Karakteristik Kesusastraan Sebelum Perang


Karakteristik Kesusastraan Indonesia Sebelum Perang

“Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)”
Karya: Marah Rusli

Muntijo, dkk.

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember
2010


Karakterisasi Novel Sitti Nurbaya, Karya Marah Rusli:

1. Pertentangan Paham Antara Kaum Muda Dan Kaum Tua.
Dalam novel yang ini pertententangan ini dapat dilihat pada pertentangan antara Sutan Mahmud dengan sudara perempuannya, Putri Rubiah. Yang terdapat dalam dialog antara Sutan Mahmuda dan Putri Rubiah,
“Sampai sekarang aku belum mengerti, bagaimana pikiranmu, tatkala mengawini perempuan itu. Apanya yang kaupandang? Bagusnya itu saja? Apa gunanya berstri bagus, kalau bangsa tak ada, serdadu Belanda bagus juga, tetapi siapa yang suka menjemputnya”
“Rupanya bagi Kakanda, perempuan itu haruslah berbangsa tinggi, baru dapat diperistri. Pikiran hamba tidak begitu; bahwa kawin dengan siapa saja, asala perempuan itu hamba sukai dan ia suka pula kepada hamba. Tiada hamba pandang bangsa, rupa atau kekayaannya,” jawab Sutan Mahmud yang mulai naik darahnya.
“Memang adat dan kelakuanmu telah berubah benar. Tiada lama lagi tentulah akan kautukar pula agamamu dengan agama Nasrani,” kata putri Rubiah.
Sutan Mahmud tiada menjawab melainkan mengangkat bahunya, seraya menoleh ke tempat lain.
“…sekalian Penghulu di Padang ini beristri dua tiga, sampai empat orang. Hanya engkau sendirilah yang dari dahulu, hanya perempuan itu saja istrimu tidak berganti-ganti, tiada bertambah-tambah. Bukankah harus orang besar itu beristri banyak?Bukankaha baik orang berbangsa itu beristri berganti-ganti, supaya kembang keturunannya? Bukankah hina, jika ia beristri hanya seorang saja? Sedangkan orang kebanyakan, yang tiada berpangkat dan tiada berbangsa, terkadang-kadang sampai empat istrinya, mengapa pula engkau tiada?”
“Pada pikiranku, hanay hewan yang banyak bininya, manusia tidak,” jawab Sutan Mahmud dengan merah mukanya. “Kalau perempuan tak boleh bersuami dua tiga, tentu tak harus laki-laki beristri banyak.”
“…adakah layak pikiran yang sedemikian? Tiap-tiap laki-laki yang berbangsa dan berpangkat tinggi malu beristri seorang, tetapi engkau malu beristri banyak. Bukankah sudah bertukar benar pikiranmu itu? Sudah lupakah engkau, bahwa engkau seorang yang berbsangsa dan berpangkat tinggi?…”

(Pulang dari Sekolah, 17-18)
Putri Rabiah berpendapat bahwa seorang laki-laki Padang yang berbangsa tinggi lebih baik beristri lebih dari satu dan mencari seorang istri haruslah yang berbangsa (berderajat) tinggi. Sedangkan Sutan Mahmud tidak setuju, dia sama sekali tidak ingin bersistri lebih dari satu. Serta menurut Sutan Mahmud, menikahi seorang wanita tidaklah harus berdasarkan bangsanya, asalkan saling cinta tak peduli dari bangsa tinggi atau bangsa rendah bisa saja.
2. Masalah Kawin Paksa dan Permaduan
“…siapa tahu, barangkali Datuk Meringgih inilah yang mendatangkan sekalian malapetaka itu, sehingga ayahku sampai jatuh sedemikian. Sesudah itu dengan sengaja dipinjaminyua ayahku uang, supaya ia jatuh pula ke dalam tangannya. Jik ademikian, sesungguhnyalah Datuk Meringgih itu penjahat yang sebesar-besarnya, yang mengail dalam belanga, menggunting dalam lipatan.
Setelah dipinta oleh ayahku dengan susah payah, barulah diberinya tangguh sepekan lagi, akan tetapi dengan perjanjian, apabila dalam sepekan itu, tiada juga dibayar hutang itu, tentulsh akan disitanya rumah dan barang-barang ayahku dan ayahku akan dimasukkannya ke dalam penjara. Hanya bial akua diberikan kepadanya, raksasa buas ini, bolehlah ayahku membayar hutang itu, bila ada uangnya.”

