Analisis “Pengarang Telah Mati” Karya Sapardi Djoko Damono


oleh Erisy Syawiril Ammah
Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan hasil imajinasi dan kreativitas seorang pengarang. Pengarang menulis tentang apa saja yang menimbulkan keharuan batinnya, dan mendorong untuk berpikir, mencernakan dan mensublimasikan apa yang dilihat, didengar, dirasakannya, dialaminya, dan akhirnya dia mencipta (Lubis,1996:37). Selanjutnya Lubis (1996:53) mengemukakan bahwa kreativitas seorang sastrawan adalah kemampuan untuk mengapresiasi manusia dan kehidupannya, pengalaman masyarakatnya, sejarah bangsanya, dan negerinya, lingkungan hidupnya, kebudayaan dan sistem nilai bangsanya baik yang homogen maupun yang beragam. Sastra coba mengarah kepada persoalan budaya, mencoba memahami kehidupan, melihat persoalan kehidupan, memberikan makna dan mencari dasar persoalan.
Cerpen sebagai karya sastra seperti juga karya sastra yang lainya, membentuk dunia rekaan berdasarkan realitas kehidupan dan fenomena sosial yang ada. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Hal ini mengakibatkan tema yang diusung oleh pengarang dalam sebuah cerpen berada dalam wilayah semantis yang tersirat, yang direpresentasikan melalui problematis yang dikemas di dalam cerpen.
Salah satu cerpen karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Pengarang Telah Mati merupakan sebuah cerpen yang menarik dalam menyuguhkan sebuah dunia otonom yang benar-benar atas kekuasaan seorang pengarang. Pengarang yang lahir di Solo, Jawa Tengah karya-karyanya sudah tidak asing lagi bagi kalangan pembaca karya sastra. Cerpen yang berjudul Pengarang Telah Mati banyak mengungkapkan problematika kehidupan yang digambarkan melalui tokoh-tokonnya, dan direpresentasikan melalui gaya penulisan yang indah dan semi puitis. Bahkan, dalam cerpen ini mengandung kritik sosial dan memuat pandang hidup berisikan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memberikan suatu pengetahuan dan pengalaman kepada pembaca.
Proses analisis yang digunakan dalam cerpen ini adalah untuk mengungkapkan tema yang diusung Sapardi Djoko Damomo dalam karyanya yang berjudul Pengarang Telah Mati. Hal ini karena tema tidak berada dalam ranah yang tersurat yang dapat diketahui langsung oleh pembaca, tapi tema dalam cerpen Pengarang Telah Mati berada dalam wilayah semantis yang digambarkan dalam setiap problematis dalam cerita. Pengarang yang mempunyai wewenang dalam menciptakan sebuah dunia otonom kepengaran, akan berusaha menyembunyikan sesuatu yang akan menjadi penyampaian pesan dari suatu cerpen yang akan memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada pembaca. Horace menyatakan bahwa hakekat seni itu dulce et utile atau seni itu indah dan berguna (Wellek dan Warren, 1995:25). Jadi, karya sastra selain bersifat menghibur juga bermanfaat bagi penikmatnya.
Dalam makalah ini penulis mengangkat rumusan masalah tentang mencari tema dan keterkaitan antara tokoh utama dengan judul cerpen Pengarang Telah Mati dengan menggunakan potret pendekatan pragmatik.
Setelah mencari diberbagai sumber baik skripsi, penelitian dan pengkajian cerpen, ternyata belum ada yang menjamah analisis Tema dan keterkaitan tokoh utama dengan judul dengan pendektan pragmatik cerpen Pengarang Telah Mati karya Sapardi Djoko Damono. Kegiatan analisis ini diharapkan akan dapat meningkatkan kegiatan apresiasi terhadap karya sastra, dan juga memberikan pengetahuan serta pengalaman dalam memahami suatu karya sastra, tidak lupa maanfat lain bagi penulis adalah untuk memenuhi tugas apresiasi prosa.

