Ciri-Ciri Estetik (Intrinsik) dan Ekstra Estetik (Ekstrinsik) dalam Periode-Periode Sastra Indonesia


Menurut Rachmat Djoko Pradopo

Periodisasi yang digunakan oleh Rachmat Djoko Pradopo ini berbeda dengan periodisasi oleh tokoh-tokoh yang lain. Kritikus sastra lain membagi periode sastra dengan batasan tahun yang jelas sedangkan menurut Pradopo, periode-periode sastra itu tidak tersusun mutlak seperti balok-balok batu yang dideretkan, yaitu periode satu diganti periode yang lain denga batas tegas, melainkan periode-periode itu saling bertumpang tindih sebab sebelum periode angkatan sastra yang satu habis atau lenyap sudah timbul angkatan sastra yang lain, bahkan pada periode itu angkatan sastra yang lama masih menunjukkan kekuatannya atau integrasinya. Bahkan jika dibuat irisan penampang  pada satu periode berdampingan tiga atau empat angkatan yang masing-masing menunjukkan ciri-ciri sastra yang berbeda. Oleh karena itu, pembagian periode sastra menurut Pradopo adalah sebagai berikut:

  1. Periode Balai Pustaka: 1920-1940
  2. Periode Pujangga Baru: 1930-1945
  3. Periode Angkatan 45: 1940-1955
  4. Periode Angkatan 50: 1950-1970
  5. Periode Angkatan 70: 1965-sekarang (1984)

Ciri-ciri yang diuraikan meliputi dua aspek, yaitu ciri struktur estetik yang meliputi: alur, penokohan, teknik latar, pusat pengisahan, gaya bercerita dan gaya bahasa. Aspek yang kedua adalah ciri struktur ekstra-estetik yang meliputi: pemikiran, filsafat, pandangan hidup, gambaran kehidupan bahkan termasuk bahasanya tersendiri.

Periode Balai Pustaka: 1920-1940

Jenis sastra yang berkembang adalah roman, ada juga cerita pendek tapi sangat sedikit jumlahnya. Adapun puisi, berupa syair yang pada umumnya disisipkan dalam roman-roman untuk memberi nasihat.

ciri-ciri struktur estetik:

  • Gaya bahasanya menggunakan perumpamaan klise, pepatah-pepatah, dan peribahasa namun sudah berbeda dengan bahasa hikayat lama karena sudah menggunakan bahasa percakapan sehari-hari;
  • alur roman sebagia besar alur lurus;
  • teknik penokohan dan perwatakannya banyak menggunakan analisis langsung;
  • pusat pengisahannya pada umumnya menggunakan metode orang ketiga yang bersifat roantik-ironik;
  • banyak digresi, yaitu sisipan peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan inti cerita;
  • bersifat didaktis (mendidik), ditujukan kepada pembaca untuk memberi nasihat;
  • bercorak romantis, melarikan diri dari masalah kehidupan sehari-hari.

ciri-ciri ekstra estetik:

  • bermasalah adat, terutama masalah adat kawin paksa dan permaduan;
  • pertentangan paham antara kaum tua dengan kaum muda: kaum tua mempertahankan tradisi yang lama sedangkan kaum muda menghendaki kemajuan menurut paham kehidupan modern;
  • latar cerita pada umumnya latar daerah, pedesaan dan kehiduapa daerah;
  • cerita bermain di zaman sekarang, bukan di tempat dan zaman antah-berantah;
  • cita-cita kebangsaan belum dipermasalahkan, masalah masih bersifat kedaerahan.

Periode Pujangga Baru: 1930-1945

Pada periode ini puisi sangat dominan di samping itu cerita pendek mulai banyak ditulis, begitu juga dengan drama. Novel dan roman bukan jenis sastra yang utama. Pada umumnya karya sastra beraliran romantik, baik prosa maupun puisinya.

ciri-ciri struktur estetik:

Puisi:

  • puisi baru, bukan pantun dan syair lagi; ada jenis baru yaitu soneta berasal dari barat;
  • kata-katanya menggunakan kata-kata yang indah;
  • benuknya simetris: ini dipengaruhi puisi lama;
  • gaya eskpresi aliran romantik; tampak pada pengucapan perasaan, pelukisan alam indah, tenteram dan sebagainya;
  • gaya sajaknya diafan atau polos, hubungan antara kalimat jelas, hampir tidak digunakan kata yang ambigu seperti simbolik atau metafora implisit;
  • persajakan (rima) merupakan salah satu saran kepuirisan utama.

