Dari Tak Tahu Kini Aku Tahu


Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kutulis. Bukan karena tidak ada yang harus kutulis, tapi karena terlalu banyak yang harus kutulis, sehingga membuatku bingung mana yang harus kutulis. Semua hal itu berdesakan dalam otakku, mengantri berdesakan menunggu giliran untuk ditulis. Padahal belum tentu mereka semua dapat kutulis segera. Seperti masyarakat miskin yang sedang antre minyak tanah pada operasi pasar, karena dalam pasar harga minyak tanah yang dibutuhkan untuk memasak ini sudah langka, sangat sulit untuk mendapatkannya. Selain itu jikapun ada minyak tanah pasti harus didapat dengan harga yang sangat mahal.

Kenapa aku jadi membicarakan minyak tanah. Padahal otakku sendiri sedang bingung hal yang mana terlebih dulu kutulis. Apakah tentang hatiku ini yang kadang kala tak mau diajak kompromi. Tak ada yang dapat dikopromikan untuk masalah hati. Tidak seperti partai politik yang mau berkompromi asalkan tujuan dan kepentingannya dapat di dan terpenuhi. Dalam dunia polotik kompromi ini dibingkai dalam bahasa keren, koalisi. Yang terbaru adalah koalisi dua partai yang selama ini dikenal sebagai musuh bebuyutan, dua partai besar, yang mengusung istilah indah, koalisi kebangsaan. Dengan membawa alasan bahwasanya dua partai ini adalah partai yang sama-sama memiliki asas kebangasaan.

Andaikan saja semua partai yang memiliki asas sama melakukan koalisi, lebih tepatnya fusi, maka pastilah partai itu akan menjadi partai besar tak tertandingi. Partai dengan asas apakah yang sebenarnya dapat melakukan hal ini namun masih belum mau melakukannya. Yaitu partai dengan asas Islam, karena banyak partai besar yang mengusung asas Islam. Diantaranya adalah PKB, PPP, PBR, PKNU, PBB, PKS dan PAN. Kenapa mereka tidak mau bersatu meski memiliki tujuan yang sama?

Setelah kurenungkan dan kucari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas maka kuralat jika hati dan partai politik tidak memiliki persamaan sekali. Persamaan antara partai politik dan hati adalah tidak mau bersatu karena memiliki tujuan yang sama.

Kita sudah membicarakan tentang partai poitik yang tidak mau bersatu atau sekedar berjalan bersama untuk mencapai tujuan yang sama. Ternyata sama halnya dengan hati. Bahkan dapat dikatakan lebih parah hati. Masalah hati sangat erat kaitannya dengan perasaan, perasaan yang sangat mungkin muncul adalah cinta saat kita membicarakan hati.

Mana mungkin dua hati yang sama-sama bertujuan untuk meraih cinta dari satu orang mau berkompromi? Yang pasti terjadi adalah dua hati ini akan bertarung sekuat tenaga untuk mendapatkan hati orang yang mereka cintai itu. Tidak mungkin mereka berkoalisi. Kenapa aku bisa mengatakan hal seperti ini? Bukannya aku hanya menerka-nerka atau asal bicara. Aku bisa berkata seperti ini karena aku sendiri telah mengalaminya.dan mungkin aku akan mengalaminya kembali tahun ini. Tahun ketiga selama aku menuntut ilmu di sekolahku, SMAN 4 Jember. Sebelumnya aku sudah mengalaminya pada akhir tahun pertama dan setahun penuh tahun kedua aku sekolah di sekolahku tercinta.

Namun pada tahun ketiga ini aku merasakan rasa ini pada orang yang berbeda, bukan rasaku pada orang yang pada akhir tahun pertama dan selama tahun kedua dulu.