Landasan Teori
Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangun)-nya. Struktur karya fiksi menyaran pada pengertian hubungan antar pembangunnya yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama-sama membentuk satu kesatuan yang utuh (Nurgiyantoro, 2000:36).
Untuk sampai pada analisis makna prosa, diperlukan analisis aspek sintaksis, semantik, dan verbal (Todorov, 1985: 12). Analisis Aspek sitaksis memperlihatkan bahwa sebuah teks terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan. Melalui telaah aspek sintaksis, karya sastra dapat diuraikan menjadi unsur-unsur terkecil berupa sekuen. Analisis sintaksis akan memperlihatkan bagaimana alur dan pengaluran sebuah prosa. Alur ini diperlihatkan melalui analisis fungsi utama dan pengalurannya melalui analisis sekuen-sekuen. Analisis tokoh dan latar diperoleh melalui analisis aspek semantik. Dari analisis itu akan diketahui bagaimana pikiran-pikiran tokoh dan fungsi latar dalam prosa secara keseluruhan. Analisis aspek verbal menitikberatkan pada analisis gaya penceritaan yang dikelompokkan Todorov dalam tiga unsur bahasa dalam wacana fiksi, yaitu kategori modus/ujaran, kala/waktu, dan sudut pandang. Berdasarkan uraian di atas, maka analisis struktur prosa menyaran pada analisis alur dan pengaluran, analisis tokoh, analisis latar, analisis gaya penceritaan, maupun tema.
Pendekatan pragmatik
Menurut Abram, pendekatan pragmatik (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis.
Secara umum pendekatan pragmatik adalah pendekatan kritik sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra dalam zaman ataupun sepanjang.
Sedangkan menurut para ahli mendefenisikan pendekatan pragmatik adalah sebagai berikut:
1) Menurut Teeuw, 1994 teori Pendekatan pragmatik adalah suatu bagian ilmu sastra yang merupakan pragmatik kajian sastra yang menitik beratkan dimensi pembaca sebagai penangkapan dan pemberi makna terhadap karya sastra.
2) Relix vedika (polandia), pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang tak bahnya artefak (benda mati) pembacanyalah yang menghidupkan sebagai proses konkritasi.
3) Dawse user 1960, pendekatan pragmatik merupakan interprestasi pembaca terhadap karya sastra ditentukan oleh apa yang disebut “Horizon Penerimaan” yang mempengaruhi kesan tanggapan dan penerimaan karya sastra.
Pendekatan ini menganut prinsip bahwa sastra yang baik adalah sastra yang dapat memberi kesenangan dan kaidah pembacanya dengan begitu pendekatan ini mengabungkan diantara unsure pelipur lara dan unsur dedaktif. Pemanfaatan pendekatan ini harus berhadapan dengan realitifitas konsep keindahan dan konsep nilai dedaktif. Setiap generasi, setiap kurun tertentu diharuskan menceritakan nilai keindahan hal itu tidak berarti bahwa interprestasi hanya subjektif belaka.
Judul
Setiap buku pasti memiliki judul. Pengarang sengaja membuat judul semenarik mungkin, apalagi untuk judul sebuah karya sastra seperti cerpen. Judul sebuah karya sastra dapat menunjukkan visi yang terkandung di dalamnya, dan juga sebuah judul dapat menyiratkan tema yang diusung dalam karya sastra tersebut. Selain itu, judul berfungsi sebagai gambaran singkat tentang isi keseluruhan cerita. Jones (1968:82) menyatakan bahwa judul dapat menunjukkan unsur tertentu sebuah karya sastra yaitu:
1) menunjukkan tokoh utama
2) menunjukkan alur atau plot cerita
3) menunjukkan objek tertentu
4) mengidentifikasi keadaan atau suasana cerita, dan
5) menunjukkan berbagai macam pengertian, misalnya tempat dan suasana.
Tema
Nurgiyantoro (2000:67) mengutip pengertian tema yang dikemukakan Stanton dan Kenney bahwa tema (theme) adalah makna yang terkandung oleh sebuah cerita. Hal senada dikemukakan Rahmanto dan Hariyanto (1998:2.20)
bahwa tema adalah makna cerita, gagasan utama, atau dasar cerita. Sedangkan Hartoko dan Rahmanto juga sebagaimana dikutip Nurgiyantoro (2000:68) menafsirkan bahwa tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang dikandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan.
Rahmanto dan Hariyanto (1998:2.20) mengemukakan bahwa tema hendaknya dibedakan dengan topik. Tema dalam suatu cerita adalah gagasan sentralnya. Topik adalah pokok pembicaraan yang berhubungan dengan atau yang ditunjukkan oleh cerita. Tema lebih merupakan komentar terhadap topik, baik secara tersirat maupun tersurat. Di dalam tema terkandung sikap pengarang terhadap topik cerita. Dalam kaitannya dengan pengalaman pengarang, tema adalah sesuatu yang diciptakan oleh pengarang sehubungan dengan pengalaman yang diekspresikannya.
Tokoh
Tokoh adalah Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminuddin, 1987: 79).
Rahmanto dan Hariyanto (1998:2.13) menyatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita, sedangkan penokohan atau perwatakan ialah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh di dalam karya sastra.
Nurgiyantoro (2000:176) membedakan tokoh dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita sebagai tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama senantiasa ada dalam setiap peristiwa di dalam cerita. Untuk menentukan siapa tokoh utama dalam cerita, kriteria yang biasa digunakan ialah (1) tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, (2) tokoh yang paling banyak dikisahkan oleh pengarangnya, dan (3) tokoh yang paling banyak terlibat dengan tema cerita.
Kenney (1966) sebagaimana dikutip Rahmanto dan Hariyanto (1998:2.13) mengklasifikasikan tokoh dari segi kualitasnya sebagai the simple or flat characters (tokoh sederhana atau tokoh yang berwatak datar), dan the complex or round characters (tokoh kompleks atau tokoh berwatak bulat). Tokoh berwatak datar artinya tokoh yang kurang mewakili personalitas manusia secara utuh, hanya ditonjolkan satu sisi kehidupan saja. Sementara itu tokoh yang berwatak bulat adalah tokoh yang dapat dilihat dari semua sisi kehidupannya.
Ciri tokoh sederhana bersifat stereotif, polanya itu-itu saja. Tidak menimbulkan watak dan tingkah laku bermacam-macam. Dengan memberikan kejutan atau berbagai kemungkinan sikap dan tindakan seperti halnya tokoh bulat. Menurut Abrams, sebagaimana dikutip (Nurgiyantoro, 2000:183) yang membedakan tokoh sederhana dan tokoh bulat ialah bahwa dibandingkan dengan tokoh sederhana, tokoh bulat lebih menyerupai kehidupan manusia yang sesungguhnya, karena di samping memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberikan kejutan.