Prosa:

  • alurnya lurus;
  • teknik perwatakan sudah mulai dengan watak bulat, teknik analisis watak tokoh tidak langsung, penggambaran (deskripsi) fisik sedikit;
  • tidak banyak digresi, alurnya menjadi lebih erat;
  • pusat pengisahan dengan metode orang ketiga objektif;
  • gaya romantik;
  • baya bahasanya tidak dengan menggunakan bahasa klise, pepatah dan peribahasa.

ciri-ciri ekstra estetik:

  • masalah bersangkut paut dengan kehidupan masyarakat kota, misalnya: emansipasi, masalah pemilihan pekerjaan dan masalah individu manusia;
  • ide nasionalisme dan cita-cita kebangsaan banyak mewarnai karya sastra Pujangga Baru;
  • bersifat didaktis.

Periode Angkatan 45: 1940-1955

Pada periode ini berkembang jenis-jenis sastra puisi, cerita pendek, novel dan drama. Pada periode ini keadaan perang memengaruhi penuciptaan sastra dalam permasalah dan gayanya.

ciri-ciri struktur estetik:

Puisi:

  • puisi bebas, tak terikat pembagian bait, jumlah baris dan persajakan;
  • gayanya ekspresionisme;
  • aliran dan gaya realisme;
  • pilihan kata (diksi) untuk mencerminkan pengalaman batin yang dalam dan untuk intensitas arti; menggunakan bahasa sehari-hari (realisme);
  • bahasa kiasan yang dominan metafora dan simbolik; kata, frasa dan kalimat ambigu sehingga multitafsir;
  • gaya sajaknya prismatis dengan kata-kata yang ambigu dan simbolik; hubungan baris-baris dan kalimat-kalimat implisit;
  • gaya pernyataan pikiran berkembag (natinya gaya ini berkembanga menjadi gaya sloganis);
  • gaya ironi dan sinisme menonjol.

Prosa:

  • banyak alur sorot balik, meski ada juga alur lurus;
  • digresi dihindari sehingga alurnya padat;
  • perwatakan/penokohan: analisis fisik tidak dipentingkan, yang ditonjolkan analsis kejiwaan, tetapi tidak dengan analisis langsung melainkan dengan cara dramatik: dengan arus kesadaran dan cakapan antar-tokoh;
  • gaya ironi dan sinisme banyak digunakan;
  • gaya realisme dan naturalisme, menggambarkan kehidupan sewajarnya, secara mimetik.

ciri-ciri ekstra estetik:

Puisi:

  • individualisme menonjol, dalam arti, kesadaran kepada keberadaan diri pribadi terpancar dengan kuat dalam sajak-sajak periode ini;
  • mengekspresikan kehidupan batin/kejiwaan manusia melalui peneropongan  batin sendiri;
  • mengemukakan masalah kemanusiaan umu (humanisme universal) tampak jelas, seperti tentang kesengsaraan hidup dan hak-hak asasi manusia;
  • masalah kemasyarakatan: mengemukakan kehidupan sosial yang pincang;
  • filsafat eksistensialisme mulai dikenal.

Prosa:

  • mengemukakan masalah kemasyarakatan;
  • mengemukakan masalah kemanusiaan universal;
  • mengemukakan pandanga hidup dan pikiran-pikiran pribadi untuk memecahkan suatu masalah;
  • latar cerita pada umumnya latar peperangan (perang kemerdekaan) dan kehidupan sehari-hari.

Periode Angkatan 50: 1950-1970

Pada periode ini ada muncul pandangan yang beragam dalam dunia yang memengaruhi dunia sastra. Hal ini dikarenakan setiap partai besar memiliki lembaga kebudayaan yang juga melahirkan sastrawan yang berpandangan seperti partai induknya: PNI memuyai Lembaga Kebudayaan Nasional dengan pandangan nasionalisme; Partai Islam memunyai Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) dengan pandangan keislaman; PKI memunyai Lekra (Lembaga Kebudayaan  Rakyat) dengan pandangan komunisme.

ciri-ciri estetik:

Puisi:

  • gaya epik (bercerita) berkembang dengan berkembangnya puisi cerita dan balada, dengan gaya yang lebih sederhana dari puisi lirik;
  • gaya mantra mulai tampak dalam balada-balada;
  • gaya ulangan mulai berkembang (meskipun sudah dimulai sejak sebelumnya);
  • gaya puisi liris masih melanjutkan karya gaya angkatan 45;
  • gaya slogan dan retorik semakin berkembang.

