Dolanan sebagai Media Pendidikan Berkarakter


Dolanan adalah bahasa Jawa yang berbentuk dasar dolan yang berarti main atau bermain, mendapat akhiran (sufiks) -an menjadi kata benda yang bermakna permainan atau juga menjadi kata kerja bermakna bermain, misalnya dolanan hape bermakna bermain HP. Kata dolanan belum masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa edisi IV, jadi belum termasuk kata Bahasa Indonesia secara resmi. Namun, dalam masyarakat tutur bahasa Indonesia kata dolanan memiliki makna lebih spesifik yaitu permainan tradisional. Jadi, dolanan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah permainan tradisional.

Nilai luhur yang ada dalam dolanan adalah sportivitas dan kreatifitas. Untuk lebih khususnya dolanan mengajarkan berani menerima kekalahan. Ajaran ini muncul ketika sebelum dan sesudah permainan. Sebelum permainan, misalnya sodoran (gerobak sodor), untuk menentukan kelompok yang jaga dilakukan dengan cara pingsut alias suit. Begitu juga dengan permainan sepak tekong, cokeran dan bekel serta dakon dan lain sebagainya, untuk menentukan siapa yang memulai permainan dulu, dilakukan hompimpah (jika lebih dari dua orang) dan pingsut. Semua pihak akan menerima hasil dari pengundian yang sangat sederhana ini, tanpa protes.

Selain itu, banyak dolanan yang memerlukan gerakan fisik yang dinamis sehingga menyehatkan badan. Tidak hanya duduk di depan layar komputer atau permainan video lainnya yang mengakibatkan tubuh kurang gerak sekaligus mengakibatkan gangguan mata. Permainan kasti dan sodoran membutuhkan fisik yang prima karena harus berlari secepat mungkin ke tempat tujuan, engkle harus bisa menjaga keseimbangan karena harus berdiri dan berlompat dengan satu kaki dalam petak yang telah ditentukan, dan engrang harus bisa menjaga keseimbangan berdiri di atas kayu dengan tinggi yang bervariasi. Semakin tinggi egrang maka nilai kepuasannya semakin tinggi pula.

Nilai luhur lain yang ditanamkan dalam dolanan adalah nilai kemasyarakatan atau nilai sosial. Hampir semua dolanan harus dilakukan oleh lebih dari satu orang. Sodoran, kasti, melibatkan banyak orang yang tergabung dalam dua kelompok, begitu juga dengan permainan lain, harus dilakukan oleh lebih dari satu orang. Adapun egrang meskipun bisa dimainkan oleh seorang diri, tapi sama sekali tidak seru. Mungkin untuk berlatih menggunakan egrang menjadi keseruan tersendiri tapi tujuan berlatih menggunakan egrang adalah untuk bermain bersama teman-teman yang lain.

Keluhuran dolanan sepertinya mulai hilang dari waktu ke waktu. Terlepas dari sudah tidak adanya anak-anak kota yang memainkan dolanan, dolanan yang masih dimainkan oleh anak-anak kampung sudah tercemari oleh egoisme dan keserakahan. Di dusun Mangaran desa Sukamakmur Kecamatan Ajung, Jember tergantinya nilai luhur oleh egoisme tampak dalam permainan sepak tekong (petak umpet). Anak yang sedang bersembunyi dengan cekatan mengucapkan jilak atau nas (isyarat untuk keluar sementara dari sebuah permainan) karena tempat persembunyiannya mulai diketahui oleh anak yang sedang berjaga. Hal ini selain menunjukkan lunturnya nilai sportivitas juga menujukkan sikap mementingkan diri sendiri. Memang tidak ada larangan untuk mengucapkan nas atau jilak tapi tidak untuk keluar dari permainan karena akan ditemukan oleh penjaga, melainkan jika ada hal lain misalnya ketika dipanggil orang tua.

Kelunturan nilai luhur dolanan juga tampak dalam permainan leker alias kelereng alias gundu. Mulai ditemukan (dan banyak) anak mengikutkan dua kelereng dalam satu ronde permainan. Padahal dulunya satu anak hanya mengikutkan satu kelereng. Hal ini menunjukkan ketemakan sudah masuk dalam dolanan serta menunjukkan perbedaan kelas. Anak yang memiliki banyak kelereng sebagai modal bisa mengikutkan dua kelereng tambu atau lebih. Mungkin bisa disandingkan dengan kapitalisme, yang kaya makin kaya karena memiliki kesempatan lebih dari satu kali dalam satu permainan.

