Kontaminasi Bahasa Indonesia dalam ‘Selamat Pagi’ Radar Jember


A. Pendahuluan

Gejala kontaminasi banyak sekali kita jumpai dalam bahasa Indonesia dewasa ini. Seperti halnya dalam berbagai media, seperti dalam koran, majalah dan media lainya. Susunan itu tampak seperti susunan yang betul, tetapi bila diteliti secara lebih seksama, akan ternyata bahwa bentukan atau susunan itu salah. Seperti, bentuk kata mengesampingkan dengan menyampingkan karena terjadi kekacauan maka terbentuklah mengenyampingkan. Peristiwa semacam mi sering terjadi, walaupun memang tidak mengganggu makna yang sebenarnya, namun hanya tidak sesuai dengan diksi yang diperlukan dalam konteks tersebut.

B. Kontaminasi

Kontaminasi memiliki makna pengotoran; pencemaran karena kemasukan unsur luar. Makna lain kontaminasi adalah penggabungan beberapa bentuk baik kata, frasa, dan sebagainya yang menimbulkan bentuk baru yang tidak lazim (KBBI Pusat Bahasa, 2008:728). Misalnya, munculnya kata bentukan menyuci yang berasal dari kata dasar /cuci/ dengan mendapat prefiks meN-. Seharusnya kata bentukan yang benar adalah /mencuci/ karena dalam tata bahasa Indonesia nassal jika melekat pada kata yang berfonem awal /c/ maka nassal menjadi /n/ sedangka fonem /c/ tidak luluh (Alwi, 2000). Namun, karena tercemar (terkontaminasi) bahasa Jawa jadilah menyuci. Dalam tata bahasa Jawa, fonem /c/ luluh ketika dilekati prefiks nassal.

Kontaminasi ialah suatu gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia diistalahkan dengan kerancuan atau kekacauan. Yang dirancukan ialah susunan, perserangkaian, dan penggabungan.

Gejala kontaminasi ini dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:

1) Kontaminasi kalimat,

2) Kontaminasi susunan kata, dan

3) Kontaminasi bentukan kata. (Badudu, 1993 dalam Putrayasa, 2009)

1. Kontaminasi Kalimat.

Gejala kontaminasi ini timbul karena dua kemungkinan:

a. Orang kurang menguasai penggunaan bahasa yang tepat, baik dalam menyusun kalimat atau frasa maupun dalam menggunakan beberapa imbuhan sekaligus untuk membentuk kata.

b. Kontaminasi terjadi tidak dengan sengaja karena ketika seseorang akan menuliskan atau mengucapkan sesuatu, dua pengertian atau dua bentukan yang sejajar timbul sekaligus dalam pikirannya sehingga yang dilahirkannya sebagian diambli dari bagian pertama sebagian lain dari bagian kedua. Gabungan ini melahirkan susunan yang kacau.

c. Kemungkinan yang lain adalah karena ketidak mampuan seseorang untuk membentuk kalimat pasif atau aktif sehingga memungkinkan terjadinya ketidakjelasan suatu kalimat. Karena menggabungkan antara struktur kalimat pasif dan struktur kalimat pasif.

2. Kontaminasi Kata.

Sebagai contoh, yang paling sering kita jumpai dalam bahasa sehari-hari ialah kata berulang kali dan sering kali. Kata-kata ini terjadi dari kata berlang-ulang dan berkali-kali. Perhatikan contoh berikut!

 Telah berulang-ulang kunasihati, tetapi tidak juga berubah kelakuannya (=telah berkali-kali).

Kata sering kali kontaminasi dari sering dan banyak kali atau kerap kali atau acap kali.

Selain dari kontaminasi, tampak pula gejala ‘pleonasme’ karena sering artinya banyak kali. Jadi, sering kali berarti banyak kali-kali atau kerap kali-kali.

Ucapan jangan boleh seperti dalam kalimat, “Jangan boleh dia pergi!” dirancukan dari jangan biarkan dan tidak boleh. Begitu juga kata belum usah dirancukan dari belum boleh atau belum dapat dengan tidak usah atau usah.

3. Kontaminasi Bentukan Kata.

Adakalanya kita lihat bentukan kata dengan beberapa imbuhan (afiks) sekaligus yang memperlihatkan gejala kontaminasi. Misalnya: kata dipelajarkan dalam kalimat, “Di sekolah kami dipelajarkan beberapa kepandaian wanita”. Kata dipelajarkan dalam kalimat tersebut jelas dirancukan bentuk diajarkan dengan dipelajari. Bentukan yang tepat untuk kalimat tersebut ialah diajarkan sehingga kalimat yang benar adalah:

 Di sekolah kami diajarkan beberapa kepandaian wanita.