Prosa:

  • dalam hal prosa (cerita rekaan) rupanya ciri-ciri struktur estetik Angkatan 45 masih tetap diteruskan oleh periode 50 ini hingga pada dasarnya tak ada perbedaan ciri struktur estetik.

ciri ekstra esteteik:

Puisi:

  • ada gambaran suasana muram karena menggambarkan hidup yang penuh penderitaan;
  • mengungkapkan masalah-masalah sosial; kemiskinan, pengangguran, perbedaan kaya miskin yang besar, belum adanya pemerataan hidup;
  • bayak mengemukakan cerita-cerita kepercayaan rakyat sebagai pokok-pokok saja balada.

Prosa:

  • cerita perang mulai berkurang;
  • menggambarkan kehidupan masyarakat sehari-hari;
  • kehidupan pedesaan dan daerah mulai digarap;
  • banyak mengemukakan pertentangan-pertentangan politik.

Periode Angktan 70: 1965-sekarang (1984)

Sastrawan yang menulis dalam periode ini sebenarnya sudah berkarya sejak periode sebelumnya, tapi sudah mengalami perkembangan dalam rangkaian sejarah sastra. Selain lahir karya sastra yang bernilai sastra, banyak pula novel pop yang secara literer tidak menunjukkan adanya perkembangan sastra sebab boleh dikata bercorak konvensional dan stereotipe.

ciri-ciri struktur estetik:

Puisi:

Dalam periode ini ada empat jenis puisi: puisi mantra, puisi imanjisme, puisi lugu dan pusisi lirik biasa. Yang menunjukkan ciri khusus adalah ketiga yang pertama.

  • puis bergaya mantra, menggunakan saran kepuitisan yang khusus berupa: ulangan kata, frase, atau kalimat berupa paralelisme, kombinasi dengan hiperbola dan enumerasi untuk mendapatkan efek sebanyak-banyaknya. Di samping itu, dieksploitasi tipografi yang sugestif. Juga digunakan kata-kata nonsense yang berupa kata (bunyi) tak berarti, kata diputus-putus, dibalik secara metatesis suku katanya, diulang berkali-kali salah satunya. Semua itu untuk mendapatkan makna baru;
  • digunakan kata daerah secara mencolok untuk memberi warna lokal dan ekspresivitas;
  • digunakan asosiasi-asosiasi bunyi untuk mendapatkan makna baru;
  • puisi-puisi imajisme menggunakan teknik tak langsung berupa gambaran-gambaran dengan lukisan-lukisan atau cerita kiasan (alegori dan parabel);
  • gaya penlisan yang prosasi, ini berhubungan dengan gaya puisi imajisme;
  • puisi lugu, menggunakan teknik pengungkapan ide secra polos, dengan kata-kata serebral, kalimat-kalimat biasa atau polos;

Prosa:

  • alur berbelit-belit;
  • gaya bahasa simbolik;
  • sarana retorika hiperbola dominan;
  • pusat pengisahan bermetode orang ketiga romatik-ironik;
  • cerkan (cerita rekaan) bergaya esai, bermetode orang ketiga, mengemukakan tanggapan-tanggapan pribadi terhadap masalah-masalah;

ciri-ciri ekstra estetik:

Puisi:

  • mengemukaka kehidupan batin religius yang cenderung ke mistik;
  • cerita, lukisan yang berifat alegoris atau parabel;
  • menuntuk hak-hak asasi manusia: kebebasan, hidup merdeka, bebas dari penindasan, menuntut kehidupan meodern;
  • mengemukakan kritik sosial atas kesewenang-wenangan terhadap kaum lemah dan kritik atas penyelewengan.

Prosa:

(juga mencakup drama)

  • mengeksploitasi kehidupan manusia sebagai individu; bukan sebagai makhluk komunal;
  • mengemukakan kehidupan yang absurd;
  • mengemukakan filsafat eksistensialisme;
  • mengedepankan warna lokal (subkultur), latar belakang kebudayaan lokal;

mengemukakan tuntutan atas hak-hak asasi manusia untuk bebas dari kesewenang-wenangan, baik yang dilakukan oleh anggota masyarakat lain atau oleh pihak penguasa.

15 thoughts on “Ciri-Ciri Estetik (Intrinsik) dan Ekstra Estetik (Ekstrinsik) dalam Periode-Periode Sastra Indonesia

    • sama-sama. senang bisa membantu. Sebagai pelajar sastra Anda juga diharapkan membukukan sastra angkatan di atas 80 yang masih belum terwujudkan. atau malah ingin menjadi sastrawan?

  1. Mas Muntijo, saya Benn. Makasi banyak infonya ya, ini berguna untuk tulisan saya.

    Oya, blognya mas Bagus. Akan saya follow🙂

    *Ahya .. mampir ke ‘kamar’ saya ya Mas, hehehe ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s