PEMBAHASAN
Tema cerpen “ Pengarang Telah Mati” dengan potret pendekatan pragmatik

Setelah menggauli cerpen “Pengarang Telah Mati” karya Sapardi Djoko Damono, ternyata tema berada dalam wilayah semantis yang tersirat dalam berbagai konteks struktural, yang membutuhkan pemahaman secara mendalam dan sungguh terhadap segala sesuatu yang dipaparkan dalam cerita. Untuk mencari tema dalam cerpen ini digunakan sudut pandang pragmatik, yang memberikan perhatian utama terhadap pembaca.
Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Setelah diadakan responsi pembaca terhadap cerpen Pengarng Telah Mati,ternyata diketahui berbagai pandangan yang dikemukakan oleh pembaca mengenai tema cerpen tersebut. Berikut ini adalah pandangan dari pembaca.
Pertama, pembaca berpendapat bahwa tema yang diangkat dalam cerpen telah mati adalah masalah perselingkuhan tokoh utama kita, Sukram. Hal dapat didasarkan pada data yang mengenai perselingkuhan dalam cerpen tersebut,
File 1 hal.48
Data: alenia 1
“lho, kok nelepon?”Suara ida.
“ Apa nggak boleh?”
“Bukan, maksudku pesawatnya apa belum berangkat ? ini kan sudah pukul sebelas, aku bayangkan sudah di atas lautan.” ….
Apabila melihat data tersebut dapat deketahui bahwa tokoh utama, Sukram ada hubungan khusus dengan Ida, hal ini karena diwaktu yang sangat genting, disitu diceritakan bahwa kapal yang dinaiki Sukram ada kerusakan mesin, Tokoh utama, Sukram malah menelpon Ida tidak menelpon istrinya sendiri. Perselingkuhan yang dilakukan oleh Sukram juga diperkuat pada data File 15 hal.110
Data: alenia 1
Aku sudah menerima e-mailmu yang ringkas itu, ida. Aku tidak bisa. Engkau adalah oasisku. Istri dan anakku. Aku tentu saja berjanji untuk tetap menunjjukkan telunjukku, kalau nanti kita ketemu sehabis masa studimu….
Dari data tersebut dapat menguatkan perselingkuhan yang dilakuakan leh tokoh utama, Sukram dengan Ida, sukram tidak bias bersama ida dan juga tidak bias meniggalkanya, terlihat bahwa Ida mengirimkan sebuah E-mail kepada sukram untuk hidup bersamnya, tapi Sukram tidak dapat melakukan hal itu karena dia telah memiliki istri dan anak.
Kedua, pembaca berpendapat bahwa tema yang diusung dalam cerpen Pengarang Telah Mati adalah masalah politik, masalah reformasi kekuasaan yang akan dipaksakan oleh mahasiswa, hal ini didasarkan pada data sebagai berikut.
File 7 hal. 72
Data: alenia 2
…………………………………………………………………………………………………
…. Merek itulah yang mengatakan bahwa sekarang ada tiga kekuatan besar yang sedang berhadap-hadapan. Pemerintah yang korup, Mahasiswa yang militant, dan opurtunitis politik, mahsiswa harus tidak bergeser pada tujuan semula yaitu menumbangkan tatanan yang sudah direkayasa selama tiga puluh tahun ….
Melihat data tersebut diketahui bahwa ada konflik yang terjadi dalam ranah kekuasaan, adanya golongan mahasiswa yang mencoba untuk mengadakan reformasi kekuasaan pemerintah yang telah berkuasa selama tiga puluh tahun, yang dinilai banyak menimbulkan permasalahan seperti korupsi, kkn, manipulasi dll.
Setelah diadakan responsi kepada pembaca dapat diketahui beragamnya presepsi pembaca dalam menyimpulkan tema cerpen Pengarang Telah Mati, hal ini dapat dikarenakan adanya suatu hipotesis awal yang dilakukan pembaca terhadap tema cerpen tersebut, yang seharusnya melakukan penggaulan secara lebih mendalam terhadap cerpen tersebut. Tapi bukan berarti penulis menyampingkan presepsi dari pembaca, justru presepi dari pembaca akan dijadikan acuan pendukung untuk menganalisis secara lebih mendalam cerpen Pengarang Telah Mati, dan menyimpulkan sebenarnya tema apakah yang diusung oleh pengarang. Berikut ini adalah data yang berisi masalah yang paling penting dan menonjol yang dapat digunakan untuk menyimpulkan tema. Menurut Esten (1984:92) ada tiga kriteria dalam menentukan tema mayor, yaitu:
1) melihat persoalan yang paling menonjol.
2) melihat persoalan yang paling banyak menimbulkan konflik, dan
3) melihat persoalan yang paling banyak membutuhkan waktu penceritaan.
Masalah penting Bag. TAMU (Hal. 43-47)
Alenia
1. Penciptaan sebuah cerita fiksi yang kemudian ditinggal mati oleh pengarang ketika ceritanya belum selesai
Data:
Saudara, saya adalah salah seorang tokoh sebuah cerita yang ditulis seorang pengarang minggu lalu, meninggalkan ceritanya belum selesai. Maksud saya, sebelum sempat menyelsaikan ceritanya ia meninggal dunia. Saudara juga sempat melihat jenazahnya, bukan?wajahnya tentram sekali, seolah ia tidak punya masalah meninggalkan dunia ini. Padahal ia masih punya masalah besar, yakni menyelesaikan ceritanya.
2. Kekhawatiran tokoh-tokoh dalam cerita akan nasib mereka terutama jika ceritanya tidak selesai
Data:
… Sesudah saya dan beberapa tokoh dilahirkan, rekan-rekan saya dalam cerita yang masih dalam proses penciptaan itu menghubungi saya, mereka tampak khawatir. Pengarang itu sudah payah sekali kesehatanya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang kita belum selesai, bagaiman nasib kita terutam nasibmu, yang menjadi tokoh utama? ….
3. Tokoh utama yang diberi nama Sukram oleh pengarang yang belum tahu wataknya, yang masih ada dalam beberapa file
Data:
Saya hanya ada dalam beberapa file di komputernya. Begitu berbagai-bagainya sehingga saya benar-benar tidak tahu watak saya apa. Ia seenaknya memberi nama saya sukram ….
5. Proses penciptaan cerita yang belum selesai akan berakibat pada jalan hidup tokoh-tokoh yang belum jelas
Data:
…………………………………………………………………………………………………………………
Kami tidak bisa ditinggalkanya begitu saja. Proses penciptaan yang tidak selesai akan besar sekali akibatnya bagi yang diciptakan, bagi kami dan jalan hidup kami …
6. Tokoh utama dalam cerita meminta seseorang untuk menyelesaikan jalan ceritanya
Data:
Kalau memang boleh ya minta Saudaralah yang melakukanya. Dan lagi pengarang itu seenaknya saja mati dan meninggalkan ciptaanya belum selesai? Mana tanggung jawabnya? ….
8. Tokoh dalam cerita meminta kepada seseorang untuk mendapatkan file-file dalam komputer pengarang dan menerka arah nasibnya
Data:
…………………………………………………………………………………………………………………………
Sebelum semua file tentang diri kami terkena virus, saya harap Saudara membujuk isterinya untuk bisa mendapatkan file-file itu, membacanya dan menerka arah nasih kami selanjutnya ….
Apabila melihat data bagian TAMU tersebut, penulis memunyai sebuah pandangan terhadap problematis yang diangkat pada cerpen Pengarang Telah mati, yang disini akan menyimpulkan sebuah konstitue tema, konstituen tema adalah label yang diberikan sendiri oleh penulis untuk mewadahi komponen sebuah penyusunan tema khusus (minor). Konstituen tema yang kemudian nanti digunakan untuk mengkonstruksikan suatu tema umum (mayor) dalam cerpen tersebut. Konstituen dati data bagian TAMU adalah jika seseorang sudah terlanjur memulai suatu pekerjaan (cita-cita) harus bisa juga menyelesaikanya sampai akhir (menggapainya). Hal ini karena diceritakan bahwa pengarang belum sempat menyelesaikan ceritanya sedangkan ia sudah meninggal, ini membuat jalan cerita, nasib dan sifat tokoh-tokoh yang ada di dalamya belum jelas kata tokoh utama kita, Sukram.