Siapa? Aku sendiri masih belum yakin yang mana. Yang jelas aku berharap semoga rasa ini tidak berlanjut seperti yang dulu, yang telah pergi dan mungkin tak kembali. Dulu aku hanya bisa diam dan diam tanpa melakukan apa-apa. Biarlah yang lalu berlalu bagai debu jalanan pada musim kemarau. Jangan sampai aku terjebak dalam lubang yang sama. Karena rasa itu berakhir dangan sangat tidak bahagia namun untungnya juga tidak berakhir dengan kesengsaraan yang sangat pula. Aku yakin jika rasa itu tidak pernah ada maka tahun kedua di sekolahku akan berakhir dengan sangat bahagia.

Tapi kenapa aku mengatakan semua ini. Kenapa aku tidak diam saja seperti para terdakwa kasus korupsi milyaran rupiah, mereka diam saja tidak mengakui kesalahannya. Namun akhirnya bukti yang mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya. Mungkin aku takut bukti mendahuluiku untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dari pada harus didahului oleh bukti maka baiknya aku ungkapkan saja terlebih dahulu. Karena aku yakin bukti akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, sudah terbukti pada kasus para koruptor meskipun mereka getol menolak namun akhirnya mereka terbukti bersalah. Semoga saja dengan kata-kataku ini yang terbukti bukanlah kesalahanku, namun yang terbukti adalah kebenaranku.

Masalah ini memang sulit, itu jika dibuat sulit –kata orang begitu. Karena sulitnya ini maka aku akan berusaha untuk menghadapainya dengan senyuman. Haadaapi dengan senyuuman semua yang terjadi biar terjadi. Aku teringat senandung yang dilantunkan oleh Once bersama salah satu grup band favoritku setelah Iwan Fals tentunya. Aku yakin bisa menghadapi ini dengan senyuman, selama ini aku melihat banyak foto, sticker, selebaran, poster, bahkan baliho yang menampilkan wajah-wajah dengan senyum yang lebar. Padahal mereka adalah calon pemimpin rakyat, dan rakyat kini sedang mengalami kesusahan, para pemgusaha kecil susah karena adanya serbuan barang asing yang tak terkendali, para  pedagang kecil susah karena banyak tumbuh toko besar yang memiliki modal besar dan dikuasai oleh asing, para petani susah karena kesulitan mendapatkan pupuk. Padahal pupuk menjamin kelangsungan hidup tanaman mereka, dan tanaman mereka menjamin kehidupan mereka. Jika pupuk sulit didapat maka untuk hidup mereka juga akan mengalami kesulitan. Tahukah, siapakah orang yang wajahnya banyak terpampang di tempat strategis di tiap sudut kota bahkan pelosok desa. Sebenarnya aku juga tidak tahu siapa mereka, mereka bukan saudara, teman atau kenalanku. Namun mereka banyak berjanji akan memperjuangkan hak kami.

Tahu apa mereka tentang hak kami. Bukankah mereka tuli tentang kepentingan kami, dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri. Entahlah kenapa mereka masih bisa tersenyum jika memang berusaha memperjuangkan kepentingan kami. Kami sedang merasa kesulitan. Seharusnya mereka memasang foto mereka yang sedang menangis atau sekedar bersedih melihat kesedihan kami.

Namun di sisi ini aku tidak mau seperti wajah- wajah yang sok kenal dan sok dekat dengan rakyat ketika saat kampanye saja itu. Mereka memasang senyum lebar disaat yang lain sedang mengalami kesusahan. Aku sendiri bingung padahal mereka bukanlah artis atau foto model tapi kenapa foto mereka banyak terpampang di tiap sudut kota, surat kabar dan harian bahkan sampai di pelosok desa.

Aku tidak mau seperti mereka karena mereka hanya berkata tanpa mau untuk merealisasikan apa yang mereka katakana, aku tidak mau aku hanya mengucapkan rasa ini begitu saja. Lebih baik aku merealisasikan apa rasa ini sebelum aku mengatakannya. Kebanyakan orang hanya gembar-gembor berkata dan berjanji tapi tak terbukti. Aku tidak mau hal itu terjadi pada diriku.

Semoga aku bisa. Andaikatapun aku tidak merealisasikan apa yang kuinginkan tadi bukankah tidak apa-apa karena aku tidak pernah berjanji untuk melakukannya. Bahkan tidak ada orang yang tahu akan hal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s