Kelas Kata Nomina Bahasa Indonesia


Kelas Kata Bahasa Indonesia

“Nomina”

Oleh:

M Nasiruddin T J

1. Pengantar

Nomina adalah kategori yang secara sintaktis tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak dan tidak mempunyai potensi untuk didahului oleh pertikel dari.

Bentuk Nomima:

  1. Bentuk dasar: batu, kertas, mangga, kemarin, udara
  2. Bentuk turunan:
    1. Nomina berafiks: keuangan, perpaduan.
    2. Nomina redupliksi: tetamu, rumah-rumah, pepatah.
    3. Nomina hasil gabungan proses: batu-batuan (gabungan antara proses reduplikasi, batu-batu, dan afiksasi, [batu-batu] + [-an] → batu-batuan).
    4. Nomina bentukan dari kelas kata lain karena mengalami proses:
  1. i.      Deverbalisasi: permandian, penganggur.
  • Deverbal yang terjadi melalui afiksasi ber- berbeda bentuknya dari yang terjadi melalui afiksasi me-.

Mengajar – pengajar – pengajaran

Ajar

Belajar – pelajar – pelajaran

Namun, tidak semua pola morfologi bersifat simetris, seperti:

? – ? – ?

Jalan

Berjalan – pejalan – perjalanan

  1. ii.      Deajektivalisasi: ketinggian, leluhur.
  2. iii.      Denumeralisasi: kesatuan, kesebelasan.
  3. iv.      Deadverbialisasi: keterlaluan, kelebihan, kekurangan.
  4. v.      Penggabungan: tridarma.
  1. Nomina paduan leksem: daya juang, lari jauh, loncat indah, gerak langkah.
  2. Nomina paduan leksem gabungan: pengambilalihan, ketidakbenaran, ketatabahasaan.


2. Subkategorisasi

a. nomina bernyawa dan tak bernyawa.

Nomina bernyawa dapat disubstitusikan  dengan ia atau mereka, sedangkan yang tak bernyawa tidak dapat.

Harimurti Kridalaksana membagi nomina bernyawa menjadi nomina persona (insan) dan flora dan fauna. Nomina persona diartikan sebagai nomina yang memiliki ciri sintaktis dapat disubstitusikan dengan ia, dia, atau mereka dan dapat didahului partikel si. Sedangkan nomina  flora dan fauna memiliki ciri sintaktis tidak dpaat disubstitusikan dengan ia, dia atau mereka dan tidak dapat didahului pertikel si kecuali yang dipersonifikasikan.

Yang tergolong dalam nomina persona ialah:

1)      nama diri: Ismail Yusanto, Hilmi Aminuddin, Said Aqil Siradj, Din Syamsyuddin, Susilo Bambang Yudhoyono. Nama diri sebagai nama tidak dapat direduplikasikan. Bila direduplikasikan ia menjadi nomina kolektif.

2)      Nomina kekrabatan (hubungan darah): nenek, ibu, bapak, paman, kakak, adik.

3)      Nomina yang menyatakan orang atau yang diperlakukan sebagai orang: tuan, raksasa, malaikat, hantu.

4)      Nomina kelompok manusia: Jepang, Melayu, Minangkabau, Asmat.

5)      Nomina tak bernyawa yang dipersonifikasikan: DPR (nama lembaga).

Nomina tak bernyawa terbagi atas:

1)      nama lembaga: DPR, MPR, Mahkamah Konstitusi, KPK.

2)      Nama geografis: Bali, Jogja, Jawa Timur, hulu, utara, hilir.

3)      Waktu: Sabtu, Agustus, 1991, pukul 24, sekarang, dulu, nanti, besok, kemarin.

4)      Nama bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Jawa, Bahasa Ibrani.

5)      Ukuran atau takaran: Karung, Kardus, Kotak, Kilometer, Kiloliter, Kali.

6)      Tiruan bunyi: dentum, desing, gelegar, denting, kokok.

Menurut saya pembagian di atas terjadi kerancuan karena flora dan fauna dinyatakan memiliki ciri tidak bisa disubstitusikan dengan ia, dia atau mereka dan tidak bisa didahului partikel si kecuali yang dipersonifikasikan seperti si kancil, si kambing. Sedangkan ciri ini berlaku pula untuk contoh nomina tak bernyawa yang pertama, nama lembaga. Di satu sisi nama lembaga juga menjadi cotoh untuk nomina persona setelah dipersonifikasikan. Dilihat dari itu maka sebenarnya tidak ada bedanya antara nomina flora dan fauna dengan nomina tak bernyawa. Jadi, pembagian nomina bernyawa dan tidak bernyawa kurang pas. Lebih baik pembagiannya menggunakan istilah, ‘Nomina Persona’ dan ‘Nonpersona’.

Dengan pembagian yang seperti itu akan ada batas yang jelas, sehingga flora dan fauna dimasukkan ke dalam ‘Nonpersona’ karena memiliki ciri yang sama dengan nama lembaga.

b. nomina terbilang dan nomina tak terbilang

Yang dimaksud dengan nomina terbilang ialah nomina yang dapat dihitung dan dapat pula didampingi oleh numeralia: kantor, kampung, kandang, meja, kursi, buku, pensil, air, biji jagung (catatan: biji-bijian dan cairan serta tepung-tepungan harus dihitung dengan menggunakan takaran).

Nomina tak terbilang ialah nomina yang tidak dapat didampingi oleh numeralia seperti udara, kemanusian, kebersihan; termasuk juga nama diri: Gayus Tambunan dan nama geografis: Gaza, Palestina.

c. nomina kolektif dan bukan kolektif

nomina kolektif mempunyai ciri dapat disubstitusikan dengan mereka atau dapat diperinci ats anggota atau atas bagian-bagian. Nomina kolektif terdiri atas nomina dasar: tentara, keluarga dan nomina turunan: wangi-wangian, tepung-tepungan, biji-bijian.

