ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH ISABELLA DALAM NOVEL DADAISME KARYA DEWI SARTIKA:TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA


oleh Ahmad Wahyudi (AWE)

 1)      Teori psikotekstual

Teori psikoanalisis adalah teori psikiologisastra dari aspek teks. Teks menjadi tumpuan utama. Penelitian teks sastra, menurut barthes (dalam Endraswara, 2008:97) cukup luas cakupannya. Penelitian teks tidak hanya membedah sastra sebagai struktur, tetapi juga unsur pembentuk sastra itu. termasuk di dalamnya membaca teks secara psikologi. Pada bagian lain bartes juga menekankan studi saatra hendaknya mengikuti lima kode, yaitu aksi, teka-taki. Budaya, konotasi dan simbol. Kode-kode ini memang tidak langsung merujuk pada konsep tekstual psikologi  sastra. Meskipun demikian, psikologi sastra pun sebenarnya tak lepas dari penelitian kode tersebut. Kejiwaan manusia tidak akan terlepas dari kode-kode itu.

Penelitian penokohan mengenai psikologi berkiblat penuh pada sastra sebagai teks. Penelitian tekstual memang sebenarnya telah dilakukan oleh kaum struturalis, namun ada perbedaan pandangan dengan psikologi sastra. Strukturalis pun ada yang murni, genetik, dan dinamik. Psikologi tekstual sastra lebih dekat dengan struktur genetik dan dinamik dengan kacamata psikologis. Hadirnya penelitian yang bersifat tekstual dalam psikologi sastra, yakni penelitian terhadap aspek psikologis sang tokoh dalam karya sastra.

Pada sistem psikotekstual, teks menjadi endapan kejiwaan. Teks selalu dipandang sebagai simpanan jiwa. Gejolak jiwa dari yang sederhana sampai ke kompleks, menjadi ruh teks, jiwa akan menghidupakan teks. Maka, penelitian psikoteks bertumpu dari teks untuk mencermati derap kejiwaan.

 

2)      Teori Konflik Batin 

Konflik adalah percekcokan, perselisihan atau pertentangan. Dalam sastra diartikan bahwa konflik merupakan ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama yakni pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya Alwi dkk (Dalam Kartika, 2008 : 22). Adapun pengertian konflik batin menurut Hardjana adalah terganggunya hubungan antara dua orang atau dua kelompok, perbuatan yang satu berlawnan dengan perbuatan yang lain sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.

Irwanto (1997: 207) menyebutkan bahwa pengertian konflik  adalah keadaan munculnya dua atau lebih kebutuhan pada saat yang bersamaan. Pendapat lain mengenai jenis konflik disebutkan sobur (2003:292-299), bahwa konflik mempunyai beberapa bentuk, antara lain sebagai berikut.

  1. Konflik mendekat-mendekat (approach-approach conflict) Konflik ini  timbul jika suatu ketika terdapat dua motif yang kesemuanya positif (menyenangkan atau menguntungkan) sehingga muncul kebimbangan untuk memilih satu di antaranya.
  2. Konflik mendekat-menjauh (approach-avoidance conflict) Konflik ini timbul jika dalam waktu yang sama timbul dua motif yang berlawanan mengenai satu objek, motif yang satu positif (menyenangkan), yang lain negatif (merugikan, tidak menyenangkan). Karena itu ada kebimbangan, apakah akan mendekati atau menjauhi objek itu.
  3. Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance conflict) Konflik ini terjadi apabila pada saat yang bersamaan, timbul dua motif yang negatif, dan muncul kebimbangan karena menjauhi. motif yang satu berarti harus memenuhi motif yang lain yang juga negatif.

Pada Umumnya konflik dapat dikenali karena beberapa ciri, menurut Kurt Lewin (dalam Irwanto, 1997: 213-216) adalah sebagai berikut.