(Surat Nurbaya kepada Samsulbahri, 134-135)
Tiada berapa lama kemudian daripada itu, sesungguhnya datanglah Datuk Meringgih dengan dua orang Belanda. Setelah naik ke rumahku dengan tiada duduk lagi, ia bertanya kepada ayahku, “Bagaimana?”
“Tak dapat kubayar utang itu,” jawab ayahku, “dan anakku tak dapat pula kuberikan kepadamu.”
Tatkala mendengar perkataan ayaghku ini, merentaklah ia degnan marahnya lalu berkata, “Jika demikian, tanggunglah olehmu!” lalu diserahkannya perkara itu kepada pegawai Belanda, yang datang bersama-sama dengan dia. Seorang daripada tuan ini berkata, sambil mendekati ayahku, “Walaupun dengan sedih hati, tetapai terpaksa hamba akan membawa tuan ini ke dalam penjara, atas kemauan Datuk Meringgih.”
“Dan hamba terpaksa pula menyita rumah dan sekalian harta tuan hamba,” kata pegawai yang lain. …
Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu berteriak, “Jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku jadi istri Datuk Meringgih!”
Mendengar perkataanku; tersenyumlah Datuk Meringgih dengan senyum, yang pada penglihatanku, sebagai senyum seekor harimau……
(Surat Nurbaya kepada Samsulbahri, 139)
Berdasarkan cuplikan di atas, dapat diketahui bahwa Sitti Nurbaya dipaksa kawin dengan Datuk Meringgih untuk menolong ayahnya agar tidak dipenjara karena tidak mampu membayar hutangnya kepada Datuk Meringgih.
Masalah permaduan (poligami) terdapat pada bagian Percakapan Nurbaya dengan Alimah.
“Sungguhpun demikian, penanggungan itu belumlah seberapa, jika dibandingkan dengan penanggungan dipermadukan.” Kata Alimah. “Aku lebih suka dipukul, dukurung atau dihinakan, daripada dipermadukan.”
………
“Pada suatu hari tatkala aku berjalan-jalan dengan makku, pada malam hari di pasar Kampung Jawa, kelihatanlah olehku suamiku itu, sedang berjalan-jalan bersuka-sukaan, membeli apa-apa dengan maduku itu. Ketika kulihat mereka itu, gelaplah mataku, tak tahu lagi, apa yang kuperbuat. Kata ibuku, aku terus memburu perempuan itu, lalu menghela rambut dan bajunya sambil memaki-makinya, sehinggalah kami di tengah orang banyak, bergumul dan bertarik-tarikan rambut. Setelah kami dipisahkan orang kuberi malulah suamiku dalau tiada berani menceraikan daku. Itulah sebabnya maka di pasar itu juga dijatuhkan talak kepadaku”