Nomina bukan kolektif adalah nomina yang yang tidak dapat diperinci atas bagian-bagiannya: orang, Hatta Rajasa.

3. Pemakaian nomina

a. penggolong benda

dipakai bersama dengan numeralia untuk menandai kekhususan nomina tertentu. Orang adalah nomina penuh, sedangkan seorang dalam seorang manusia adalah penggolong untuk manusia.

Contoh penggolong benda:

Biji               carik                 keping                tangkai

Batang          cuplik               kuntum               teguk

Butir             helai                 potong                tetes

Buah            ekor                 papan                 suap

b. nomina tempat dan arah, seperti: kanan, depan, belakang, barat, timur, tengah.

c. nomina bunyi, seperti: denting, dentum, deru, deram, desis, dengung.

d. makian, seperti: anjing, monyet, setan (semua koleksi kebun binatang).

e. sapaan:

  • nomina diri: Mari ke sini, Pak Ali.
  • Nomina kekerabatan: Pak, apa maksudnya ini?
  • Gelar dan pangkat: Selamat pagi, Prof.
  • Kata pelaku yang berbentuk pe-/peN- + V: Pendengar yang terhormat.
  • Bentuk nomina + -ku: Tuhanku, ampunilah hamba.
  • Nomina lain: Yang Mulia mau ke mana?; ini topi Tuan.

f. takaran:

bidang            depa             iris                    teguk

bulir                gelas             karung              titik

canting            ikat               onggok             tusuk

g. ukuran: gram, liter, meter, inci.

h. nomina waktu: pagi, siang, sore, petang, malam, minggu, tahun, bulan, abad.

4. Nominalisasi

Proses nominalisasi adalah proses pembentukan nomina  yang berasal dari morfem atau kelas kata yang lain.

a. afiksasi

berdasarkan pada kemungkinan kombinasinya, nomina turuna dapat dibagi atas bentuk yang berafiks dengan:

1) nominalisasi dengan prefiks ke-, pe- (peN-) dan per-

Prefiks ke- dan per- sebagai pembentuk kata tidak lagi produktif. Hanya ada tiga kata yang dibentuk dengan ke- dan satu dengan per-: ketua, kekasih, kehendak dan pertapa.

Sebaliknya prefiks pe-/peN- yang membentuk nomina lewat prefiks me- sangat produktif, karena dapat ditempatkan pada berbagai dasar dan memiliki makna:

  • Orang yang melakukan (verba): pembicar, pelamar
  • Orang yang pekerjaannya melakukan (verba): penyanyi, pelatih, pelaut, petani
  • Orang yang (ajektiva): pemalas, pemuda
  • Orang yang menjadi (ajektiva): pemarah, pemabuk
  • Alat untuk (verba): penghapus, penggali, pengungkit

2) Nominalisasi dengan sufiks –an

Sufik –an dapat membentuk nomina dengan makna sebagai berikut:

  • Apa yang dikerjakan seseorang: anjuran, anggapan
  • Barang yang (ajektiva): manisan, asinan
  • Tempat orang (verba): pangkalan, parkiran, perkiraan
  • Kumpulan dari: lautan, sayuran

3) Nominalisasi dengan konfiks ke-an

Konfiks ke-an dapat membentuk nomina langsung dari kata dasar. Makna yang terbentuk:

  • Hasil dari (verba): kemenangan, kepergian, kedatangan
  • Dalam keadaan: kebimbangan, keberanian, kecepatan, kenaikan
  • Tempat: kementerian, kedutaan
  • Kumpulan: kepulauan, kepustakaan
  • Keabstrakan: kebangsaan, kerakyatan, kedaerahan

4) Nominalisasi dengan konfiks pe-an

Proses nominalisasi dengan pe-an sangat produktif. Proses ini diturunkan melalui prefiks me- dan memberi makna:

  • Melakukan perbuatan: pemeriksaan, pemberontakan, pengumuman
  • Hasil dari melakukan: penyelesaian, penghargaan

Nomina di atas berhubungan dengan verba meN- dengan atau tanpa akhiran –kan atau –i. Verba yang berhubungan dengan kelima nomina di atas ialah masing-masing: memeriksa,  memberontak, mengumumkan, menyelesaikan, menghargai.


5) Nominalisasi dengan konfiks per-an

Proses ini berlangsung melalui prefiks ber-. Morfem seperti juang, coba dan setuju hanya dapat diturunkan dengan konfiks per-an menjadi perjuangan, percobaan, persetujuan. Kita tidak mengenal bentuk-bentuk menjuang, penjuang. Kata perjuangan berasal dari kata berjuang, dan persetujuan dari bersetuju (yang sudah tidak lazim digunakan di Indonesia), sedangkan percobaan berasal dari kata bercoba yang tidak lazim lagi. Makna penurunan ini ialah:

  • Hasil dari (verba): pertanyaan, permintaan
  • Melakukan (verba): perlawanan, pergerakan
  • Hal yang berhubungan degan (kata dasar): perikanan, perkapalan, perkantoran

b. Proses nominalisasi dengan si dan sang

Nomina ini diperoleh bila kita menambahkan partikel si atau sang pada dasar, seperti: si kecil, si hitam.

c. Proses nominalisasi dengan yang

Dengan menambahkan yang di depan dasar, kita peroleh bentuk nomina seperti: yang cantik, yang manis.

 

 

Rujukan Buku:

Kridalaksana, Harimurti. 1990. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s