Cara Pembelajaran Bahasa Indonesia Yang Efektif di Sekolah


1. Pendahuluan

Pada dasarnya belajar bahasa tidak sama dengan memperoleh bahasa. Seorang yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan sangat lancar belum tentu telah belajar bahasa. Bisa saja sebatas memperoleh bahasa. Pemerolehan bersifat alamiah, implisit dan informal sedangkan pembelejaran adalah usaha yang disadari untuk belajar bahasa secara formal. Seorang penutur bahasa Indonesia yang memperoleh bahasa Indonesia secara alamiah karena berada dalam masyarakat tutur bahasa Indonesia, masih harus belajar bahasa Indonesia. Harus mendapatkan pembelajaran bahasa Indonesia karena dalam pembelajaran tidak hanya diketahui bagaiamana menggunakan bahasa (use the language) tapi dengan belajar bahasa juga dapat mengetahui tentang kaidah bahasa (about the language). Sudah banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli psikologi tentang belajar yang kemudian diserap dan dikembangkan dalam teori belajar. Teori yang paling terkenal adalah teori behavirisme yang menekankan pada pengalaman, yaitu dengan menggunakan rangsangan (stimulus) untuk mendapatkan tanggapan (respon) serta didukung dengan adanya pnguatan. Teori lain yang jug mashur adalah teori kognitivisme yang berpendapat bahwa manusia memiliki perangkat pemerolehan bahasa yang ada di dalam otaknya (LAD = language acquisition device) yang didukung oleh lingkungan. Oleh karena itu manusia mampu berkomukasi menggunakan bahasa bukan sekedar isyarat sehingga ada perbedaan yang sangat jauh antara manusia dan binatang. Binatang mampu berkomunikasi tapi tidak mampu berbahasa. Seperti telah diungkapkan di atas, pemerolehan bahasa adalah peristiwa alamiah dan informal berarti kemampuan berbahasa didapat dari interaksi pemakai bahasa dengan pemakai bahasa lain dalam suatu masyarakat tutur. Sedangkan belajar bahasa adalah usaha formal yang disadari sehingga dapat diartikan bahwa belajar bahasa dilakukan dalam sekolah. Lalu, apa saja yang harus dipelajari dalam kegiatan belajar bahasa? Faktor apa saja yang memengaruhi kegiatan belajar bahasa? Dan bagaimana cara belajar bahasa yang efektif?