Penyebab masuknya budaya egois dan kapitalis dalam dolanan salah satunya disebabkan oleh permainan elektronik (playstation) dan sebagainya. Dalam permainan di playstation (PS) ada fasilitas memulai kembali permainan atau restart jika dianggap permainan tidak lagi menguntungkan. Misalnya, dalam permainan sepak bola dalam PS seorang anak akan menekan tombol restart ketika timnya sudah kebobolan banyak gol dan waktu hampir habis sehingga tidak memungkinkan untuk memenangkan pertandingan. Hal ini diadopsi dalam permainan sepak tekong (petak umpet) seperti diuraikan di atas. Karena permainan tidak lagi menguntungkan dirinya, seorang anak keluar dari permainan dengan mengucapkan nas.

Begitu juga dengan permainan kelereng, seorang anak mengikutkan dua kelereng atau lebih. Hal ini dipengaruhi juga oleh permainan dalam PS yang memungkinkan seorang pemain untuk memperkuat posisinya. Misalnya ketika memainkan permainan pertarungan. Seorang pemain bisa memperkuat tokoh yang dipilihnya dengan menambah ketahanan dan kemampuannya.

Permasalahannya tidak hanya lunturnya nilai luhur yang ada dalam dolanan, tapi dolanan itu sendiri sudah jarang dimainkan oleh anak-anak. Jika saja dolanan bisa masuk dalam kurikulum sekolah, tentu akan sinkron dengan pendidikan berkarakter yang akhir-akhir ini kembali digalakkan oleh Kementerian Pendidikan (dan Kebudayaan). Tentu, masuknya dolanan dalam kurikulum sekolah akan dapat melestarikan budaya luhur bangsa sekaligus menjaga keluhuran nilai yang diajarkan di dalamnya sehingga tidak tercemar dengan budaya egois-individualis dan kapitalisme.

Dolanan bisa diintegrasikan dengan pelajaran Olah raga di sekolah. Dengan alasan, permainan tradisional juga membutuhkan fisik yang prima (kasti, sodoran dan sepak tekong). Atau juga bisa diajarkan dalam bentuk muatan lokal tersendiri sehingga jenis permainan yang diajarkan bisa disesuikan dengan lingkungan sekolah dan siswa.

Pengintegrasian dolanan dalam pendidikan bukanlah hal yang mustahil. Apalagi dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memungkinkan sekolah untuk menentukan sendiri kurikulumnya. Dan pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tapi juga mendidik manusia untuk bisa menjadi lebih baik. Apa artinya pintar dan berpengetahuan luas jika tak memiliki budi pekerti luhur? Mungkin inilah salah satu sebabnya kenapa orang pintar juga gemar korupsi.

Baca Tulisan yang Sejenis:

Dolanan: Dalam Pembahasan Linguistik

Permainan Tradisional Sepak Tekong dan Strategi Perang Gerilya

7 thoughts on “Dolanan sebagai Media Pendidikan Berkarakter

  1. memang dolanan2 udah pada ditinggalkan. g cuma di jember, di sini (sleman) juga.

    saya kurang sepakat sama statement terakhir “Mungkin inilah salah satu sebabnya kenapa orang pintar juga gemar korupsi.” kan yang korupsi ga cuma pejabat “muda” yang tua2 juga banyak, padahal mereka juga pernah mengalami masa2 kejayaan dolanan.

    jadi menurut saya g terlalu signifikan antara koruspi yg sekarang (entah yang besok) dengan “hilangnya” dolanan.

    salam kenal….
    ^^

    • hehehe salam kenal juga. Mas Nugroho. mungkin yang tua-tua tidak menerapkan dan tidak menerapkan inti dolanan dalam jiwanya. Salam kenal dari Jember. Kalau di Sleman apa saja jenis dolanan yang masih eksis mas?

    • hehehe wah sama berarti ya. Kampung anda ini termasuk dalam kota atau masih kampung. Kampung saya masih sangat kampung, ndeso poll. kedua dolanan itu masih eksis di kampungku. Aku yo bingung, mas. Opo boso Indonesiane. hehe. Kalo di tempat saya, ingkling itu ada yang menyebut “engkle” malah karena pengaruh bahasa Madura ada yang menyebut “engklek’an”. Jember ini daerah dengan tiga bahasa daerah: Jawa (jawatimuran), Madura dan Osing (Khas Kabupaten Banyuwangi).

  2. Ping-balik: Dolanan: Dalam Pembahasan Linguistik | Berbubastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s