Masalah penting Bag. AKU (Hal.99-101)
Alenia
1. Sukram memaksa AKU (sudut pandang orang ketiga mahatahu) untuk menjadi pengganti pengarang untuk menyelesaikan ceritanya
Data:
Lama-lama aku jengkel kepada tokoh fiksi itu. Ia seolah-olah memaksaku menjadi pengganti sahabatku yang meninggala dunia sebelum menyelesaikan critanya. Aku tidak bisa mengatakan apa pun kepadanya….
2. Sukram (tokoh utama) terlanjur diciptakan oleh pengarang, yang berhak tahu jalan kehidupan meskipun hanya fiksi, selesai atau tidak ceritanya
Data:
…. aku tidak boleh apa-apa saja padanya. Ia sudah terlanjur diciptakan, seperti katanya sendiri waktu itu kami pertama kali bertemu, dan dia akan menetap diantara huruf-huruf yang telah ditulis sahabatku itu”…. tetapi seperti juga manusia, ia tentu memiliki rasa ingin tahu apa yang terjadi dengan kehidupanya. Meskipun rekaan

3. Sukram (tokoh utama) mendesak AKU (sudut pandang orang ketiga mahatahu) untuk menjadikan ia tokoh fiksi yang ada
Data:
Rupanya Sukram tahu bahwa file-file itu tidak dibuka, ia belum menjadi tokoh-tokoh fiksi baru menjadi ada jika dibaca, jika sudah masuk ke benak manusia. Jika semua yang ditulis sahabatku lenyap begitu saja, dan belum sempat dibaca, Sukram akan mengembara seperti roh yang gentayangan selamanya dialam ajaib….

4. AKU (sudut pandang orang ketiga mahatahu ) bertanya-tanya mengapa pengarang men-delete file-file tertentu dalam cerita
Data:
….aku mulai bertanya-tanya kenapa sehabatku itu men-delete file-file itu. Untung, setidaknya bagi Sukram, sahabatku belum sempat mengosongkan tempat sampah di komputernya itu….
Apabila melihat data bagian AKU tersebut, penulis memunyai pandangan konstituen tema disimpulkan bahwa suatu pekerjaan (cita-cita) yang tidak terselasaikan akan berdampak buruk dan serta menimbulkan kerugian bagi dirinya dan orang lain. Diceritakan bahwa pengarang yang belum selesai menyelesaikan ceritanya menimbulkan problem terhadap tokohya, tokoh dalam cerita tersebut belum mengetahui jalan nasibnya, dan apabila file-file yang belum diselesaikan oleh pengarang terkena virus dan terhapus maka tokoh-tokoh dalam cerita akan gentanyangan entah di alam mana.

Masalah penting FILE 15(Hal. 110-112)
Alenia
1. Sukram tidak dapat meninggalkan anak dan istrinya, tapi juga tidak dapat bersama Ida
Data:
Aku sudah menerima e-mailmu yang ringkas itu, ida. Aku tidak bisa. Engkau adalah oasisku. Istri dan anakku. Aku tentu saja berjanji untuk tetap menunjjukkan telunjukku, kalau nanti kita ketemu sehabis masa studimu….
2. Sukram tidak bersungguh-sungguh kepada Ida karena dia hanya merupakan oasis (sumber kehidupan) masa lalunya
Data:
…. Oasis yang dengan sabar menunggu pengembara yang menempuh perjalanan, dan mungkin tersesat, di padang pasir. Pengembara selalu saja membayangkan oasis itu, meskipun sering kali, sayang sekali, menemukan oasis lain
4. Sukram tetap tidak dapat mengucapkan kata-kata untuk meninggalkan ida meskipun hanya lewat sebuah tulisan
Data:
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Setiapa menulis surat seperti ini, Ida, aku merasa bahwa ada kata yang hilang. Bukan tak terucapkan, tetapi hilang. Dan aku tidak mempunya hak untuk mencarinya….
6. Sukram tetap membiarkan Ida sebagai Oasisnya, dan tidak dapat melupakanya, sehingga tetap belum dapat mengakhiri cerita bersama Ida
Data:
Aku tahu, kau akan tetap terselip di antara huruf-huruf dalam buku yang kubaca, diantara butir-butir udara yang kuhirup, bahkan disela-sela sel-sel darah yang menghidupkanku….
Aku tidak bisa, Ida.
*
Sukram pernah ingin mengirim surat semacam itu, tetapi tidak pernah menuliskanya
Apabila melihat data File 15 tersebut, penulis dapat menyimpulkan konstituen tema bahwa seseorang harus mempunyai prinsip dalam menyelesaikan segala persolan yang terjadi dalam kehidupanya. Hal ini terlihat bahwa tokoh utama kita, Sukram berselingkuh dengan Ida dan dia tidak dapat mengkhiri perselingkuhanya, sehingga timbul berbagi masalah dalam kehidupanya..
Setelah proses analisis dilakukan sehingga dapat ditemukan konstiuen-konstituen tema dalam setiap masalah yang penting dan paping menonjol, kemudian konstituen tema tersebut dikonstruksikan menjadi tema secara umum, sehingga dapat diperoeh bahwa tema yang diusung oleh Sapardi Joko Damono adalah “PERTANGGUNG JAWABAN”. Sebuah ketegasan kepada seseorang agar bertanggung jawab atas perbuatan yang ia telah berani lakukan dan tidak meninggalkan dengan seenaknya, jadi titik manuver yang ingin ditekankan adalah, keberanian dalam memulai suatu hal maka harus juga mempunyai keberanian untuk mengakhirinya. Meskipun terkadang banyak sekali masalah dan resiko yang harus dihadapi seseorang untuk menyelesaikan sebuah cita-cita yang akan diwujudkanya.