2.      Pembahasan

2.1.   hal yang harus dipelajari dalam bahasa ada tiga aspek yang perlu dipelajari dan diajarkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Ketiga aspek ini adalah: 2.1.1.      Kebahasaan Aspek kebahasaan yang harus dipelajari oleh siswa adalah segala seluk beluk tentang bahasa, meliputi kosa kata, struktur dan kaidah dalam bahasa. Sehingga di dalamnya tercakup sintaksis, semantik, morfologi dan fonologi. 2.1.2.      Keterampilan berbahasa Keteramilan berbahasa adalah keterampilan yang dimiliki oleh pemakai suatu bahasa yang meliputi keterampilan menyimak (mendengarkan), keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Adapun prinsip-prinsip yang harus diketahui dalam pembelajaran keterampilan berbahasa adalah sebagai berikut: a)      Keterampilan menulis Pembelajaran menulis merupakan pembelajaran keterampilan penggunaan bahasa Indonesia dalam bentuk tertulis. Keterampilan menulis adalah hasil dari keterampilan mendengar, berbicara, dan membaca. Prinsip-prinsip pembelajaran menulis 1)      Menulis tidak dapat dapat dipisahkan dari membaca. 2)      Pembelajaran menulis adalah pembelajaran disiplin berpikir dan disiplin berbahasa. 3)      Pembelajaran menulis adalah adalah pembelajaran tata tulis atau ejaan tanda baca bahasa Indonesia. 4)      Pembelajaran menulis berlangsung secara berjenjang mulai dari menyalin sampai menulis ilmiah. b)     Keterampilan berbicara Prinsip-prinsip pembelajaran berbicara: 1)      Berbicara adalah komunikasi secara lisan antara pembicara dan pendengar. 2)      Ada banyak tipe pembicaraan, bisa satu pendengar satu pembicara atau satu pembicara banyak pendengar (pidato). 3)      Pembelajaran berbicara harus bersifat fungsional. c)      Keterampilan mendengar Prinsip-prinsip pembelajaran mendengar: 1)      Mendengar merupakan kemampuan mengidentifikasi bunyi, kata, frase dan kalimat yang diujarkan. 2)      Mendengar merupakan kemampuan memahami pesan dan informasi yang disampaikan serta menyeleksi mana yang penting dan yang tidak penting. 3)      Mendengarkan berhubungan erat dengan  mempertahankan ingatan. 4)      Mendengarkan memerlukan tahapan sesuai dengan kemampuan mengidentifikasi komponen kebahasaan yang bermakna dalam ujaran. d)     Keterampilan membaca Prinsip-prinsip pembelajaran membaca: 1)      Membaca tidak sekedar mengenal huruf dan membunyikannya tapi harus melampaui pengenalan huruf dan pembunyiannya. 2)      Membaca dan menguasai bahasa serta berpikir terjadi serempak. 3)      Membaca menghubungkan lambang tulis dengan ide yang ada di belakang lambang huruf serta memahaminya.   Keterampilan menyimak dan keterampilan membaca merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Menerima informasi dari bahan bacaan dan bahan simakan. Sedangkan keterampilan berbicara dan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, yaitu menghasilkan informasi baik berupa tulisan maupun ujaran. Jadi, pembelajaran keterampilan berbahasa merupaakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, tidak mungkin diketahui keberhasilan membaca atau menyimak seseorang sebelum melakukan kegiatan berbicara atau menulis. Karena keterampilan menulis atau berbicara pada dasarnya menunjukkan hasil yang diperoleh dari kegiatan menyimak dan membaca. 2.1.3.      Apresiasi Apresiasi yang dimaksud di sini adalah apresiasi sastra. Ada tiga genre sastra yang harus diapresiasi. Ketiga genre itu adalah puisi, prosa dan drama. Genre sastra yang jarang diajarkan di sekolah adalah sastra drama dan sering diintegrasikan dalam pembelajaran prosa. Kecenderungan drama di sekolah dianaktirikan. Mengalami ketimpangan kajian bila dibanding genre sastra yang lain (puisi dan prosa). Terkait dengan konstruksi kognitif bahwa ketika menyebut sastra hanya terbayang prosa dan puisi. Ini merupakan pokok permasalahan pertama. Maka harus dibuat paradigma baru, dengan memasukkan drama dalam ranah pemikiran.  Padahal sastra drama memiliki perbedaan dengan sastra prosa. Jadi, sebaiknya ketiga jenis sastra ini diajarkan sesuai dengan proporsi masing-masing. Dalam pembelajaran di sekolah, yang menjadi patokan adalah keterampilan berbahasa yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis sedangkan aspek kebahasaan menjadi aspek pendukung. Bukan berarti aspek kebahasaan tidak penting, justru sangat penting karena kemampuan kebahasaan akan mendukung keterampilan berbahasa. Siswa yang paham mengenai struktur sintaksis yang benar maka akan mampu menulis dan berbicara menggunakan kalimat yang efektif. Kegiatan apresiasi sastra terintegrasi dalam aspek keterampilan berbahasa. Misalnya siswa dituntut untuk bisa menyimak dan memahami pembacaan puisi. Ini berarti pembelajaran apresiasi sastra (puisi) terintegrasi dalam pembelajaran keterampilan mendengar (menyimak).   2.2.   Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran bahasa 2.2.1.      