Konsistensi Penggunaan Kata Sapaan Bahasa Jawa


Konsistensi Penggunaan Kata Sapaan Bahasa Jawa dalam Masyarakat

Disusun oleh:

M Nasiruddin T J   090210402056

Ahmad Syukron    090210402074

Jatmiko Hadi S      09021040210

Objek Pengamatan

Kami mengamati penggunaan kata sapaan dalam masyarakat Jawa, khususnya pada seorang pedagang jamu Jawa yang bernama Bapak Sutrisno yang berjualan di jalan Jawa, Jember.

Alasan Pemilihan Objek

Kata sapaan dalam bahasa daerah sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat penuturnya, termasuk Bahasa Jawa. Meskipun dalam percakapan seharai-hari masih menggunakan bahasa Jawa, namun kata sapaan untuk menyebut silsilah keluarga sudah terpengaruh oleh Bahasa Indonesia dan bahasa asing. Jadi, kami ingin mengetahui seberapa jauh pengaruh bahasa asing tersebut terhadap masyarakat penutur Bahasa Jawa.

Sedangkan alasan kami memilih Bapak Sutrisno sebagai objek pengamatan adalah karena dia adalah orang Jawa yang berasal dari Kecamatan Wuluhan, Jember. Mayoritas masyarakat wilayah tersebut adalah penutur bahasa Jawa. Sekarang, Bapak Sutrisno telah menetap di Jalan Sumatra, Jember. Selain itu, profesi Bapak Sutrisno sebagai pedagang memungkinkan dia secara intensif berinteraksi dengan orang lain. Dengan intensifnya komunikasi dengan orang lain, memungkinkan bahasa yang digunakan olehnya juga terpengaruh.

Dengan demikian, tulisan ini berusaha memetakan –meskipun secara sederhana– konsistensi penggunaan Kata Sapaan Bahasa Jawa oleh penuturnya yang sudah menetap dalam lingkungan masyarakat yang tidak murni menggunakan bahasa Jawa (dalam artian, bahasa yang digunakan di lingkungan Tegalboto sudah homogen, ada Bahasa Jawa, Bahasa Madura dan Bahasa Indonesia).

Fenomena yang Terekam

Secara umum kata sapaan yang digunakan dalam keluarga Bapak Sutrisno sama dengan konsep kata sapaan yang sebelumnya didiskusikan di dalam kelas. Namun ada beberapa perbedaan diantaranya:

  1. Bapak Sutrisno tidak mengenal istilah ‘prunan’. Oleh karena itu, dia memanggil anak dari adik maupun kakaknya dengan sebutan ‘ponakan’.
  2. Bapak Sutrisno tidak mengenal istilah ‘nak-sanak’ melainkan langsung menyebut saudara se-kakek dengan ‘misanan’ dibawahnya lagi ‘mindhoan’
  3. Istilah dalam silsilah yang dikenal/diketahui oleh Bapak Sutrisno hanya pada tingkat yang ketujuh, yaitu: Bapak, Mbah, Buyut, Canggah, Wareng, Udheg-udheg, Gantung Siwur.

Adapula beberapa pergeseran penggunaan kata sapaan dalam keluarga Bapak Sutrisno, diantaranya:

  1. Bapak Sutrisno dipanggil Mbah Kakung oleh Putu-nya, sedangkan istrinya dipanggil Mbah Uti/Mbah Putri, padahal anak Bapak Sutrisno maupun Bapak Sutrisno sendiri memanggil kakek dan neneknya Mbah.
  2. Putu Bapak Sutrisno memanggil Bapak dan Ibu kepada orangtuanya, padahal anak Bapak Sutrisno memanggilnya Pak/Pak’e dan Mak/Mak’e. Sedangkan Bapak Sutrisno memanggil orang tuanya Pak/Pak’e dan Mbok.

Menurut Bapak Sutrisno, Kata Sapaan dari Cucunya baik kepada orangtuanya maupun kepada kakek dan neneknya merupakan pengaruh dari lingkungan kota.

Ulasan

Ada konsep Kata Sapaan Bahasa Jawa yang terdapat dalam makalah yang didiskusikan di kelas tidak sama dengan kenyataan dalam masyarakat. Misalnya, istilah ‘prunan’ dalam masyarakat penutur bahasa Jawa di Kabupaten Jember tidak dikenal, begitu juga dengan istilah ‘nak-sanak’. Ketika kami tanyakan kepada Bapak Sutrisno, ‘nak-sanak’ justru memiliki pengertian lain yaitu, ikatan persaudaran yang timbul akibat adanya perkawinan. Jadi, antara keluarga laki-laki dan perempuan menjadi ‘nak-sanak’ (dulur gawan).

Bagitu juga dengan tingkatan silsilah baik ke atas maupun ke bawah, dalam konsep yang dipaparkan ada sepuluh tingkat. Sedangkan yang diketahui oleh Bapak Sutrisno hanya sampai tingkatan ketujuh.

Mengenai pergeseran penggunaan Kata Sapaan sebenarnya masih dalam lingkungan Kata Sapaan Bahasa Jawa. Misalnya kata Bapak dan Ibu maupun Mbah Kakung dan Mbah Putri merupakan kata Sapaan Bahasa Jawa, namun biasanya empat kata tadi digunakan oleh kalangan menengah, bukan kalangan bawah seperti Bapak Sutrisno. Ada benarnya Bupak Sutrisno mengatakan bahwa paggilan Cucu kepada dirinya maupun anaknya terpengaruh oleh lingkungan kota, karena pada umumnya yang menggunakan istilah itu memang orang kota. Tidak pandang dari golongan bawah ataupun golongan atas (dalam strata jawa).

 

Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa diambil dari hasil pengamatan kami antara lain:

  1. Konsep yang ada dalam buku/hasil pengamatan para ahli tentang Kata Sapaan Bahasa Jawa tidak sepenuhnya sama dengan kenyataan yang terjadi dalam masyarakat penutur Bahasa Jawa, karena ada konsep yang tidak dimengerti oleh pengguna bahasa khususnya golongan bawah, misalnya istilah ‘prunan’. Ada pula isitilah yang berbeda antara makna dalam buku dengan makna yang hidup dalam masyarakat, yaitu istilah ‘nak-sanak’. Dalam buku disebutkan sebagai anak dari saudara sekandung, yaitu antara ank adik dan ank kakak. Sedangkan dalam masyarkat ‘nak-sanak’ bermakna sebagai hubungan saudara yang timbul karena adanya perkawinan.
  2. Dalam diskusi yang dilakukan di dalam kelas, ‘misanan’ adalah sapaan untuk saudara tunggal ‘buyut’ sedangkan dalam masyarakat, ‘misanan’ adalah sapaan untuk saudara tunggal ‘simbah’. Demikian juga dengan ‘mindhoan’ kata sapaan untuk saudara tunggal ‘canggah’ sedangkan dalam masyarakat, ‘mindhoan’ kata sapaan untuk saudara tunggal ‘buyut’.
  3. Sudah terjadi pergeseran penggunaan Kata Sapaan Bahasa Jawa. Tidak ada lagi pemisahan/batas-batas antara golongan bawah ataupun golongan menengah dalam penggunaannya. Sehingga ada kalanya golongan bawah menggunakan Kata Sapaan yang biasanya dipakai oleh golongan menengah. Pergeseran ini terjadi karena arus informasi (lingkungan). Dalam pengamatan yang kami lakukan, cucu Bapak Sutrisno sudah menggunakan Kata Sapaan yang bersifat lebih umum untuk menyebut orangtuanya, yaitu ‘bapak’ dan ‘ibu’ karena adanya pengaruh lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s