Emansipasi atau Eman Si Sapi


Ketika diminta Pemimpin Redaksi Mading IMABINA membuat ‘coret-coretan’ untuk bahan terbitan bulan April, saya sedikit kesulitan dengan tema yang diberikan, tentang R. A. Kartini. Terus terang saya hanya mengetahui sedikit tentang beliau. Apa yang harus ditulis?

Karena kekurangan referensi saya mencari sahabat saya yang serba bisa untuk bertanya, Cak Rat. Sangat sulit untuk menemui sahabat saya ini, bukan karena dia adalah birokrat yang sibuk atau pengusaha yang memiliki jadwal padat. Tapi karena pekerjaannya tidak menentu. Dia adalah pekerja serabutan. Kadang jadi tukang parkir, kadang jadi tukang becak, tukang semir sepatu, pernah juga dia jadi pemandu turis di tempat wisata. Dia adalah orang teraneh sekaligus orang tergigih yang pernah kukenal. Meskipun pekerjaannya serabutan tapi dia tidak pernah mengeluh dalam menjalankannya.

Seperti biasa, ketika dibutuhkan tiba-tiba saja dia hadir di depanku. Kali ini saya melihat dia sedang duduk di trotoar jalan Kalimantan, berteduh dibawah pohon. Dia mengenakan baju lusuh yang biasa ia pakai, namun kali ini membawa karung berisi gelas dan botol minuman bekas serta kertas-kertas bekas. Rupanya sekarang dia sedang menjadi pemulung.

“Maaf, Cak.” Saya takut mengganggunya. “Tidak sedang sibuk kan?”

“Ah, tak apa. Tamu kan harus selalu dihormati. Kebetulan aku sedang istirahat. Hahaha.” Dia pernah berkata padaku, bahwa setiap jengkal bumi ini adalah rumahnya. “Kau sendiri sedang apa? tidak kuliah?”

“Sudah. Cak, langsung saja ya. Saya mau tanya, Cak. Seperti yang Cak Rat tahu, saya kan jadi anggota redaksi mading di kampus. Nah, bulan ini temanya R. A. Kartini. Aku bingung apa yang harus kutulis dengan tema itu.”

“Mudah saja itu, Jo. Kartini kan terkenal sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia. Kau tulis saja tentang emansipasi wanita.” Cak Rat mencoba memberi masukan. Meskipun wajahnya penuh peluh, tapi dia selalu terlihat ceria. “Tapi ingat! Emansipasi jangan sampai kebablasen, karena emansipasi wanita berbeda dengan eman si sapi wanita atau tepatnya, eman si sapi betina.” Sambungnya.

“Maksudnya?”

“Hehehe. Sekarang ini banyak orang yang berpendapat, wanita harus memiliki hak yang sama. Orang laki-laki boleh bekerja, wanita juga boleh bekerja. Laki-laki memakai celana, wanita juga memakai celana. Laki-laki jadi pemain sepakbola, wanita juga boleh bermain sepakbola. Laki-laki kencing berdiri, wanita juga tidak mau ketinggalan. Laki-laki ada yang menjadi Nabi wanita ingin ikutan. Selain itu, kenapa tidak sekalian nek genteng bocor kok gak wong wadon pisan sing mbenakno.”

“Terus, apa hubungannya dengan eman si sapi, Cak?”

“Lho, masih belum tau juga kau. Kau tahu sapi?”

“Tahu.”

“Apa yang membedakan sapi jantan dan sapi betina?”

“Kelaminnya.”

“Selain itu?”

“Tidak ada.”

“Ya, kau benar. Tidak ada yang membedakan antara sapi jantan dan sapi betina. Sapi jantan digunakan untuk menarik andhong, begitu juga dengan sapi betina. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada orang yang punya andhong, masih banyak kok. Lihat saja di Kecamatan Wuluhan sana. Sapi jantan disembelih untuk konsumsi, sapi betina juga tidak mau ketinggalan. Kalau sapi eman jika tidak dimanfaatkan. Tak peduli jantan atau betina tetap disuruh kerja.

Manusia seharusnya tidak seperti itu. Wanita bukan sapi. Harus tetap ada yang membedakan antara laki-laki dan wanita. Bukan hanya kelaminnya saja yang beda bentuk beda rupa. Tapi dari segala bentuk perilaku, pakaian dan ucapan. Jangan mentang-mentang era kebebasan lantas membebaskan diri dari segala bentuk kewajiban dan melanggar semua aturan.

Wanita bukan sapi betina. Wanita adalah mutiara. Kau pernah punya mutiara? Aku yakin kau tidak punya. Andai saja kau punya mutiara, tentu mutiara itu akan kau simpan di tempat khusus yang mungkin hanya kau yang tahu. Tidak mungkin kau perlihatkan pada orang lain. Gak kiro mbok jarno ngedheng nang dalan gak klamben.”

Cak Rat masih asik berkata tentang eman si sapi. Sementara aku masih pusing memikirkan tugasku untuk membuat oret-oretan yang akan ditempel di majalah dinding IMABINA. Adakah yang bisa membantu?***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s