  1. Konflik terjadi pada setiap orang dengan reaksi berbeda untuk rangsangan yang sama. Hal ini bergantung pada faktor-faktor yang sifatnya pribadi.
  2. Konflik terjadi bilamana motif-motif mempunyai nilai yang seimbang atau kira-kira sama sehingga menimbulkan kebimbangan dan ketegangan.
  3. Konflik dapat berlangsung dalam waktu yang singkat, mungkin beberapa detik, tetapi bisa juga berlangsung lama, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Sigmund freud (dalam kusmawan 2003:33) menyatakan bahwa berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan  alam  perasaan yang parah. Faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam beberapa gangguan batin antara lain adalah:

  1. Agresi, menunjukkan bahwa konflik terjadi karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri.
  2. Kehilangan, merujuk pada perpisahan traumatik individu dengan benda atau seseorang yang sangat berarti. Kehilangan dalam masa kanak-kanak sebagai faktor predisposisi terjadinya konflik dan depresi pada masa dewasa.
  3. Kepribadian, menguaraikan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap faktor pencetus konflik.
  4. Kognitif, depresi merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif sesorang terhadap dirinya sendiri, dunia seseorang dan masa depannya.
  5. Ketidakberdayaan, trauma bukanlah satu-satunya faktor menyebabkan masalah tetapi keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang penting dalam kehidupannya,
  6. Perilaku, berkembang dari kerangka teori belajar sosial bahwa peyebab konflik dalam diri terletak pada kurangnya keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan.

 

3)      Pendekatan Psikologi Sastra

Psikologi memasuki bidang kritik sastra lewat beberapa jalan, yaitu: (1) Pembahasan tentang proses penciptaan sastra, (2) Pembahas psikologi terhadap pengarang-pengarangnya (baik sebagai suatu tipe maupun sebagai seorang pribadi), (3) Pembicaraan tentang ajaran dan kaidah psikologi yang dapat ditimba dari karya sastra, (4) Pengaruh karya sastra terhadap pembaca (Hardjana, 1985: 60).

Tugas psikologi adalah menganalisis kesadaran kejiwaan manusia yang terdiri dari unsur-unsur struktural yang sangat erat hubungannya dengan proses-proses panca indera. Kaitannya dengan psikologi sastra Wellek (1990: 41) mengemukakan bahwa karakter dalam cerita novel-novel, lingkungan serta plot yang terbentuk sesuai dengan kebenaran dalam psikologi, sebab kadang-kadang ilmu jiwa dipakai oleh pengarang untuk melukiskan tokoh-tokoh serta lungkungannya.

Sebagai disiplin ilmu, psikologi sastra dibedakan menjadi tiga pendekatan, yaitu (1) pendekatan ekspresif, yaitu kajian aspek psikologis penulis dalam proses kreativitas yang terproyeksi lewat karya sastra, (2) pendekatan tekstual, yaitu mengkaji aspek psikologi sang tokoh dalam sebuah karya sastra, (3) pendekatan reseptif pragmatik, yaitu mengkaji aspek psikologi pembaca yang terbentuk setelah melakukan dialog dengan karya yang dinikmatinya serta proses kreatif yang ditempuh dalam menghayati teks (Amminudin, 1990: 89). Analisis novel dadaisme, tinjauan psikologi sastra, menggunakan pendekatan tekstual. Yang mengkaji aspek psikologi tokoh-tokoh dalam sebuah karya

sastra.

 

4)      Pembahasan

 

Isabella

Isabella adalah adik kandung Yusna. Atas kemauannya sendiri, Isabella menggantikan posisi kakaknya sebagai pengantin perempuan dan menikah dengan Rendi, hanya untuk menyelamatkan malu keluarga. Keputusan itu dipilih Isabella meski dengan mengorbankan perasaan cintanya kepada Asril, kekasih hatinya. Lambat laun Isabella mulai mencintai Rendi, meskipun pada akhirnya dia kembali menjalin hubungan dengan Asril, seperti dalam kutipan berikut.

“Rendy, Rendy, aku juga mencintaimu…hanya saja, izinkan aku untuk mencintai laki-laki lain di hatiku.” (Dadaisme: 75)

Isa masih mencintai Asril namun dia tidak mau melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan Asril. Isabella ingin menjaga kesuciannya untuk suaminya, seperti dalam kutipan berikut.

“Aku tertidur di dadanya. Dan kami tidak melakukan apa-apa. Aku terlalu takut untuk melakukannya, walau aku tahu begitu banyak manusia yang melakukannya dan kami berdua punya alasan untuk melakukannya, karena kami saling cinta. Apakah itu benar? Bolehkah kami melakukannya dengan alasan cinta? Aku tak tahu, aku hanya ingin suci seperti Dewi Sinta pada Rama.” (Dadaisme: 104)

 

Konflik yang dialami oleh isabella adalah Konflik mendekat-menjauh (approach-avoidance conflict), yaitu Isabella dihadapkan dalam waktu yang sama menghadapi dua permasalahan yang satu berdampak kerugian baginya, yaitu tidak dapat menikah dengan asril tetapi dengan orang yang tidak dicintainya dan satunya menguntungkan baginya yaitu dapat menyelamatkan nama keluarganya, seperti dalam kutipan berkut.