Kaitan tokoh utama dengan judul dengan potret pendekatan pragmatik
Tokoh utama merupakan tokoh yang membawa misi (pesan) yang akan disampaikan kepada pembaca. Pesan yang akan disampaikan berupa sebuah amanat, yang oleh pengarang dijadikan untuk mengembangkan sebuah tema. Seorang pembaca akan memunayi presepsi dan imajinasi dalam rangka melakukan penyesuaian, bahwa karya sastra sebagai sesuatu yang diformulasikan dalam realita.
Setelah diadakan responsi kepada pembaca bagaimana kaitan tokoh utama dengan judul, maka diperoleh bahwa pembaca hanya dapat mengambil kesimpulan awal, memang tokoh utam, Sukram berkaitan denga judul cerpen Telah Mati, tanpa memberikan alas kaitan yang seperti apa. Oleh karena itu penulis akan berusaha mengungkapkan kaitan tokoh utama, Sukram denga judul cerpen Pengarang Telah Mati, apakah benar memunyai hubungan seperti yang diungkapkan oleh pembaca.
Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii; 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks, pembaca, dan interaksinya. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks, tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita.
Berikut ini adalah diskripsi data yang menggambarkan kaitan tokoh utama dengan judul yaitu:

FILE 9
Data (alenia 4):
…. Apa aku perampok istri orang ? kalau kau yang perampok, itu benar. Kau telah merampokku sampai tinggal telanjang bulat. Aku suka itu karena kau tidak memperlakukan aku sebagai boneka. Aku berdaging. Ingat pertanyaanku yang tolol ketika esok harinya sesudah untuk pertama kalinya aku tidur di kamarmu itu?…. kau ingat? “tadi malam berapa jauh kau telah masuk?” tanyaku agak khawatir, yang munggkin kauanggap lelucon tolol saja. Dengan tertawa kau menunjukkan telunjukmu, “sebegini”

Dari data FILE 9 tersebut dapat diketahui bahwa Sukram dekat sekali dengan Ida, bahkan pernah tidur denganya padahal bukan istrinya. Dan ini merupakan sebuah konflik awal yang merupakan salah satu masalah paling penting yang dialami oleh tokoh kita, Sukram.
FILE 15 (Hal. 110-112)
Data :
Alenia 1
Aku sudah menerima e-mailmu yang ringkas itu, ida. Aku tidak bisa. Engkau adalah oasisku. Istri dan anakku. Aku tentu saja berjanji untuk tetap menunjjukkan telunjukku, kalau nanti kita ketemu sehabis masa studimu….
Pada data tersebut dapat diketahui bahwa Ida mengirim e-mail kepad Sukram, yang mungkin isinya adalah untuk meminta Sukram agar hidup denganya, terliha Sukram tidak dapat memenuhi permintaan Ida, tapi Sukram juga tidak menolaknya, untuk tetap berhubungan denganya. Hal ini diperkuat dengan data pada alenia 5 dan alenia 6.
Alenia 5
Setiap menulis surat seperti ini, Ida, aku merasa bahwa ada kata yang hilang. Bukan tak terucapkan tapi hilang. Dan aku tak mempunyai hak atau kewajiban untuk mencarinya….
Alenia 6
Aku tahu, kau akan tetap terselip di antara huruf-huruf dalam buku yang kubaca, diantara butir-butir udara yang kuhirup, bahkan disela-sela sel-sel darah yang menghidupkanku….
Aku tidak bisa, Ida.
Setelah melihat dan memahami data-data tersebut dapat diketahui bahwa Sukram tetap tidak bisa melupakan ida atau memang tidak ingin melupakanya, dan Sukram tetap tidak bisa mengakhiri perselingkuhanya, yang menjadikan tokoh kita, sukram selalu mengalami kebingungan dan kebimbangan dalam perjalanan hidupnya.
Data Judul:
“PENGARANG TELAH MATI”
Apabila mengaji unsur tersirat dalam judul cerpen karya Sapardi Djoko Damono maka dapat ditemukan ada sesuatu hal bersifat estetik dan semi imajinatif di sini yang ingin disampaikan pengarang lewat judul cerpen tersebut, karena kematian seorang pengarang yang belum menyelsaikan ceritanya, yang kemudian akan mengakibatkan berbagai konflik yang ditimbulkan. Hal ini pertama ini yang memunyai peranan penting dalam menarik pembaca untuk membaca cerpen tersebut.