Kontaminasi yang lain adalah dipertinggikan. Bentuk tersebut mestinya dipertinggi atau ditinggikan. Masing-masing mempunyai arti khusus, dipertinggi = dijadikan lebih tinggi; ditinggikan = dijadikan tinggi, dibuat jadi tinggi yang tadinya rendah. Jadi, kalau awalan per- dan akhiran –kan digabungkan dalam bentukan ini menjadi dipertinggikan, maka arti khusus dipertinggikan menjadi tidak jelas.

C. Pleonasme

Pleonasme berarti pemakaian kata-kata yang berlebihan. Penampilannya bermacam-macam. Ada penggunaan dua kata yang searti yang sebenarnya tidak perlu karena menggunakan salah satu di antara kedua kata itu sudah cukup. Ada penggunaan unsur yang berlebih karena pengaruh bahasa asing. Misalnya, di mana terbentang danau, di mana merupakan pengaruh dari bahasa asing in which (Ruskhan, 2007). Seharusnya diganti dengan di sana. Ada pula kelebihan penggunaan unsur itu karena ketidaktahuan si pemakai bahasa.

Menurut Badudu (1993) dalam Putrayasa (2009) pleonasme timbul karena beberapa kemungkinan, antara lain:

1) Dibuat dengan tidak sengaja karena tidak tahu;

2) Dibuat karena tidak tahu bahwa kata yang digunakan mengandung pengertian yang berlebih-lebihan;

3) Dibuat dengan sengaja sebagai gaya bahasa untuk memberikan tekanan pada arti.

Berikut ini beberapa contoh gejala pleonasme.

a) Di dalam satu frasa terdapat dua atau lebih kata yang searti, misalnya:

 Pada zaman dahulu kala banyak orang menyembah berhala.

(zaman = kala)

 Mulai dari waktu itu ia jera berjudi.

(mulai = dari; jadi, muali waktu atau dari waktu)

b) Kata kedua sebenarnya tak perlu lagi karena pengertian yang terkandung pada kata itu sudah terkandung pada kata yang mendahuluinya:

Naik ke atas, turun ke bawah, mundur ke belakang, maju ke muka, melihat dengan mata kepala, menendang dengan kaki, dll.

c) Bentuk jamak dinyatakan dua kali.

 Para guru-guru sedang rapat.

D. Sumber Data

Data yang diteliti dalam makalah ini berasal dari rubrik Selamat Pagi di Radar Jember edisi Juli 2010. Namun, tidak semua edisi pada bulan Juli dapat di analisis ada atau tidaknya kontaminasi. Hal ini disebabkan kurangnya terbatasnya sumber yang dapat diperoleh.

Setidaknya dari yang lima ekslempar harian Radar Jember yang diteliti, khususnya kolom Selamat Pagi, ditemukan beberapa gejala kontaminasi, antara lain:

1. …yang paling menyolok adalah dari Wushu.

(Radar Jember, 1 Juli 2010)

2. …justru malah menjadi beban dan cibiran publik

(Radar Jember, 2 Juli 2010)

3. …mereka minta agar Djalal-Kusen tidak menjadi bupatinya tim sukses saja…

(Radar Jember, 13 Juli 2010)

4. Betapa tidak, dengan kunjungan tersebut akan menambah semangat dan kepercayaan diri lebih besar dalam menghadapi MWBC 2010…

(Radar Jember, 26 Juli 2010)

5. …memang banyak disebut-sebut melibatkan kalangan politisi dan akademisi

(Radar Jember, 27 Juli 2010)

6. Namun faktanya hanya beberapa gelintir saja politisi yang berhasil ditangkap,…

(Radar Jember, 27 Juli 2010)

E. Analisis

1. Yang paling menyolok adalah dari Wushu.

Termasuk dalam Kontaminasi bentukan kata. Menyolok merupakan bentukan dari afiks meN- dan /colok/. Fonem /s/ luluh ketika mendapat awalan nassal sedangkan /c/ tidak sehingga yang benar adalah mencolok. Kemungkinan penulis kolom ini tidak tahu bahwa fonem /c/ tidak luluh atau bahkan tidak tahu bahwa menyolok berasal dari kata colok bukan solok sehingga terjadi kerancuan antara melesapkan fonem awalnya menjadi /-ny/ atau mempertahankan fonem awal dan nassal berubah menjadi /-n-/.