Faktor internal Pada kegiatan belajar mengajar dan belajar di sekolah ditemukan dua subjek, yaitu siswa dan guru. Dalam kegiatan belajar, siswalah yang memegang peranan penting (Dimyati, 2006:238), ada beberapa faktor intern pada diri siswa yang memengaruhi belajar diantaranya: a)      Sikap terhadap belajar Seorang siswa punya sikap terhadap belajar, sikap ini bisa menerima bisa juga menolak. Jika menerima berarti memiliki sikap positif terhadap belajar (mau belajar) sebaliknya yang menolak siswa manjadi tidak mau belajar. b)      Motivasi belajar Lemahnya motivasi, atau tidak adanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar mengajar. Sebaiknya motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus c)      Konsentrasi belajar Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian ini tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. d)     Mengolah bahan ajar Kemampuan sisiwa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. e)      Intelegensi Intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan utuk dapt bertindak secara terarah, berpikir secara baik, dan bergul dengan lingkungan secara efisien (Wechler dalam Dimyati). Kecakapan tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari. Slameto (1995) berpendapat faktor internal siswa yang memengaruhi kegiatan belajar selain faktor psikologis (seperti pendapat Dimyati) juga ada faktor jasmaniah, yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh. Proses kegiatan belajar akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu. Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatannya dengan baik. Cacat tubuh berkaitan dengan alat indra manusia. Seseorang yang mengalami  kecacatan pada alat indranya maka akan mengalami kesulitan dalam belajar. 2.2.2.      Faktor eksternal Proses belajar selain didorong oleh motivasi dalam diri siswa, juga dipengaruhi oleh faktor di luar diri siswa (lingkungnan belajar). Aktivitas belajar bisa meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor ekstern yang berpengaruh pada aktivitas belajar siswa. faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut (Dimyati, 2006:248): a)      Guru sebagai pembina siswa belajar Guru adalah seorang yang mentransfer ilmu sesuai kehaliannya sekaligus menjadi pendidik dan pembelajar. Berarti guru tidak hanya mengajar tapi mengajarkan bagaimana cara belajar. b)      Prasarana dan sarana pembelajaran Prasarana dan sarana belajar berpengaruh terhadap proses pembelajaran karena kegiatan pembelajaran selalu berhubungan langsung dengan lingkungan. c)      Lingkungan sosial siswa Lingkungan sosial siswa baik di sekolah maupun dalam keluarga dan masyarakat sangat memengaruhi siswa baik dalam kecerdasan dan perilaku. d)     Kurikulum sekolah Dalam setiap pembelajaran, kurikulum merupakan landasan utama yang berisi tujuan pembelajaran. Dengan demikian kurikulum yang baik akan menghasilkan pencapaian pendidikan yang baik pula. Jadi, faktor-faktor yang memengaruhi belajar siswa ada dua yaitu faktor internal yang meliputi fisiologis (jasmaniah) dan psikologi yang meliputi motivasi, intelegensi, sikap, minat dan bakat dan faktor eksternal yang meliputi lingkungan sosial: keluarga, sekolah dan masyarakat serta lingkungan nonsosial yang meliputi: materi, alamiah dan institusional. 2.3.   Cara belajar bahasa yang efektif 2.3.1.      Prinsip-prinsip Belajar Ada banyak teori tentang belajar (pendidikan) namun ada dua prinsip (teori) belajar yang terkenal dan menjadi landasan kegiatan belajar serta menjadi landasan berkembangnya teori-teori belaja, yaitu teori behavioristik dan teori kognitivisme. Parera (1996) membagi teori behavioristik menjadi dua yaitu behaviorisme klasik yang dimotori oleh J. B Watson  yang mengatakan bahwa proses belajar berlangsung hanya didasarkan  pada hubungan antara stimulus dan responden reteksif. Dan teori Neobehaviorisme dengan tokohnya Skinner yang berpendapat bahwa prinsip belajar merupakan merupaka kegiatan manusia mengelola lingkungan. Penguatan lebih penting daripada sekedar stimulus (rangsangan atau pencingan). Teori kognitivisme dengan tokoh Chomsky berpendapat bahwa manusi memiliki perangkat pemeroleh bahasa yang disebut LAD (language acquisition device). Dengan dimilikinya LAD ini dalam otak maka setiap manusia mampu menguasai bahasa dengan dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam hal ini lingkungan sangat berpengaruh dalam kegiatan belajar. Menurut Ausubel dalam Parera (2006) pembelajaran terjadi pada organ manusia melewati satu proses yang bermakna dengan penghubungan peristiwa, konsep dan proposisi kognitif yang telah ada. Makna adalah pengalaman sadar yang dengan jelas dan terpadukan dengan struktur kognitif yang tidak manasuka. Jadi, pembelajaran yang bermakna berbeda dengan pembelajaran menghafal. 2.3.2.      