Akhirnya penulis dalam hal ini berpandangan bahwa judul Pengarang Telah Mati memunyai keterkaitan dengan tokoh kita, Sukram, dengan melihat hubungan masalah penting yang dialaminya, karena judul cerpen Pengarang Telah Mati secara tersirat mecoba untuk melukiskan kehidupan tokoh utama kita, Sukram dalam berbagai segi dalam cerita. Tokoh utama, Sukram berani menjalin hungan dengan ida yang menandakan sebuah konflik awal, yang dapat disimbolkan dengan keberanians seorang pengarang yang membuat sebuah cerita, kemudian Sukram yang tidak memunyai ketegasan dan tanggung jawab dalam menyelesaikan permasalahanya dengan Ida dapat disimbolkan sebagai pengarang yang belum menyelesaikan ceritanya, tetapi sudah meninggalkanya begitu saja.

SIMPULAN
Apabila menganalisis sebuah karya sastra dengan menggunakan pendekatan pragmatik, akan timbul bermacam-macam presepsi oleh pembaca mengenai suatu karya sastra yang telah dibaca. Hal ini yang menandakan kompetensi pemerolehan yang berbeda antara pembaca yang satu dengan pembaca yang lain, memang hal ini sepertinya bersifat subjektif dalam mengapresiasi karya sastra, tapi hasil apresiasi yang bersifat subjektif oleh pembaca, akan dikumpulkan menjadi satu oleh penulis untuk dilakukuan analisis dan pengajian yang kemudian akan melahirkan suatu apresisi yang objektif.
Cerpen Pengarang Telah mati Karya Sapardi Djoko Damono, merupakan sebuah cerpen yang mengangkat tema tentang “PERTANGGUNG JAWABAN”. Sebuah ketegasan kepada seseorang agar bertanggung jawab atas perbuatan yang ia telah berani lakukan dan tidak meninggalkan dengan seenaknya. Hal ini digambarkan oleh tokoh utama yang diberi nama Sukram oleh pengarang. Berbagai masalah yang dialamai tokoh Sukram, melukiskan tema yang diusung oleh pengarang.
Dalam cerpen Pengarang Telah Mati tokoh memunyai hubungan dengan judul, hal ini dapat dilihat pada tokoh utama Sukram yang setiap masalah penting yang dialaminya memunyai hubungan yang tersirat dengan judul, karena judul cerpen Pengarang Telah Mati secara tersurat mecoba untuk melukiskan kehidupan tokoh utama kita Sukram, dalam berbagai segi dalam cerita.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Yatimin. 2005. Pengantar Studi Etika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Damono, Sapardi Djoko. Pengarang Telah Mati.
Lubis, Mochtar. 1996. Sastra dan Tekniknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Minderop, Albertine. 2005. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia

About these ads

2 thoughts on “Analisis “Pengarang Telah Mati” Karya Sapardi Djoko Damono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s