Cukup Satu Pintu


Karya Midun Aliassyah yang saya baca 8 April 2011 memiliki keunikan dalam pemaparan cerita. Menggunakan pintu sebagai tema dasar keseluruhan cerita. Cerita itu (saya menyebutnya cerpen) memiliki lima bagian, masing-masing bagian menceritakan tentang pintu. Dalam karyanya ini, Midun mencoba bermain-main dengan psikologi.

Yang akan dibahas dalam tulisan ini cukup satu pintu. Bukan berarti tidak mau untuk membahas yang lain, tapi karena masih belum mampu. Satu pintu itu adalah Pintu Nafsu.

 

Pintu Nafsu dalam Bahasan bahasa

Memosisikan diri sebagai orang ketiga serba tahu midun menceritakan Adam dengan menggunakan repetisi Adam berbicara lain. Ternyata ia tak bersekongkol dengan iblis. pada setiap awal paragraf. Tidak ada masalah dengan hal ini dan justru memiliki keunikan tersendiri.

Permasalah yang muncul adalah kekurang tepatan penggunaan diksi oleh Midun serta logika yang centang perenang yang akhirnya merancukan makna. Memang sebuah karya sastra multi interpretasi, sehingga bisa melahirkan banyak tafsir yang berbeda. Tapi multi tafsir ini berangkat dari keseluruhan karya tersebut bukan dari mbuletnya kalimat.

…. Sehingga ia disebut-sebut sebagai kakek moyang peradaban manusia jaman sekarang.

Kalimat ini memiliki beberapa permasalahan. Pertama, penggunaan sehingga di awal kalimat. sehingga merupakan kata hubung antara induk kalimat dan anak kalimat dalam kalimat majemuk. Seharusnya Midun sudah memahami hal ini. Kedua, ia (merujuk pada Adam) bukan merupakan kakek moyang peradaban, yang benar adalah kakek moyang manusia bukan kakek moyang (asal muasal) peradaban.

Paragraf kedua Pintu Nafsu, susunan kalimatnya berputar-putar tidak jelas.

…Ia tidak memiliki ciri-ciri alat kelamin seperti halnya laki-laki. Hanya saja ia memiliki alat kelamin yang disebut jejaka tulen.

Saya butuh beberapa menit untuk memahami rangkaian kalimat tersebut tapi akhirnya tak paham juga. Permasalahannya, kalimat pertama menyebut ia tidak memiliki alat kalamin seperti lelaki sehingga ada kemungkinan  alat kelaminnya adalah perempuan. Tapi kalimat kedua justru membantah kalimat pertama dengan menyebut ia memiliki alat kelamin yang disebut jejaka tulen. Katanya tidak memilliki ciri-ciri alat kelamin lelaki? Kok masih punya alat kelamin? Bahkan disebut jejaka tulen. Apa bedanya jejaka dengan lelaki? Lalu frase jejaka tulen juga menggelitik logika saya sehingga muncul pertanyaan dalam benak saya, adakah jejaka yang tidak tulen?? Yang tidak jejaka namanya bukan jejaka.

Paragraf ketiga, pengunaan kata kenyatannya pada kalimat terakhir mengindikasikan bahwa Adam adalah makhluk yang pertama diturunkan di surga adalah salah. Alangkah lebih tepat jika kata tersebut disulih dengan kata pada akhirnya.

Paragraf keempat, pada kalimat terakhir ada frase buah ranum nan agung untuk menyebut buah kuldi (midun menulis kuldhi). Seberapa agung buah itu? Berdasarkan logika, saya justru berpikir buah itu adalah buah bejat. saking bejatnya buah itu tak boleh dimakan.

Paragraf terakhir Pintu Nafsu, saya terlalu bingung untuk menjelaskan kebingungan diri saya dan justru menimbulkan pertanyaan. Coba Anda baca kalimat ini dengan seksama dan penuh pemahaman,

Cerita yang mengisahkan keberadaan lahirnya nafsu itu dari mana berasal, sudah dibenarkannya. Bahwa lahirnya segala hal perbuatan manusia yang digolongkan ke dalam perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar, bukanlah semata-mata tercermin dari kepribadian diri masing-masing. Melainka tercermin dari bagaimanakah tiap kepribadian masing-masing itu mampu mengendalikan nafsunya.

Pertanyan yang muncul dalam diri saya antara lain; apakah hal dan perbuatan itu bisa digunakan bersma-sama ataukah sebaiknya cukup salah satunya?; apakah mengendalikan nafsu bukan termasuk dalam kepribadian diri sehingga harus dipertentangkan dengan kata melainkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s