(halaman 249, 250)
Alimah merasa tersiksa karena dimadu oleh suaminya, ketika melihat suaminya berdua dengan madunya maka Alimah gelap mata dan menyerah madu suaminya tersebut. Terjadi perkelahian dan akhirnya Alimah diceraikan oleh suaminya.
3. Kebangsaan Belum Maju Kedepan, Masih Bersifat Kedaerahan
Masalah kebangsaan yang diungkapakan dalam novel ini memang masih bersifat kedaerahan, dapat diketahui dari bagaian ke-XV Rusuh Perkara Belasting di Padang.
“Kelima, Tuan Residen berkata sendiri, keperluan kita tak boleh diminta kepada orang lain, mengapakah tidak tiap-tiap kampung atau negeri mengadakan keperluannya sendiri-sendiri? Mengapakah kami harus menolong orang Selebes, Timor, dan Papua? Melihat rupanya pun kami belum! Dan siapakah yang akan menanggung, merekea itu kelak akan molong kami pula, bila kami dapat kesusahan atau ada keperluan apa-apa”
(halaman 305)
Upaya untuk menentang perlakuan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda hanya dikaitkan dengan konteks Padang sendiri. Begitu juga perlawanan yang dilakukan terhadap Belanda, hanya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Padang saja.
Namun, ada juga yang menunjukkan ke arah kebangsaan secara nasional. Terdapat dalam Surat Samsulbahri kepada Nurbaya, ketika membicarakan masalah ontgroening (perpeloncoan). Samsulbahri menulis,
“…pada sangkaku, dan demikian murid-murid itu jadi bermusuh-musuhan dan berdendam-dendaman. Misalnya seorang anak Sunda yang kurang suka kepada anak Jawa atau yang telah mendapat siksaan dari anak Jawa, tatkala ia mula-mula masuk, menaruh dendam dalam hatinya dan beniat hendak melepaskan dendamnya kelak kepada anak Jawa. Dengan demikian persahabatan antara kedua suku bangsa ini, yang diharapkan akan diperoleh karena percampuran dalam sekolah, boleh menjadi kurang dan akhrinya menjadi putus.”
(halaman, 120)
Dari kutipan di atas, Sitti Nurbaya sudah menunjukkan kepedulian terhadap pentingnya persahabatan antar suku di Nusantara.
4. Bahasa Percakapan dimasukkan Diantara Bahasa Tulisan (Terdapat Dialog)
Dalam novel ini sudah terdapat dialog (percakapan antar tokoh), berbeda dengan karya sastra sebelumnya (klasik) yang sama sekali memuat percakapan antar tokoh. Kita ambil salah sebagian contoh saja.
“Sesungguhnya Datuk Meringgih itu manusia yang sebengis-bengisnya. Sebelum mati aku belumlah puas hatinya,” kata Nurbaya dengan sangat marahnya. “Percayalah engkau akan sekalian dakwaannya itu?”
”Masakan aku percaya Nur, masakan engkau dapat berbuat sedemikian,” jawab Samsu. “Sekalian orang yang mendengar cerita ini, tak seorang pun peprcaya akan dakwa itu. Teteapi apa hendak dikata? Kita sekarang berlawan dengan polisi, tiada dapat berbuat apa-apa, harus menurut. Jika kita berlawan dengan Datuk celaka itu, sebelum melayang nyawaku, tiadalah engkau akan kembali ke Padang.”
(Nurbaya Lari ke Jakarta, 221)
5. Terdapat Analisis Jiwa
Analisis jiwa yang ada di novel ini antara lain dapat dilihat pada halaman 141,
Setelah Samsu membaca kecelakaan ini, lalu ia menundukkan kepalanya ke atas mejanya, menangis amat sangat, karena sedih akan nasib kekasihnya dan untungnya sendiri pun. Segala cita-cita hatinya yang sekian lama diharap-harapkannya, pada saat itu hilang lenyap, sebagai batu jatuh ke lubuk, hujan jatuh ke pasir, tak dapat dicari lagi. Pengharapan yang telah sekian lama berurat berdaging dalam jantungnya tiba-tiba diputuskan oleh Datuk Meringgih, dengan putus yang tak dapat disambung lagi.