Memberdayakan faktor yang memengaruhi belajar Telah diungkapkan di atas, kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal siswa. Agar kegiatan belajar bahasa berlangsung efektif maka terlebih dahulu harus dikondisikan agar faktor-faktor yang memengaruhi kegiatan belajar bisa mendukung kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi faktor fisiologis seorang guru harus bisa mengondisikan keadaan kelas agar siswa mampu mendapat informasi yang maksimal. Guru juga harus mampu meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar bahasa. Misalnya dengan memberikan gambaran mengenai manfaat menguasai bahasa. Gambaran manfaat penguasaan bahasa (secara keseluruhan: baik apresiasi, kebahasaan dan keterampilan berbahasa) tidak hanya sebatas pada ujian sekolah atau ujian nasional. Tapi guru harus memberikan gambaran manfaat penguasaan bahasa secara global dengan demikian ilmu bahasa yang diperoleh oleh siswa akan bermakna. Selain itu, motivasi belajar siswa tidak hanya tumbuh pada saat menelang ujian saja tapi akan selalu tumbuh setiap saat. Faktor lingkungan sosial yang bisa dikondisikan oleh guru adalah lingkungan sekolah sedangkan lingkungan keluarga dan masyarakat tidak memungkinkan untuk dikondisikan oleh seorang guru. Oleh karena itu, guru harus memaksimalkan pengondisian lingkungan sekolah agar mampu mendukung kegiatan pembelajaran bahasa. Misalnya jika di lingkungan masyarakat dan keluarga sudah menggunakan bahasa ragam santai di sekolah diusahakan semaksimal mungkin untuk menggunakan ragam bahasa baku. Serta mampu mengoptimalkan penggunaa sarana dan prasarana yang ada di sekolah untuk mendukung kegiatan pembelajaran. 2.3.3.      Implementasi teori belajar dalam kegiatan pembelajaran Teori belajar memengaruhi kegiatan belajar mengajar. Parera (1996) mengaitkan teori belajar dengan metode pengajaran bahasa sebagai berikut: Teori behaviorisme (klasik dan neobehaviorisme) diwujudkan dalam metode tata bahasa, metode terjemahan, metode latihan tulisan serta metode audiolingual dan metode struktural. Teori belajar kognitif diwujudkan dalam metode (pendekatan) komunikatif. Ciri-ciri belajar kognitif adalah: 1)      Berpusat pada siswa, guru sebagai fasilitator. 2)      Interaksi belajar dan pembelajarannya berlangsung dalam konteks yang bermakna bagi siswa dan lingkungannya. 3)      Menekankan pada aspek kognitif dan afektif (Parera, 1996:19) Teori behaviorisme yang menekankan pada pengalaman juga tetap diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Teori yang menekankan pada pengalaman dan penguatan masih sangat relevan dengan kegiatan pembelajaran bahasa. Siswa akan mampu menguasai bahasa jika sering mengasah kemampuan kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Serta akan memeberikan tanggapan (respon) jika memperoleh rangsangan (stimulus). Selain itu, penguatan juga akan memberikan dampak yang besar terhadap semangat siswa dalam belajar. 2.3.4.      Aplikasi pembelajaran bahasa IndonesiaPokok acuan pengajaran dan pembelajaran bahasa Indonesia adalah aspek keterampilan berbahasa. Masing-masing keterampilan berbahasa memiliki prinsip-prinsip yang berbeda. Oleh karena itu dalam setiap kegiatan pembelajaran metode dan teknik pengajaran harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip masing-masing aspek keterampilan berbahasa. Strategi belajar mengajar menyimak a)      Pemberian informasi (dengan media) tertentu kepada siswa mengenai apa dan bagaimana menyimak menurut jenis dan tahap aktivitas, kemudian diikuti demonstrasi, dan melihaat demonstrasi serta mencatat. b)      Interaksi: guru memberi contoh dan siswa menirukaan secara berulang-ulang. Kemudian dilakukan tanya jawab antara guru dan siswa tentang suatu jenis tahapan menyimak. c)      Secara independen: memberikan penugasan individu pada siswa sesuai dengan tingkat keterampilan yang dipilih dari model yang diprogramkan atau dari media lain (telelisi dan radio). Strategi belajar mengajar berbicara: a)      Guru harus mendiagnosis minat siswa secara umum (sebagai tema pembicaraan) serta mendiagnosis kesulitan yag mungkin dialami oleh siswa sehingga bisa diminimalkan. b)      Hal yang bisa dilakukan untuk kegiatan pembelajaran berbicara adalah: bermain peran, wawacara, bercerita, berpidato dan bermain drama. c)      Penggunaan berbagai teknik lebih menguntungkan daripada satu teknik saja karena kegiatan pembelajaran tidak akan membosankan. Strategi belajar mengajar  membaca: a)      Pada dasarnya siswa harus bisa membaca cepat sekaligus memahami isi bacaan sehingga bisa menjadi pembaca yang kritis. Oleh karena itu guru harus bisa menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membaca cepat  dan membaca pemahaman. b)      guru harus menyiapkan dan memilihka bahan bacaan yang sesuai dengan kompetensi siswa. c)      memberikan keleluasaan terhadap sisiwa untuk  melaksanakan pembacaan yang efektif dan efisien. d)     Perwujudan pemahaman bisa dilakukan dengan berbicara atau menulis. Strategi belajar mengajar menulis: Dalam kegiatan pembelajaran menulis harus melalui tahapan sebagai berkut: a)      Penciptaan diksi: siswa dilatih untuk memilih kata secara tepat da menggunakannya sesuai dengan gagasan dan perasaan serta sesui dengan pembaca yang dituju. b)      Pembuatan kalimat efektif: siswa dilatih menciptakan berbagai jenis kalimat sehingga tulisannya mudah dan nikmat untuk dibaca. c)      Membangun paragraf: siswa dilatih untuk menyusun paragraf berdasarkan kalimat topik yang dikembangkan. d)     Pembatasan da penjabaran topik: topik karangan harus dibatasi agar lebih fokus. e)      Pemilihan jenis dan penciptaan wacana: siswa dilatih secara intensif untuk menyusun wacana.