2. …justru malah menjadi beban dan cibiran publik.

Termasuk jenis Pleonasme ditandai adanya dua kata yang searti dalam sebuah kalimat, yaitu justru dan malah. Akan lebih baik jika digunakan salah satu saja menjadi

justru menjadi beban dan cibiran publik.

atau

malah menjadi beban dan cibiran publik.

3. …mereka minta agar Djalal-Kusen tidak menjadi bupatinya tim sukses saja…

-nya sebagai kata ganti milik orang ketiga tidak tepat digunakan pada susunan bupatinya tim sukses. Hal ini merupakan pengaruh dari bahasa Jawa bupatine tim sukses, bukune aku, dalam tata bahasa Jawa kata ganti milik /e/ yang disertai yang digantikan adalah benar. Tapi tidak begitu dengan bahasa Indonesia. Seharunya -nya dibuang menjadi

…meminta Djalal-Kusen tidak menjadi bupati tim sukses saja…

4. Betapa tidak, dengan kunjungan tersebut akan menambah semangat dan kepercayaan diri lebih besar dalam menghadapi MWBC 2010…

Kontaminasi di atas terbentuk ketika penulis akan menulisakan kalimat tersebut terlintas dalam ingatannya dua pengertian atau dua bentukan yang sejajar yang muncul sekaligus sehingga sebagian diambil dari bentukan pertama dan sebagian lain dari bentukan yang kedua.

Bentukan pertama yang mungkin muncul dalam pikiran penulis adalah:

Dengan dikunjungi (bupati) semangat dan kepercayaan diri menjadi lebih besar dalam menghadapi MWBC 2010…

Bentukan kedua adalah:

Kunjungan tersebut akan menambah semangat dan kepercayaan diri dalam menghadapi MWBC 2010…

Seharusnya dipilih salah satu saja dari kedua bentukan kalimat tersebut agar kalimat mudah dipahami oleh pembaca.

5. …memang banyak disebut-sebut melibatkan kalangan politisi dan akademisi.

Termasuk dalam Pleonasme karena adanya bentuk jamak yang dinyatakan dua kali. Seharusnya kata banyak dan disebut-sebut tidak digunakan semua. Cukup dipilih salah satu saja. disebut-sebut juga berarti disebut berulang-ulang yang juga berarti banyak disebut. Jadi, cukup ditulis

… memang disebut-sebut melibatkan…

atau jika tetap ingin tetap menggunaka kata banyak maka kata disebut tidak perlu diulang sehingga menjadi

… memang banyak disebut melibatkan…

6. Namun faktanya hanya beberapa gelintir saja politisi yang berhasil ditangkap…

Termasuk jenis Pleonasme ditandai adanya dua kata yang searti dalam sebuah kalimat. Kata hanya dan saja memiliki makna yang sama. Hanya diam memiliki arti yang sama dengan diam saja. Untuk mencegah gejala pleonasme atau berlebih-lebihan, hendaknya dipakai satu saja. menjadi

hanya beberapa gelintir politisi yang berhasil ditangkap

atau

beberapa gelintir saja politisi yang berhasil ditangkap.

F. Kesimpulan butuh diperbaiki

Gejala kontaminasi memang tidak banyak dalam mengubah makna informasi yang ingin disampaikan oleh penulis. Karena kesalahan yang tidak fatal terhadap makna inilah maka permasalahan ini tidak banyak mendapat perbaikan.

Koran sebagai elemen yang ikut mempertahankan eksistensi bahasa selayaknya selalu berusaha menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Selain koran juga merupakan objek pengukuran atau tolok ukur tentang penggunaan bahasa. Koran juga merupakan media yang dibaca oleh banyak orang. Pada kenyataanya, koran sebesar Radar Jember, koran terbesar se-Tapal Kuda (eks-karesidenan Besuki) masih terdapat bahasa-bahasa yang kurang tepat apalagi koran lain yang asal-asalan.

Kontaminasi yang terdapat dalam Selamat Pagi dalam Radar Jember umumnya adalah kontaminasi yang tidak merubah makna secara fatal. Tapi hal itu bisa menyulitkan pembaca untuk memahami isi bacaan.

H. Daftar Pustaka

Alwi, H et.al. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Putrayasa, Ida Bagus. 2009. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur dan Logika). Bandung: Refika Aditama

Ruskhan, Abdul Gaffar. 2007. Kompas Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo

Sugono, Dendy et.al. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: Gramedia

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s