………
setelah menangis amat sedih beberapa lamanya, tiba-tiba berdirilah ia dengan menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya. Dengan muka yang pucat dan mata yang bernyala-nyala, karena menahan marahnya, …
Dalam bagian ini tergambar kejiwaan Samsubahri sedang sedih dan marah setelah mendengar berita dari Nurbaya yang mengabarkan tentang kecelakaan yang dialainya.
6. Cerita Bermain dalam Zaman Sekarang.
Lebih dari setahun lamanya kita tinggalkan Gunung Padang, sejak Samsulbahri berjalan-jalan ke sana dengan Nurbaya dan teman-temannya. Sekarang marilah kita kembali pula ke sana, karena pada hari ini sangatlah ramai, di gunung itu, penuh sesak dengan beratus-ratus orang……….
(Samsulbahri Pulang ke Padang, 144)
Pada cuplikan diatas sangat jelas terlihat jika cerita Sitti Nurbaya terjadi pada zaman sekarang dengan digunakannya kata ‘sekarang’ dan ‘pada hari ini’. Pada karya sastra klasik. Cerita terjadi pada ‘zaman dulu’, tidak menggunakan kata penunjuk waktu sekarang melainkan penunjuk waktu zaman dulu, seperti pada dahulu kala, dsb.
7. Kebangsawanan Pikiran Kontra Kebangsawanan Darah
Karakteristik ini bisa ditemukan dalam bagian Sepuluh Tahun Kemudian,
“Sekarang aku dapat berperang bersama-sama dengan engkau dan dapat belajar padamu,” kata Van Sta kepada Letnan Mas. Akan tetapi perkataan ini tiada di dengar oleh Letnan Mas, sebagai ia sedang memikirkan sesuatau hal yang penting.
…Takutkah ia pergi berperang ke Padang? Mustahil! Letnan Mas yang termasyhur gagah beraninya dan telah berpuluh kali berperang, selamanya mendapat kemenangan. Letnan yang tiada takut, melainkan beringin mati itu, tak boleh jadi ‘kan menaruh gentar…
(halaman, 296)
Yang dimaksud dengan kebangsawanan pikiran, orang yang dihormati bukan hanya karena yang mempunyai bangsa tinggi. Melainkan juga dihormati oleh Van Sta karena hasil dari usahanya. Dalam cuplikan diatas, Letnan Mas dihormati karena mampu meraih kemenangan dalam memimpin pasukannya dalam setiap pertempuran yang dialaminya.
Sekalian pembesar Belanda dan bangsa lain turut menimbun kubur itu dengan sekepal tanah dan akhirnya disiramilah kubur itu dengan air cendana dan disebsarkanlah bunga-bungaan ke atasnya. Setelah itu berpidatolah seorang pembesar tentara, memperingati kegagahan dan kesetiaan yang meninggal, kepada Pemerintah. Ialah anak negeri yang mula-mula dapat mencapai pangkat yang setinggi itu dalam golongan tentara. Kemudian diucapkannya, supaya arwah yang meninggal mendapat kesentosaan dan kesejahteraan di alam yang baka.
(halaman 331-332)
Dalam cuplikan yang kedua ini, juga dapat diketahui bahwa yang seseorang (yang telah dikubur) dihormati karena kesetiaannya pada Pemerintah. Bukan karena darah keturunannya.
8. Pandangan Hidup Baru Kontra Kebangsawanan
Pertentangan antara pandangan hidup baru dan pandangan hidup kebangsawanan dapat dilihat dari percakapan antara Fatimah dan Ahmad Maulana:
“Kalau laki-laki itu bangsawan atau rupawan, sudahlah; sebab ada yang diharapkan dari padanya yaitu ruap yang baik atau bangsanya yang tinggi itu, supaya turun kepada anaknya, meskipun bangsa itu makin lama makin berkurang harganya dan makin kurang dipandang orang. Tetapi, kalau laki-laki itu tiada berbangsa tinggi, tiada berupa baik, kepala bersegi, telinga lebar, mata juling, hidung penyek, mulut lebar, gigi keluar, punggung bungkuk, kaki timpang pula sebelah, apakah yang diharapkan dari orang yang sedemikian? Segala cacatnya itukah, supaya anak cucunya sama bagusnya dengan dia?”