Isabella menggeleng dengan cepat, “Tidak! Itu toidak mustahil. Bella siap menggantikan uni Yusna,” Isabella dapat melaksanakan hatinya telah berdarah-darah. Isabella menyadari dia telah menikamkan pisau nasib ke jantung hidupnya. (Dadaisme; 49)

 

Konflik yang sama juga terjadi ketika ia sedang berada dalam kamar pengantin, saat dia harus melakukan kewajibannya sebgai seorang istri terhadap suaminya ketika seseorang sudah menikah. Seperti dalam kutipan berikut.

Isabella tidak berdaya bila malam ini Rendi menuntutnya, melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Sungguh! Isabella tidak sanggup membayangkan mencumbu seorang yang asing baginya. Isabellla bagaikan kuntum bunga yang yang merekah dan lunglai sebelum dipetik. (Dadaisme: 59)

 

Konflik mendekat-mendekat (approach-approach conflict), juga dialami oleh Isabella ketika ia tidak dapat memilih salah satu dari laki-laki yang dicintainya, yaitu Asril dan Rendi yang sama-sama ia cintai. Seperti yang terdapat pada kutipan berikut.

“Suami ya, jangna berkata dengan penuh tekanan seperti itu, Asril, itu menbuatku semakin buruk. Kalau bicara tentang, itu aku jadi ingat padanya dan di dada ada dosa yang menyelip seperti kotoran dalam gigi.” (Dadaisme 70)

 

“Aku tertunduk. Ada dua wajah dlam satu kepimg uand dan ada hati dalam satu tubuhku. Kalau engakau mau, Asril, cabutlah hatiku ini dan akan ku persembahakan padamu. Sungguh, Asril, kalau saja ada api pesucian bisa membakarku pada dosaku dan terhadapnya, maka aku akan rela untuk dibakar, tapi aku masih ingin hidup Asril.(Dadaisme: 71)

Konflik yang dialami oleh Isabella berdasarkan waktu terjadinya ada yang  terjadi  hanya beberapa detik saja, seperti pada data berikut.

 

“Aku juga membencinya. Aku benci dia karena telah memisahkan aku dengan mu!” Ujarnya berapi-api, lalu kemudian surut seperti lilin api yang padam. Tapi aku menyesal setelahnya. Dia pergi dan tidak tahu dia kemana? Pada masalah ini mungkin dia memang salah, tapi dia sedang menderita”

 

“Isabella diam tercenung. Hidup tidaklah bisa berubah dalam semalam begitu saja. Hati Isabella pun tidak berubah dalam secepat itu. denagn langkah lunglai dia kembalai ke

kamarnya dan membuka lemari meja hiasnya dan membuka album foto yang diberikan Asril padanya.”(Dadaisme: 63)

 

5)             Kesimpulan

 

                Di dalam sebuah novel memang tidak  akan  pernah tidak adanya suatu konflik, karena konflik merupakan sesuatu yang member warna dan menjadikan suatu cerita lebih menarik. Konflik yang dialami oleh Isabella adalah konflik batin yang terjadi skarena dia merelakan dirinya bersaumi dengan orang yang tidak ia cintai demi menyelamatkan keluarganya.

Konflik batin yang dialami oleh Isabella cukup menarik untuk dikaji, konflik yang dialaminya bermacam-mavam baik dari kebimbangan pakah dia harus mendekati atu menjauhi masalah tersebut atu mendekatinya dan juga dari segi lamanya waktu lkonflik itu berlangsung. Peneliti telah menyertakan bukti yang berwujud kutipan-kutipan yang menunjukkan konflik itu memang benar terjadi pada tokoh Isabella.

 

Daftar pustaka

 

Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: MedPress (Aggota IKAPI).

Istrasar, Santii . 2009. Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel  Permainan Bulan Desember Karya Mira W: Tinjauan Psikologi Sastra. Surakarta: Universit Muhammadiyah Fkip.

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sartika, Dewi. 2006. Dadaisme. Jakarta: Matahari

2 thoughts on “ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH ISABELLA DALAM NOVEL DADAISME KARYA DEWI SARTIKA:TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA

  1. Teori sigmund freud yang dalam buku kusmawan. Itu buku kusmawannya judu, tahun dan penerbitnya apa yaa? Mohon bantuannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s