sejarah dan politik. Tapi hari ini benar-benar aneh. Dia justru membaca buku resep makanan, yang telah dibuka dibaca sambil berdiri.

“Cak, Kau ini kenapa?” aku sudah tak mampu untuk tidak mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi kutahan dalam perut. Tanpa menjawab Cak Rat berjalanan lagi menuju ke rak buku anak-anak. Mengambil satu buku kemudian berjalan lagi menuju kursi baca. Secara otomatis aku mengikutinya.

“Hati, Jo. Hati-hati menggunakan hati. Anak-anak, Jo. Mereka merdeka.” Omongan nih orang semakin tidak jelas. “Kenapa, Cak? Patah hati kau? Dari tadi ngomong gak jelas blas!” aku mulai tak sabar menghadapi Cak Rat.

“Hati-hati bermain dengan hati, Jo. Bisa jadi kau menyakiti hati orang lain juga hatimu. Kau harus melihat sesuatu tidak hanya dengan mata, tapi juga dengan hati, Jo. Hati.” Belum sampat aku menanggapi, dia melanjutkan, “Kau mungkin malu punya teman dengan penampilan aneh begini, karena kau tak melihat dengan hati. Kalau kau gunakan hati untuk melihat, esistensi pakaian adalah melindungi tubuh dan menutupi aurat, Jo. Terserah mau berbentuk apa, yang penting menutupi aurat. Baju ihram pun bisa dimulai” Syukurlah Cak Rat mulai banyak bicara. “Untuk sepatu, kenapa kupkai bersama sarung, itu hak prerogratif saya, selama tidak menyusahkan orang lain tak apa kan?” Benar juga. Kenapa aku harus pusing memikirkan sepatu yang dipakai orang lain. Mungkin jika sepatu itu dilemparkan ke muka kita, baru patut dibahas. Selama tidak kehilangan fungsinya sebagai alas kaki seharusnya tidak ada masalah.

“Anak-anak, Jo. Yang bisa menggunakan hatinya secara maksimal adalah anak-anak. Mereka yakin bahwa semua orang adalah baik. Mau pakai pakian bagaimana, warna apa, tulisannya apa itu tidak penting. Karena yang terpenting adalh pakaian. Dan yang terpenting lagi adalah meski anak-anak menggunakan hati, mereka tidak pernah patah hati, Jo. Hebat mereka kan?” Aku manggut-manggut sok paham. Cari aman dari omelan Cak Rat. “Kau tau tadi kenapa aku berteriak? Anak-anak itu bebas mengekspresikan diri, Jo.”.

“Lalu, bagaimana kau bisa tahu tentang apa yang ada dalam pikiranku mengenai penyucian jiwa?” Aku penasaran, apakah Cak Rat punya indra keenam. “Ah, mungkin kau pikir aku ini sakti bisa membaca isi hati, ah hati lagi. Hati-hati. Kau sering berkata, sastra itu penyucian jiwa. Sampai bosan aku mendengarnya. Jelas ketika ada buku sastra di depannya pasti yang kau ingat tentang penyucian itu.”

“Lalu apa hubungannya dengan buku resep makanan yang kau baca ini, Cak?” bertanya coba menghung-hubungkan penampilan Cak Rat dan kelakuannya. “Tidak semua harus berhubungan dan dihubung-hubungkan, Jo. Aku baca buku ini hanya ingin lihat gambarnya yang mencolok.”

Sebelum aku ketularan aneh seperti Cak Rat, kuputuskan untuk pergi meninggalkannya. Sekilas mataku melihat deretan buku sastra. Ada satu buku berjudul “Jangan Patah Hati”. Sialan, aku jadi ingat kalau aku sedang patah hati. Ah, Cak Rat benar. Aku akan hati-hati menggunakan hati mungkin belajar menjadi anak kecil saja. Semua baik, dan yang terpenting tak pernah patah hati.

Aku ingin cepat-cepat keluar dari toko buku ini, ingin cepat-cepat berpikir seperti anak kecil. Maka aku turun tangga sambil berlarian. Sementara Cak Rat masih sibuk melihat gambar makanan.

2 thoughts on “Anak-Anak, Hati-Hati

  1. ya ampun,,, akupun gak tau tym,, cak rat itu capa?? aku smpet berpikir cak rat adalah sisi lain dirimu..
    mungkin…
    meski aku gak ngerti mksudnya “hati, jadi harus hati hati!”, tapi aku lumayan bisa tertawa lagi… ^^ baca yg laen ah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s