“Laki-laki yang serupa itu masakan laku! Yang dibeli, tentulah yang bangsawan, rupawan, pintar, berpangkat atau lain-lainnya,” jawab Fatimah
“Kalau begitu, tak jadi apalah. Tiap-tiap yang berharga, tentu tak dapat dipinta saja, walaupun barang yang berharga ini, bagiku tak seberapa artinya. Tetapi adat yang kita perbincangkan tadi, yaitu laki-laki dipandang sebagai orang yang menumpang saja, kedapatan juga pada orang kebanyakan, jadi bukan pada orang yang istimewa saja.
Lagipula daripada sifat-sifat yang kau sebut itu, hanyalah kebangsawanan dan rupawan saa yang dapat diturunkan kepada anak cucu. Tetapi pangkat yang tinggi atau ilmu yang dalam itu apa gunanya, kalau tak dapat menolong anak?”
(Percakapan Nurbaya dengan Alimah, 236-237)
Dari percakapan ini dapat dilihat bahwa pandangan baru yang diungkapkan oleh Ahmad Maulana bertentangan dengan pandangan hidup bangsawan yang hanya mementingkan keturunan darah dan kebangsawanan dalam memilih jodoh.
9. Puisi Berbentuk Pantun dan Syair
Dalam novel juga terdapat banyak puisi/sajak, yang berbentuk pantun dan syair. Salah satu pantun yang terdapat dalam Sitti Nurbaya,
Jika ada sumur diladang,
Tentu boleh kita menumpang mandi.
Jika ada umurku panjang,
Tentu boleh bertemu lagi
(Berjalan-jalan ke Gunung Padang, 56)
Salah satu syair yang terdapat dalm Sitti Nurbaya,
Lipus segala susah di hati,
Melihat adikku emas sekati,
Datang menjelang abang menanti,
Dagang merindu bagaikan mati.
(Surat Samsulbahri kepada Nurbaya, 113)
10. Bersifat Didaktis (Mendidik)
Dalam Sitti Nurbaya ini nasihat yang secara langsung dapat dilihat terdapat pada halaman 159 sampai 166.
Kita ambil sebagian kecil saja,
“…dan jika dapat pun dipenuhinya segala kehendak dan maksudnya itu bukan puas hatinya, bahkan bertambah pulalah tamak dan lobanya, dan semakin lupalah ia aka dirinya dan Tuhannya, karena asyik hendak memuaskan hawa nafsunya yang tak dapat dipenuhi itu. Dan jika tak dapat disampaikannya segala maksudnya itu, menyesallah ia akan untungnya dan mengumpatlah ia kepada Allah. Ke sini ke sana, tiadalah orang yang sedmikian itu akan mendapat kesenangan dan kesejahteraan.
Oleh sebab itu terimalah segala yang telah dikurniakan Tuhan itu dengan sabar. Jika hendak menambah yang telah ada itu, boleh tetapi hendaklah minta kepada-Nya dan dengan jalan yang baik. Jika tiada dikabulkan permintaan itu sekarang, sabarlah dahulu barangkali kemudian dapat juga, karena barang sesuatu yang dikehendaki itu, niscaya akan diperoleh juga akhir kelaknya, asal dengan yakin dan bersungguh-sungguh hati meminta. Sebagai telah kukatakan, Tuahan itu bersifat pengasih dan penyayang.”
(Samsulbahri Pulang ke Padang, 162)
Dalam cuplikan di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa kita harus sabar menerima setiap apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dan mengingatkan kita agar tidak menjadi manusia yang tamak, karena manusia yang tamak tidak akan mendapat kebahagian dan kesejahteraan.

Catatan:
Sitti Nurbaya yang kami baca dan kami analisis adalah cetakan yang ke-44 tahun 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s