3.      Kesimpulan

Ada dua jenis teori belajar yang banyak memengaruhi teori belajar selanjutnya, yaitu teori behaviorisme dan kognitivisme. Berdasarkan kedua teori ini kegiatan belajar bahasa bisa suskes (berhasil) jika dilakukan dengan pengalaman yang disertai stimulus sehingga menghasilkan respon sekaligus diberi penguatan (penghargaan). Pernghargaan yang dimaksud tidak harus berwujud benda. Sedangkan berdasarkan teori kognitivisme, manusia belajar dengan sendirinya karena melihat dan mendengar. Oleh karena itu, kegiatan belajar bahasa harus lebih banyak  memberikan contoh sekaligus aplikasi (penerapan) langsung oleh siswa. Ada empat aspek keterampilan berbahasa yang menjadi acuan pembelajaran bahasa di sekolah yaitu keterampila menyimak (mendengar), keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Serta ada aspek kebahasaan dan apresiasi sastra yang terintegrasi di dalam keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut. masing-masing keterampilan berbahasa memiliki prinsip dan ciri-ciri tersendiri jadi dalam proses kegiatan pembelajaran harus diperhtikan masing-masing prinsip, untuk kemudian memilih metode dan teknik yang tepat untuk mengajarkannya. Guru harus bisa mengondisikan dan memanipulasi faktor yang memengaruhi belajar (baik fator internal maupun eksternal siswa) agar mendukung kegiatan belajar bahasa siswa. dengan begitu faktor yang menghambat kegiatan pembelajaran bahasa bisa dihilangkan atau setidaknya dieliminasi.

4.      Senarai Pustaka

Ahmadi, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar-Mengajar Keterampiln Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh (YA3) Malang.

Dimyati; Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Parera, Jos Daniel. 1996. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesa: landas pikir landas teori.Jakarta: Grasindo.

Selameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Tarigan, Djago; H.G. Tarigan. (tanpa tahun). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s